Sunan Gunung Jati Dalam Pendidikan Dan Pengembangan Keilmuan

Sunan Gunung Jati Dalam Pendidikan Dan Pengembangan Keilmuan

Pendidikan Dan Pengembangan Keilmuan

Kisah Syarif Hidayat menuntut ilmu diwarnai cerita-cerita absurd yang perlu penafsiran untuk mengetahui kebenaran historisnya. Dalam Sajarah Wali, Syarif Hidayat dikisahkan berguru kepada Syaikh Najmurini Kubro di Mekkah, mengambil tarekat Naqsabandiyah, tarekat istiqoi dan tarekat Syathariyah sampai mencapai makrifat sehingga Syarif Hidayat dianugerahi nama Madzkurallah.

Demikianlah kisah Syarif Hidayat berguru kepada Syaikh Najmurini Kubro yang disampaikan dalam pupuh IV bait 23-26 dalam langgam Kasmaran (Asmaradhana).

Setelah dirasa cukup menimba ilmu, Syarif Hidayat diperintah oleh gurunya, Syaikh Najmurini Kubro untuk mencari guru yang lain, yaitu kepada guru tarekat Syadzaliyyah kepada maulana bernama Syaikh Muhammad Athaillah yang berbangsa Iskandiyah, yang dipuja-puja oleh kaum beriman.

Baca Juga :

Syarif Hidayat pergi meninggalkan Mekkah menuju Syadzilah di utara, berguru tarekat Syadziliyah kepada Syaikh Athaillah, sampai memperoleh ilmu dzikir kepada Allah yang disebut Sigul Hirarya dan Tanarul al-Tarqu. Peristiwa ini di catat Sajarah Wali pada pupuh VII bait 1-7 dalam langgam Dandhanggula.

Setelah dinyatakan lulus berguru tarekat Syadziliyah, Syarif Hidayat yang dianugerahi nama baru Arematullah, diperintah gurunya untuk berguru lagi kepada Syaikh Datuk Sidiq di negeri Pasai, yaitu guru ruhani yang tidak lain adalah ayahanda Sunan Giri.

Kehadiran Syarif Hidayat ke Pasai disambut gembira Syaikh Datuk Muhammad Sidiq, kemudian ia diajari Tarekat Anfusiyah dan namanya diganti menjadi Abdul Jalil. Syarif Hidayat meminta penjelasan kepada sang guru tentang manjalani hidup dengan zuhud, kemudian sang guru memberi wejangan bahwa zuhud itu laku untuk sabar tawakal selamanya kepada Allah, dan selalu bersyukur atas nikmat-Nya yang agung. Tiga perkara yang diajarkan guru itulah yang menjadikan hidup bermanfaat untuk seluruh makhluk.

Setelah dinyatakan lulus oleh Syaikh Muhammad Sidiq, Syarif Hidayat diperintah oleh gurunya itu untuk pergi ke tanah Jawa, tepatnya di Karawang, menemui seorang wali bernama Syaikh Bentong. Saat Syarif Hidayat minta diwejangi sebagai murid, justru Syaikh Bentong yang ingin menjadi murid Syarif Hidayat.

Baca Juga :

Kemudian Syarif Hidayat ditunjuki guru ruhani yang masyhur disebut Syaikh Haji Jubah, tetapi Syaikh Haji Jubah juga menolak memberi wejangan Syarif Hidayat. Syaikh Haji Jubah menunjuk ke Kudus tempat Datuk Barul mengajar ilmu ruhani.

Syarif Hidayat pergi ke Kudus, ke kediaman Datuk Barul yang terapung di tengah laut. Lalu Syarif Hidayat menyampaikan keinginan untuk berbaiat Tarekat Jauziyah Madamakhidir kepada Datuk Barul yang menerimanya dengan sukacita. Setelah berhasil, Syarif Hidayat diganti namanya menjadi Wujudullah.

Setelah dinyatakan lulus, Syarif Hidayat diminta Datuk Barul untuk pergi ke Ampeldenta, untuk berguru kepada Sunan Ampel. Di Ampeldenta, Syarif Hidayat diterima Sunan Ampel dan dipersaudarakan dengan Sunan Bonang, Sunan Giri, serta Sunan Kalijaga. Setelah mendapat wejangan dari Sunan Ampel, Syarif Hidayat kemudian ditetapkan sebagai guru di Gunung Jati.

Dalam Serat Purwaka Caruban Nagari secara lebih ringkas menggambarkan perjalanan Syarif Hidayat menuntut ilmu dengan meninggalkan negerinya pada usia dua puluh tahun. Beliau dikisahkan berguru kepada sejumlah guru dengan nama mirip yang disebut dalam naskah Sajarah Wali seperti Syaikh Tajmuddin al-Kubri, Syaikh Ataullah Syadzili, dan Sayyid Ishak di Pasai yang masyhur pernah menjadi guru di Blambangan.

Baca Juga :

Setelah dari Pasai, Syarif Hidayat pergi ke Jawadwipa dan singgah di negeri Banten, di mana penduduk di sekitarnya sudah memeluk agama Islam karena telah diislamkan oleh Raden Rahmat Sunan Ampel.

Perjalanan Syarif Hidayat menuntut ilmu kepada beberapa orang guru sampai ia berguru kepada Sunan Ampel dan berkumpul dengan para wali, yang mendapat tugas untuk menyebarkan agama Islam di wilayah masing-masing, yang sebagian besar penduduknya masih memeluk agama Buddha-prawa itu digambarkan dalam Serat Purwaka Caruban Nagari pupuh 31-35. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto, Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *