Sejarah Perjalanan Sunan Gunung Jati Dalam Berdakwah

Sejarah Perjalanan Sunan Gunung Jati Dalam Berdakwah

Dakwah Yang Dilakukan Oleh Sunan Gunung Jati

Usaha dakwah yang dilakukan oleh Syarif Hidayat sesuai tugasnya sebagai guru agama Islam, yang kemudian menjadi anggota wali mula-mula dilakukan di Gunung Sembung dengan memakai nama Sayyid Kamil.

Atas bantuan Haji Abdullah Iman alias Pangeran Cakrabuwana, Kuwu Caruban, Syarif Hidayat membuka pondok dan mengajarkan agama Islam kepada penduduk sekitar dan namanya disebut Maulana Jati atau Syaikh Jati. Tak lama kemudian, datanglah Ki Dipati Keling beserta sembilan puluh delapan orang pengiringnya, menjadi pengikut Syarif Hidayat.

Adapun salah satu strategi dakwah yang dilakukan Syarif Hidayat dalam memperkuat kedudukan, sekaligus memperluas hubungan dengan tokoh-tokoh berpengaruh di Cirebon adalah melalui pernikahan sebagaimana hal itu telah dicontohkan Nabi Muhammad Saw dan para sahabat.

Baca Juga :

Serat Purwaka Caruban Nagari, Babad Tjerbon, Nagarakretabhumi, Sadjarah Banten, dan Babad Tanah Sunda mencatat bahwa Syarif Hidayat Susushunan Gunung Jati menikahi tidak kurang dari enam orang perempuan sebagai istri.

Dikisahkan Syarif Hidayat menikah untuk kali pertama dengan Nyai Babadan putri Ki Gedeng Babadan, yang membuat pengaruhnya meluas dari Gunung Sembung hingga wilayah Babadan. Namun, sebelum dikaruniai putra, Nyai Babadan dikisahkan meninggal dunia.

Carita Purwaka Caruban Nagari menuturkan bahwa atas perkenan Pangeran Cakrabuwana, Syarif Hidayat dikisahkan diangkat menjadi tumenggung di Cirebon dengan gelar Susuhunan Jati, yang wilayah kekuasaannya meliputi Pesisir Sunda dan menjadi Panetep panatagama (pemimpin yang mengatur keagamaan) di bumi Sunda yang berkedudukan di Cirebon, menggantikan Syaikh Nurul Jati yang sudah wafat. Syarif Hidayat Susuhunan Jati tinggal di Kedhaton Pakungwati bersama Pangeran Cakrabuwana sebagai pelindungnya.

Wilayah Cirebon semula adalah bawahan Kerajaan Pakuan Pajajaran, yang berkewajiban membayar upeti tahunan berupa terasi dan garam. Namun, sejak Syarif Hidayat menjadi tumenggung Cirebon, ia menolak untuk membayar upeti kepada penguasa Pakuan Pajajaran. Tindakan itu diikuti para gede, penguasa daerah.

Akibat penolakan membayar upeti tersebut, Prabu Siliwangi mengutus tumenggung Jagabaya beserta enam puluh orang prajurit untuk datang ke Cirebon, menanyakan masalah penolakan membayar upeti tersebut. Namun, Tumenggung Jagabaya dan pasukannya tidak berani berperang melawan Susuhunan Jati, malahan memeluk Islam dan tidak kembali ke Pakuan Pajajaran. Kemudian mereka menjadi pengikut Susuhunan Jati. Tak lama kemudian, tersiar kabar bahwa Prabu Siliwangi mangkat. Seluruh raja bawahan di segenap penjuru negeri menangis sedih atas mangkatnya Sri Prabu Siliwangi yang mereka cintai.

Baca Juga :

Dalam naskah Babad Tjirebon bertulisan Arab pegon berbahasa Cirebon madya yang dialih-aksarakan oleh Pangeran Sulaiman Sulendraningrat, yang dinamai Babad Tanah Sunda, pada bagian bersubjudul Burak Pajajaran, menggambarkan secara agak berbeda bagaimana usaha Sunan Gunung Jati mengislamkan Maharaja Prabu Siliwangi (Sri Sang Ratu Dewata Wisesa).

Dikisahkan bahwa Sri Mangana (Pangeran Cakrabuwana) memberitahu Syarif Hidayat bahwa Maharaja Pajajaran Prabu Siliwangi telah mengutus enam puluh orang di bawah pimpinan Ki Jagabaya yang setelah sampai di Cirebon malah memeluk Islam. Karena itu, sudah waktunya Prabu Siliwangi diislamkan. Kemudian Sri Mangana beserta Syarif Hidayat pergi ke Keraton Pajajaran.

Ternyata, sebelum Sri Mangana dan Syarif Hidayat sampai ke Pakuwan Pajajaran, Prabu Siliwangi telah dipengaruhi oleh Ki Buyut Talibarat agar tidak memeluk Islam. Bahkan, suasana keraton dibikin menjadi seperti hutan belantara. Namun, pangeran Raja Sengara dan Prabu Siliwangi malah berkenan memeluk Islam, sedangkan patih Argatala dan pengikut raja yang lain enggan memeluk Islam. Adipati Siput dan pengikutnya juga enggan memeluk Islam. Mereka meninggalkan keraton dan tinggal di hutan belantara.

Bagian Burak Pajajaran ini secara deskriptif menggambarkan pula bagaimana putri Prabu Siliwangi yang bernama Dewi Balilayaran beserta suaminya, putra Raja Galuh, mendirikan kerajaan baru dengan ibukota di luar ibukota Pajajaran di Pakuwan. Raja kerajaan baru itu dikenal dengan sebutan Sunan Kabuaran.

Baca Juga :

Pada bagian Burak Pajajaran ini juga mencatat tentang delapan belas orang keluarga Prabu Siliwangi yang lari dari keraton Pakuan Pajajaran dan menjadi penguasa kecil di berbagai daerah, seperti Sunan Pajengan di Kuningan, Sunan Mayak di Taraju, Boros Ngora di Panjalu, Raden Thetel di Gunung Bandung, Raden Laweyan di Pasir Panjang, Sanghyang Pandahan di Ukur, Sanghyang Kartamana di Limbangan, Sanghyang Sogol di Maleber, Sanghyang Mayak di Cilutung, Dalem Narasinga di Kejaksan, Dalem Naya di Ender, Sunan Ranjam di Cihaur, Liman Sanjaya di Sundalarang, Prabu Sedanglumu di Selaherang, Sanghyang Jamsana di Batulayang, Sanghyang Tubur di Panembong, Sri Pohaci Putih di Kawali, dan Taji Malela di Sumedang. (ir/kuliahislam)

Baca Selanjutnya Ke Bagian 2 –> –> –>

Sumber : Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto, Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *