Sejarah Perjalanan Sunan Gunung Jati Dalam Berdakwah (2)

Sejarah Perjalanan Sunan Gunung Jati Dalam Berdakwah (2)

Dakwah Yang Dilakukan Oleh Sunan Gunung Jati

Lanjutan sebelumnya:

Pada saat Syarif Hidayat berdakwah di Gunung Sembung, beliau menjadi imam sekaligus guru mengaji, siang dan malam memberikan pelajaran dan nasehat kepada murid-muridnya. Dari pernikahannya dengan Nyai Kawunganten, lahir dua orang keturunan, yaitu Ratu Winaon yang menikah dengan Pangeran Atas Angin atau Pangeran Raja Laut. Putra kedua adalah Pangeran Sabakingkin, yang kelak menjadi sultan Banten bergelar Sultan Hasanuddin.

Syarif Hidayat dikisahkan menikahi pula seorang perempuan Cina bernama Ong Tien, yang menurut legenda adalah putri Kaisar Cina dari Dinasti Ming yang bernama Hong Gie. Karena putri kaisar, maka Ong Tien digelari Nyi Mas Rara Sumanding atau ada yang menyebut Putri Petis karena menurut cerita ia dianggap suka dengan petis.

Hasil pernikahan dengan putri Ong Tien, Syarif Hidayat dikaruniai seorang putra, tetapi meninggal sewaktu bayi. Tak lama setelah kematian bayinya, putri Ong Tien meninggal dunia. Syarif Hidayat kemudian menikahi Nyai Syarifah Baghdadi, adik Maulana Abdurrahman, yang dikenal sebagai Pangeran Panjunan. Dari pernikahan itu lahir dua orang putra, yaitu Pangeran Jayakelana yang menikah dengan Nyai Ratu Pembayun putri Raden Patah Sultan Demak dan Pangeran Bratakelana Gung-Anom yang menikah dengan Nyai Ratu Nyawa putri Raden Patah juga.

Baca Juga : Sejarah, Asal Usul Dan Nasab Sunan Ampel

Istri Syarif Hidayat yang lain adalah Nyai Tepasari, putri Ki Gedeng Tepasan (Adipati Tepasana), seorang pejabat Majapahit yang berkuasa di Tepasana, Lumajang. Dari pernikahan ini, lahir dua orang putra, yaitu Nyai Ratu Ayu yang menikah dengan Pangeran Sabrang Lor putra Raden Patah dan Pangeran Muhammad Arifin yang bergelar Pangeran Pasarean. Sementara dari pernikahan Syarif Hidayat dengan Nyi Mas Rarakerta putri Ki Gedeng Jatimerta, lahir seorang putra yang bernama Bung Cikal.

Kisah dakwah Islam yang dilakukan Syarif Hidayat, selain ditandai kisah pernikahan, pencarian ilmu, dan peperangan-peperangan, juga ditandai penggalangan kekuatan para tokoh yang dikenal memiliki kesaktian dan kekuatan politik serta kekuatan bersenjata.

Diantara tokoh yang masyhur kedigdayaannya dan memiliki kekuatan bersenjata yang menjadi pengikut Syarif Hidayat adalah Ki Dipati Keling, Nyimas Gandasari alias Nyimas Panguragan, Pangeran Karangkendal, Pangeran Panjunan, Pangeran Sukalila, dan terutama mertuanya sendiri Pangeran Cakrabuwana yang menjadi Raja Cirebon dengan gelar Sri Mangana.

Kekuatan bersenjata dan tokoh-tokoh digdaya yang digalang Syarif Hidayat itu menunjukkan hasil yang mengejutkan sewaktu kekuatan umat Islam di Cirebon diserbu oleh pasukan Raja Galuh, yang berakhir dengan kemenangan pihak Cirebon.

Baca Juga : Sejarah, Asal Usul Dan Nasab Sunan Bonang

Dengan takluknya Raja Galuh, dakwah Islam seketika berkembang pesat di bekas wilayah yang takluk tersebut. Sebab, takluknya Prabu Cakraningrat Raja Kerajaan Raja Galuh oleh Pangeran Karang Kendal yang dibantu Raja Cirebon Sri Mangana, telah menurunkan mental dan semangat tempur pasukan Raja Galuh. Akibatnya, bukan hanya keluarga raja dan para pejabat tinggi Raja Galuh yang memeluk Islam, melainkan rakyat di berbagai penjuru negeri Raja Galuh pun beramai-ramai memeluk Islam.

Setelah Raja Galuh takluk dan raja Prabu Cakraningrat dikisahkan menghilang tak diketahui kemana larinya, giliran berikutnya adalah kerajaan-kerajaan sekitar Cirebon. Carita Purwaka Caruban Nagari dan Babad Tjerbon menuturkan bahwa tidak lama setelah jatuhnya Raja Galuh, Raja Indramayu yang bernama Arya Wiralodra dengan gelar Prabu Indrawijaya, menyatakan takluk kepada kekuasaan Cirebon.

Keberhasilan Syarif Hidayat menegakkan kekuasaan Islam di Cirebon dan sekitarnya, memberikan tidak saja keleluasaan dakwah Islam di bumi Sunda, melainkan telah menjadikan keraton sebagai pusat kesenian dan kebudayaan yang bernuansa agama sehingga menjadikan gerakan dakwah Islam dengan cepat meluas hingga keseluruh pelosok wilayah Pasundan.

Dengan semakin kuatnya kekuasaan Keraton Cirebon dan Banten, yang gencar menyebarkan dakwah Islam, sisa-sisa kekuasaan Raja Sunda semakin lama semakin lemah, di mana pada era Sultan Maulana Yusuf, cucu Syarif Hidayat Sunan Gunung Jati, menaiki tahta Banten, dilakukan penuntasan penkalukan atas sisa-sisa kekuasaan Kerajaan Pajajaran pada tahun 1575 M.

Baca Juga : Sejarah, Asal Usul Dan Nasab Sunan Kalijaga

Demikianlah, melalui Keraton Cirebon dan Banten, berbagai gerakan dakwah melalui pengembangan seni dan budaya dilakukan secara persuasif dan sistematis, dimana unsur-unsur Hindu-Buddhisme lama tidak dihilangkang, melainkan dipadukan secara harmonis dengan ajaran Islam, yang menjadikan Islam dianut oleh hampir seluruh penduduk bumi Pasundan. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto, Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *