Tentang Kewajiban Mengqodha’ Puasa – Bagian 1

Tentang Kewajiban Mengqodha’ Puasa – Bagian 1

Puasa menurut bahasa artinya “menahan”. Sedangkan menurut syara’ adalah menahan diri dari segala yang membatalkan puasa dengan syarat-syarat yang sudah diterangkan sebelumnya.

Ibadah puasa turun perintah kefardhuannya pada bulan sya’ban tahun 2 Hijriyah. Puasa itu sendiri adalah termasuk di antara kekhususan umat islam, dan merupakan suatu ibadah yang telah maklum dalam agama secara pasti.

Dalam puasa selain membahas tentang rukun maupun syarat puasa, juga membahas tentang kewajiban mengqodho’ puasa.

Baca Juga:

Kewajiban mengqadha’ puasa wajib yang belum terpenuhi sekalipun karena udzur, misalnya puasa ramdhan atau nadzar atau kafarah yang belum bisa terpenuhi lantaran sakit atau bepergian atau tertinggal niatnya, haidl atau karena nifas.

Tidak wajib mengqodha sebab gila atau mabuk yang bukan akibat kesalahannya. Hal tersebut diterangkan dalam al Majmu’ “Sesungguhnya mengqadha’ puasa hari syak adalah wajib seketika, karena kewajiban menahan diri dari yang membatalkan puasa”.

Alasan Imam Nawawi tersebut oleh segolongan ulama’ dikomentari bahwa orang yang meninggalkan niat puasa wajib untuk menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa besertaan dengan hukum mengqodho’ tidak harus dengan seketika secara pasti.

Wajib menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa bagi orang yang batal puasa ramadhannya bukan puasa semacam nadzar dan qodho.

Bila dibatalkan tanpa ada udzur sakit atau bepergian, atau batalnya sebab kekeliruan yang dilakukan, seperti orang yang makan karena mengira waktu telah masuk malam, lupa niat atau orang yang berbuka di siang hari syak dan ternyata hari itu sudah masuk Ramadhan.

Baca Juga:

Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa ini semua wajib dilakukan, karena demi menghormati bulan suci Ramadhan.

Orang yang telah melakukan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa belum terhitung memenuhi puasa secara syara’, namun perbuatan tersebut akan mendapatkan pahala. Maka dari itu jika melakukan persetubuhan hukumnya dosa, namun tidak wajib kafarah.

Sunah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa bagi orang sakit yang sembuh di tengah hari, musafir yang telah tiba kembali di tengah hari dan orang yang haidl suci kembali ditengah hari.

Orang yang merusakkan puasanya dengan bersetubuh yang mana ia berdosa dengan persetubuhannya karena tujuan puasa tersebut. Dengan hal tersebut maka wajib mengqodho’ puasanya dan membayar kafarah dalam kelipatan berapa kali ia merusakkan puasanya.

Sekalipun yang ia rusak kemarin belum dilunasi kafarahnya. Kewajiban ini tidak berlaku bagi orang yang membatalkannya dengan onani atau makan.

Kafarah adalah memerdekakan seorang budak wanita mukminat dengan niat kafarah, kalau tidak kuat maka puasa dua bulan sambung menyambng dengan niat kafarah.

Kalau tidak mampu berpuasa karena sakit atau telah lanjut usia, maka memberi makan 60 orang fakir atau miskin dengan niat kafarah sebesar satu mud makanan pokok yang lumrah untuk setiap orang. Tidak boleh memberikan kafarah kepada orang yang ditanggung biaya hidupnya.

Baca Juga:

Wajib bagi orang yang meninggalkan puasa Ramadhan karena udzur yang tidak diharapkan selesainya, seperti lanjut usia atau sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh, maka memberikan satu mud makanan perhari sekalipun ia orang kaya, tanpa terkena kewajiban mengqodho’ sekalipun.

Setelah itu menjadi kuat berpuasa kembali, karena dikala itu ia tidak terkena beban ibadah puasa. Kewajiban fidyah satu mud tersebut adalah menjadi kewajiban awal bukan kewajiban sebagai ganti dari puasa. (novia/kuliahislam)

Sumber:

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari. Fathul Mu’in. diterjemahkan oleh Hakim, Fikril & Abu Sholahuddin. 2014. Jawa Timur: Lirboyo Press