Tahap-tahap Mengingkari Kemungkaran Dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Tahap-tahap Mengingkari Kemungkaran Dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Tahap-tahap Mengingkari Kemungkaran

Fase dalam menghilangkan kemungkaran bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, darajah al-inkar (kemampuan seseorang dalam ingkar). Maksudnya adalah derajat pengingkaran yang diwajibkan kepada seseorang akan dibedakan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Kedua, maratib al-inkar (urutan dalam melakukan pengingkaran). Maksudnya, dalam melakukan pengingkaran terdapat langkah-langkah yang harus dilalui. Jika kemungkaran bisa di atasi dengan langkah pertama, maka tidak boleh menggunakan langkah berikutnya.

Darajah al-Inkar (Derajat Kemampuan Ingkar)

Amar ma’ruf nahi munkar dilakukan harus sesuai dengan kemampuan. Rasulullah pernah mengucapkan ; “Jika seseorang dari kalian mendapati sebuah kemungkaran, hilangkanlah dengan tangannya, jika tidak mampu mak dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya. Ini batas minimal iman seseorang”. (HR. Muslim)

Baca Juga :

Arti hadis di atas menggambarkan bahwa kewajiban amar ma’ruf nahi munkar harus disesuaikan dengan kemampuan, melihat kenyataan bahwa kemampuan setiap individu berbeda-beda. Apabila seseorang mampu melakukan amar ma’ruf dengan tingkatan yang tinggi ia tidak boleh meninggalkannya dengan melakukan tingkat yang lebih rendah, sebab ia melalaikan kewajiban yang dibebabkan kepadanya.

Begitupan sebaliknya, jika ia hanya mampu melakukan dengan tingkatan yang rendah, tetapi ia melakukan tingkatan yang lebih tinggi, maka hal tersebut rawan menimbulkan fitnah, dan hal ini tentu hukumnya haram. Oleh karena itu, arus ada penjelasan pada fase di atas.

Pertama, inkar bi al-yad (ingkar dengan tangan), dalam arti menghilangkan kemungkaran dengan tindakan. Seperti menyita minuman keras yang sedang dikonsumsi, melepas cincin emas yang dipakai oelh seorang laki-laki, menghentikan seseorang yang melakukan suatu kejahatan, menyuruh orang yang meninggalkan kewajiban agama, dan menghentikan segala jenis kemungkaran yang sedang dilakukan.

Fase inkar bi al-yad merupakan fase tertinggi dalam amar ma’ruf nahi munkar, yang sangat rawan memicu konfrontasi, menimbulkan fitnah atau gejolak, dan mafsadat yang lebih besar. Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa tidak diperbolehkan bagi siapapun menghilangkan kemungkaran dengan timbulnya kemungkaran yang lebih besar. Seperti seseorang yang secara independen ingin melaukan pemotongan tangan terhadap pencuri, mencambuk peminum khamr, atau melaksanakan had. Karena jika hal tersebut dilakukan, maka setiap orang akan saling menyerang satu sama lain dan mereka mengatakan “kami berhak melakukan hal ini”. Hal ini tentu menimbulkan gejolak dan kerusakan. Maka dari itu, amar ma’ruf nahi munkar dengan tindakan harus dilimpahkan kepada pemerintah.

Baca Juga :

Kemudian, kewajiban bagi rakyat biasa jika melihat kemungkaran adalah menghilangkan semampunya dan sekira tindakannya akan menimbulkan konfrontasi maka ia tidak boleh meneruskan dan harus melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Bukan menindaknya sendiri secara independen. Karena hal tersebut rawan konflik dan gejolak.

Lantas, yang jadi pertanyaan, jika suatu kemungkaran telah dilaporkan kepada pihak yang berwajib tetapi belum juga ada tindakan nyata darinya, maka apakah rakyat biasa boleh angkat tangan untuk menghilangkan tindak kemungkaran tersebut ? menurut Ibnu Taimiyyah hal tersebut tidak bisa dibenrkan. Sebab, jika rakyat biasa menindak para pelaku kemungkaran maka akan rawan timbulnya fitnah. Atau menimbulkan efek buruk yang lebih besar. Hal tersebut tentu diharamkan dalam amar ma’ruf nahi munkar.

Maka, dalam hal ini kewajiban rakyat adalah hanya sebatas melaporkan kepada pemerintah untuk melakukan penindakan terhadap kemungkaran-kemungkaran yang terjadi. Bukan menindaknya sendiri. Kemudian, dalam melakukan inkar bi al-yad, seorang pelaku amar ma’ruf nahi munkar dilarang melakukan itlaf bi al-amwal (perusakan terhadap harta). Segala jenis perusakan haram dilakukan dalam amar ma’ruf nahi munkar kecuali pada hal-hal yang secara dzatiyyah merupakan kemungkaran. Seperti contoh, jika melenyapkan minuman keras bisa dilakukan tanpa menghancurkan botolnya, maka haram hukumnya menghancurkan botol. Berbeda dengan sesuatu yang secara dzatiyyah merupakan sebuah kemungkaran seperti alat al-malahi (seruling, kendang, dsb.) maka selain menghentikan penggunanya, jiga diwajibkan merubah alat tersebut sekira ia kehilangan fungsi aslinya.

Baca Juga :

Larangan melakukan itlaf disini tidak hanya diperuntukan bagi rakyat biasa tetapi juga bagi pemerintah. Akan tetapi khusus untuk pemerintah, ada celah untuk diperbolehkan melakukan itlaf jika memang terdapat suatu desakan yang mengharuskan untuk melakukannya. Seperti adanya maslahat yang lebih besar. Ini pun harus benar-benar dipertimbangkan oleh orang yang ahli dan sanggup menimbang antara efek positif da negatifnya.

Kedua, inkar bi al-lisan (ingkar dengan lisan), dalam arti menghilangkan kemungkaran dengan tutur kata dan ajakan. Kewajiban fase ini diperuntukan bagi orang yang tidak memiliki kuasa atau kemampuan untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar bi al-yad, entah tidak mampu secara fisik atau karena bisa menimbulkan fitnah. Fase ini diperuntukkan bagi orang yang memang memiliki kapasitas untuk ingkar dengan lisan, yakni para ulama. Fase ini memiliki tingkatan yang berbeda-beda sesuai dengan objeknya.

  • Memberi pengertian secara halus.

Seseorang yang melakukan kemungkaran terkadang disebabkan tidak adanya pengetahuan tentang hukum syariat yang andai ia tahu bahwa hal yang dilakukan itu merupakan sebuah kemungkaran, ia akan meninggalkannya. Maka, dalam memberi pengertian wajib dengan halus, ramah, dan sopan supaya ia mudah diterima dan tidak dimentahkan.

Dalam memberi pengertian pun dilarang sampai menyakiti (idza’) terhadap perasaan orang yang melakukan kemungkaran. Seperti yang diungkapkan Al-Ghazali bahwa memberi pengertian harus dengan cara yang ramah tanpa menimbulkan idza’. Sebab melakukan idza’ kepada sesama muslim adalah sebuah keharaman. Maka yang seharusnya ia menghilangkan kemungkaran, malah membuat kemungkaran baru.

  • Menghilangkan kemungkaran dengan nasehat dan mau’izhah

Jika kemungkaran dilakukan oleh seseorang yang telah mengetahui hukum agama maka diwajibkan bagi yang melihatnya untuk memberi nasihat. Dalam memberi nasihat, seseorang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar  harus memiliki niat dan tujuan  untuk memberi petunjuk serta mengharapkan yang terbaik bagi orang yang ia nasehati. Fase ini tidak dibuat untuk mengadili seseorang sebab kesalahannya. Dalam menasehati ia pun tidak boleh merasa paling benar sendiri dan menjatuhkan orang yang ia beri nasehat.

Yang perlu ditekankan lagi, bahwa dalam memberi nasehat wajib secara intern. Tidak boleh dilakukan di muka umum. Malakukan hal tersebut sama saja dengan memperlakukannya di hadapan publik. Hal itu jelas merupakan idza’ yang haram hukumnya.

  • Teguran keras

Hal ini dilakukan setelah cara-cara di atas tidak efektif. Akan tetapi hal ini harus dilakukan sesuai dengan aturan-aturan syariat. Tidak mengatakan sesuatu yang melebihi batas kebutuhan.

Ini adalah tingkatan terakhir dari fase menghilangkan kemungkaran dengan lisan.  Di bawah fase ini adalah fase terendah dari amar ma’ruf nahi munkar yakni ingkar dengan hati.

Ketiga, inkar bi al-qalbi (ingkar dengan hati). Maksudnya, seseorang yang tidak mampu menghilangkan kemungkaran entah dengan tindakan (bi al-yad) atau dengan ajakan (bi al-lisan) maka ia wajib untuk ingkar dengan hatinya. Dengan menunjukkan rasa tidak suka dan tidak rela terhadap perbuatan tersebut serta menghindarkan diri darinya. Fase diperuntukkan untuk orang awam yang tidak punya kuasa untuk ingkar dengan tindakan dan tidak memiliki kapasitas keilmuan untuk ingkar dengan lisan. Ini adalah titik terendak untuk menguji masih adakah keimanan seseorang, seperti potongan hadis berikut :

فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ , وَ ذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ

“Jika tidak mampu maka dengan hatinya. Ini batas minimal iman seseorang”. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Kritik Ideologi Radikal, Deradikalisasi doktrin keagamaan ekstrem dalam upaya meneguhkan Islam berwawasan kebangsaan. Lirboyo Press 2019