Tentang Kesunahan Ab’adl Sholat dan Penyebab Sujud Sahwi – Bagian 3

Tentang Kesunahan Ab’adl Sholat dan Penyebab Sujud Sahwi – Bagian 3

Artikel ini masih membahas tentang sunah ab’adh dan penyebab sujud sahwi seperti tulisan yang sudah dibahas sebelumnya, namun pada tulisan ini akan membahas atau lebih fokus tentang penyebab sujud sahwi.

Sunah melakukan sujud sahwi sebab keraguan terhadap sholat yang dikerjakan dan berkemungkinan ada penambahan, sebab jikalau sholatnya tambah, maka fungsi sujud sahwi adalah untuk tambahan tersebut, dan jika tidak bertambah, maka untuk keraguan yang memastikan lemahnya niat.

Jikalau seseorang ragu misalkan apakah telah sholat tiga rakaat atau empat rakaat, maka kerjakan sholat satu rakaat lagi, karena hukum asalnya adalah belum mengerjakan dan melakukan sujud sahwi, walaupun keraguan tersebut hilang sebelum salam dengan ingatannya.

Orang yang bimbang tidak diperbolehkan untuk kembali mantap dengan pekerjaannya dengan sebuah praduga, ucapan orang lain atau pekerjaannya, walaupun mereka berjumlah banyak selama tidak mencapai jumlah yang mutawatir.

Baca Juga:

Sedangkan kasus yang tidak berkemungkinan ada tambahan seperti ragu di rakaat sholat yang berjumlah empat. Apakah telah mengerjakan tiga rakaat atau empat, lantas orang itu ingat sebelum berdiri menuju raka’at yang keempat bahwa ia masih mengerjakan tiga rakaat, maka orang tersebut tidak sunah sujud sahwi sebab apa yang telah dikerjakan besertaan adanya kebimbangan sudah pasti, mesti dikerjakan dengan segala bentuk perkiraan.

Jika ia ingat setelah berdiri menuju rakaat keempat, maka sunah untuk melakukan sujud sahwi sebab kebimbangan dalam penambahan saat berdiri menuju rakaat tersebut.

Disunahkan bagi seorang makmum untuk melakukan dua sujud sahwi (sebab kelupaan imam) yang suci dan imamnya imam walaupun kelupaan tersebut terjadi sebelum menjadi makmum (dan walaupun makmum memisahkan diri dengan imam) atau sholatnya imam batal setelah lupa (atau imam meninggalkan) sujud sahwi.

Hal tersebut dilakukan untuk menambahi kekurangan dari sholatnya imam, maka bagi makmum disunahkan sujud sahwi setelah salamnya imam.

Ketika imam melakukan sujud, maka wajib bagi seorang makmum masbuq dan muwafiq untuk mengikutinya, walaupun mereka tidak tahu bahwa imam lupa. Jika tidak mengikuti, maka sholatnya batal bila mereka tahu keharamannya dan sengaja.

Baca Juga:

Untuk makmum masbuq disunahkan mengulangi sujud sahwi diakhir sholatnya. (Tidak karena kelupaan) makmum (pada saat masih menjadi makmum dibelakang imam), maka lupa tersebut ditanggung oleh imam yang suci, bukan yang hadats dan yang terkena najis tersembunyi.

Berbeda dengan kelupaan makmum setelah salamnya imam, maka imam tidak dapat menanggungnya sebab hukum menjadi makmum telah berakhir.

Apabila seorang makmum menduga salamnya imam, lantas makmum salam, namun ternyata prasangkanya keliru atau salah, maka makmum wajib salam besertaan dengan imam dan tidak sunah melakukan sujud sahwi karena makmum lupa saat masih mengikuti imam.

Apabila seorang makmum ingat di dalam tasyahudnya telah menginggalkan rukun selain niat dan takbirotul ihram, atau ragu didalamnya, maka ia harus menambah satu rakaat setelah salamnya imam dan jangan sujud sahwi ketika ingat, karena lupa tersebut terjadi ketika menjadi makmum.

Jikalau makmum ragu di dalam menemukan rukuknya imam atau dalam menemukan shalat dengan imam secara sempurna atau kurang satu rakaat, maka makmum harus menambah satu rakaat dan melakukan sujud sahwi sebab adanya keraguan yang menyebabkan sujud sahwi terjadi setelah selesai menjadi makmum.

Baca Juga:

Kesunahan sujud sahwi akan berkahir jika kalau dengan sengaja melakukan salam walaupun waktu pemisahnya masih belum lama atau dengan lupa melakukan salam walaupun waktu pemisahnya masih belum lama atau dengan lupa melakukan salam, namun pemisahnya telah lama secara umumnya. (novia/kuliahislam)

Sumber:

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari. Fathul Mu’in. diterjemahkan oleh Hakim, Fikril & Abu Sholahuddin. 2014. Jawa Timur: Lirboyo Press.