Tentang Kewajiban Mengqodha’ Puasa – Bagian 2

Tentang Kewajiban Mengqodha’ Puasa – Bagian 2

Masih dalam tentang puasa yaitu menahan diri dari sesuatu yang membatalkannya, satu hari lamannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat.

Adapun puasa mempunyai banyak macam, mulai dari puasa wajib, puasa sunah, puasa makruh, bahkan sampai puasa haram.

Puasa wajib salah satu contohnya yaitu puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan atau puasa bulan Ramadhan sendiri merupakan salah satu dari rukun islam.

Dalam puasa Ramadhan tentunya ada ketentuan-ketentuan salah satunya kewajiban menqodha’ puasa. Mengqodha’ puasa sudah dibahas diartikel sebelumnya, pada artikel ini akan membahas lanjutan dari artikel Sebelumnya ditulis.

Baca Juga:

Wajib fidyah satu mud dan qodho’ bagi orang hamil atau menyusui yang meninggalkan puasa karena mengkhawatirkan diri sang anak.

Wajib bagi orang yang menunda qodho’ Ramadhan hingga datang Ramadhan berikutnya tanpa ada udzur yang mengahruskan penundaan itu terjadi, sebagaimana orang yang masih mempunyai waktu senggang dari sakit dan bepergian secukup melaksanakan qadha’nya, membayar fidyah satu mud untuk satu hari qodho’ dari bulan Ramadhan setiap tahun.

Selanjutnya fidyah dilipatkan sejumlah berapa kali Ramadhan terlewati. Demikian menurut pendapat yang mu’tamad.

Tidak termasuk ucapanku “Tanpa ada udzur” yaitu jika penundaan qodho’ itu justru karena udzur, seperti terus menerus dalam bepergian atau sakit atau menyusui hingga masuk Ramadhan tahun depan.

Maka ia tidak dikenakan kewajiban fidyah selama udzur tersebut masih melintang walaupun sampai bertahun-tahun. Apabila menunda qodho’ Ramadhan hingga datang Ramadhan berikutnya padahal telah terdapat kemungkinan menunaikannya, lalu meninggal.

Baca Juga:

Maka dari harta peninggalannya dikeluarkan sebesar dua mud perhari qodho’, 1 mud untuk qodho’ puasa dan dan 1 mud lainnya untuk fidyah penundaannya bila tidak di qodho’kan oleh kerabat atau orang yang mendapat izinnya.

Kalaupun di qodho’kan, maka yang wajib hanya 1 mud perhari sebagai fidyah penundaannya saja.

Menurut qoul jadid asy-Syafi’I, bahwa tidak diperbolehkan mengqodho’ puasa orang yang telah meninggal tersebut secara mutlak, tapi cukup dikeluarkan dari harta peninggalan fidyah 1 mud perhari qodho’.

Demikian pula seperti ini diperlakukan untuk puasa nadzar dan kafarah. An-Nawawi sebagaimana segolongan ulama’ muhaqqiqin berpendapat membenarkan qoul qadim asy-Syafi’I yang menyatakan bahwa tidak ditentukan harus fidyah bagi orang yang meninggal.

Akan tetapi bagi walinya diperbolehkan melakukan qadha’ puasanya. Kemudian jika ia meninggalkan harta, maka wajib salah satunya (mengqodho’kan atau fidyah), kalau tidak maka sunah bagi sang wali melakukan salah satunya.

Fidyah-fidyah tersebut diberikan kepada fakir miskin dan fidyah seseorang boleh diberikan seluruhnya kepada hanya satu orang.

Selanjutnya ada pengetahuan tentang yang berkaitan dengan qodho’ mengqodho’. Barang siapa meninggal dunia dan masih mempunyai tanggungan sholat, ,aka tidak diwajibkan qodho’ atau fidyah.

Menurut pendapat sebagaimana segolongan ulama’ Mujtahidin, bahwa sholat tersebut diqodho’kan berdasarkan dalil hadits Bukhori dan lainnya.

Oleh karena itu, pendapat tersebut dipilih oleh segolongan ulama’ Imam (kita) dan bahkan as Subki sendiri melakukan pengqodho’an sholat untuk sebagian para kerabat beliau.

Ibnu Burhan menukil dari qoul qadim asy Syafi’I bahwa bagi sang wali berkewajiban mengqodho’kan sholat si mayat jika meninggalkan harta, sebagaimana juga mengqodho’kan puasanya.

Berdasarkan satu pendapat yang dipedomani oleh kebanyakan para Ashab Syafi’iyyah, bahwa bagi sang wali diperbolehkan membayar satu mud untuk fidyah satu sholat.

Baca Juga:

Al-Muhibbuth Thabari berkata bahwa “semua ibadah baik wajib atau sunah yang dikerjakan atas nama si mayat adalah bisa sampai kepadanya” . Dalam syarah al-Mukhtar, pengarang  dalam fathul mu’in mengemukakan menurut madzhab Ahlus Sunah, manusia dapat memperuntukkan pahala amal perbuatan dan shalatnya sendiri buat orang lain dan akan sampai kepadanya. (novia/kuliahislam)

Sumber:

Rasjid, Sulaiman. 2018. Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari. Fathul Mu’in. diterjemahkan oleh Hakim, Fikril & Abu Sholahuddin. 2014. Jawa Timur: Lirboyo Press