Skala Prioritas Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Skala Prioritas Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Prioritas Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Salah satu prinsip terpenting dalam amar ma’ruf nahi mungkar adalah memprioritaskan kemaslahatan dengan tiadanya mafsadat atau akibat buruk dari proses amar ma’ruf nahi mungkar (dar’u al-mafasid muqaddam ‘ala jalb al-mashalih).

Oleh karena itu, syarat menghilangkan kemungkaran adalah tidak sampai menimbulkan kemungkaran lain entah itu sama kadar mungkarnya atau bahkan lebih besar. Jika dalam proses menghilangkan kemungkaran menuntut –baik secara langsung atau tidak- timbulnya kemungkaran lain maka kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar akan gugur, bahkan haram untuk melakukannya.

Imam Ghazali berkata : “Jika ia tau dengan hisbahnya maka kemungkaran akan hilang, namun tindakan itu menyebabkan kemungkaran baru yang dilakukan oleh orang lain, maka menurut pendapat azhhar haram melakukan pengingkaran (dengan hisbah). Sebab misi amar ma’ruf nahi mungkar adalah menghilangkan kemungkaran secara utuh.”

Baca Juga :

Imam Abdul Karim dalam kitab Ushul ad-Da’wah lebih memperjelas lagi : “Jika hisbah menimbulkan mafsadat yang lebih besar dari mafsadat yang dihilangkan, atau menghilangkan maslahat yang lebih besar dari maslahat yang hendak diperintahkan, maka hisbah tidak diperintahkan oleh syara’. Tidak diragukan lagi bahwa hal di atas harus disesuaikan dengan objek, situasi, dan kondisi. Maka wajib bagi pelaku hisbah untuk melihat dan menimbang efek positif dan negatif yang timbul dari hisbahnya. Setelah itu, baru ia boleh melakukan hisbah atau tidak”.

Dari dua statement di atas, amar ma’ruf nahi mungkar harus dilakukan sesuai syarat dan ketentuannya, juga harus dipertimbangkan efek yang timbul setelahnya, terutama efek negatifnya. Bahkan, Ibn Taimiyyah mengatakan jika mafsadat amar ma’ruf nahi mungkar lebih besar dari maslahatnya, maka amar ma’ruf nahi mungkar tidak lagi diperintahkan walaupun terdapat kewajiban yang ditinggalkan atau kemungkaran yang dilakukan. Sebab seorang mukmin diperintahkan oleh Allah SWT untuk bertaqwa dengan bergaul dengan sesama manusia. Bukan memberi hidayah pada mereka.

Baca Juga :

Tidak bisa dipungkiri, bahwa dalam amar ma’ruf nahi mungkar sendiri terdapat beberapa unsur yang di sisi lain juga termasuk kemungkaran. Di antaranya, apabila dalam amar ma’ruf nahi mungkar dipastikan ada unsur menyalahkan orang lain yang hal tersebut bisa menimbulkan idza’ (menyakiti) maka sudah tentu hal tersebut haram hukumnya. Selain itu juga, jika merasa dirinya sudah baik atau jika amar ma’ruf nahi mungkar dilakukan ditempat umum bisa menjadi taubikh (pelecehan) maka hal ini adalah sebuah kemungkaran juga dari satu sudut pandang. Akan tetapi, mendiamkan kemungkaran juga merupakan sebuah kemungkaran. Maka harus ditimbang lebih besar mana kemungkaran melakukan amar ma’ruf nahi mungkar atau kemungkaran meninggalkannya.

Salah satu akibat buruk yang harus dihindari dari amar ma’ruf nahi mungkar adalah pandangan khalayak umum, entah muslim atau nonmuslim, terhadap agama Islam. Jangan sampai amar ma’ruf nahi mungkar yang awalnya bertujuan memperjuangkan nilai-nilai luhur Islam, menjadi sebab timbulnya sebutan negatif kepada Islam sendiri. Allah SWT berfirman :

وَلَا تَسُبُّواْ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّواْ ٱللَّهَ عَدۡوَۢا بِغَيۡرِ عِلۡمٖۗ

Artinya : “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahua”. (QS. Al-An’am : 108)

Baca Juga :

Dalam Tafsir Munir menawarkan dua alternatif tafsiran untuk ayat di atas :

Pertama, janganlah kalian memaki para penyembah berhala karena mereka akan memaki Nabi Muhammad saw . sebab, setiap kali para sahabat memaki mereka dan sesembahannya, mereka balik membalas dengan memaki-maki Nabi saw.

Kedua, janganlah kalian memaki berhala-berhala orang kafir, sebab mereka akan memaki Allah SWT karena kebodohan mereka.

Dari dua tafsiran di atas, Allah melarang umat manusia untuk memaki-maki berhala atau penyembahnya sebab akan timbul sebuah mafsadat berupa cacian terhadap Allah dan rasul-Nya yang secara otomatis juga cacian terhadap agama Islam. Begitu pula dengan amar ma’ruf nahi mungkar. Tujuan awalnya yang mengajak untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan kemungkaran tidak boleh menjadi penyebab tercemarnya nama baik Islam, sehingga dakwah Islam menjadi terhambat karenanya. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Kritik Ideologi Radikal, Deradikalisasi doktrin keagamaan ekstrem dalam upaya meneguhkan Islam berwawasan kebangsaan. Lirboyo Press 2019