Perjalanan Dakwah Syaikh Siti Jenar (5)

Perjalanan Dakwah Syaikh Siti Jenar (5)

Ajaran Syaikh Siti Jenar Yang Dianggap Menyimpang

Lanjutan Sebelumnya :

Dalam Serat Seh Siti Jenar (1917), akibat ajarannya yang dianggap menyimpang, Syaikh Lemah Abang kemudian dijatuhi hukuman mati. Di dalam Babad Purwaredja dan Serat Niti Mani, Syaikh Lemah Abang juga dikisahkan dihukum mati karena ajarannya dinilai menyimpang. Dalam Babad Tjerbon, Syaikh Lemah Abang dikisahkan dihukum mati oleh Sunan Kudus dengan keris Kanta Naga, yang dipinjam dari Sunan Gunung Jati.

Sementara itu, dalam Serat Siti Jenar (1922), diungkapkan bahwa Syaikh Lemah Abang dihukum mati bukan karena ajaran manunggaling kawula-Gusti yang dianggap sesat, melainkan karena kesalahannya mengajarkan ajaran rahasia itu kepada masyarakat umum secara terbuka, sebagaimana diungkapkan dalam dialog antara Syaikh Lemah Abang dengan Sunan Giri dalam Serat Siti Djenar sebagai berikut:

Syaikh Siti Jenar berujar, “Untuk apa kita membuat bingung, mempersulit ilmu”. Sunan Giri lantas menyela, “Benar apa yang telah anda katakan, tetapi itu merupakan kesalahan yang lebih besar, karena telah berani membuka ilmu rahasia dengan tidak sepantasnya. Hakikat Tuhan diajarkan langsung tanpa ditutup-tutupi. Itu tindakan kurang bijaksana. Seharusnya ilmu itu hanya diberikan kepada mereka yang telah matang ilmunya dan tidak kepada setiap orang”.

Baca Juga : 

Para wali tidak menemukan kesalahan teologi dalam ajaran sasahidan yang diajarkan Syaikh Lemah Abang. Dasar ajaran sasahidan itu tampaknya berkaitan dengan ajaran tasawuf al-Hallaj dan Ibnu Araby, yaitu ajaran yang didasarkan pada keyakinan bahwa di dalam diri manusia sebagai ciptaan (khalq) tersembunyi anasir Yang Ilahi (Haqq).

Ajaran itu didasarkan pada dalil yang menyatakan bahwa Allah telah meniupkan sebagian ruh-Nya ke dalam diri manusia pertama (Adam) yang dicipta dari tanah. Sebagaimana dalam QS. Shad ayat 72 sebagai berikut :

فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ٧٢

“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”. (QS. Shad ayat 72)

Ruh Ilahi dalam diri Adam itulah yang dalam tasawuf, yang diajarkan Syaikh Lemah Abang disebut sebagai Ruh al-Haqq, yang menjadi penyebab seluruh malaikat bersujud kepada Adam. Dalam hadis Qudsy, disebutkan bahwa Allah Swt berfirman,

ما وسعنى أرضى ولاسمائى ولكن وسعنى قلب عبدى المؤمن

Aku tidak mungkin berada di langit dan bumi-Ku, tetapi Aku bisa berada di dalam qalbu hamba-Ku yang beriman”.

Baca Juga : 

Hadis ini menunjukkan keberadaan anasir Yang Ilahi di dalam ciptaan. Bahkan, sebutan Prabu Satmata yang menunjuk kepada sebutan Yang Ilahi -yang dihubungkan dengan ajaran al-Hallaj tentang “Ana al-Haqq” yang dianggap sesat- dalam kenyataan justru merupakan gelar formal yang disandang Sunan Giri.

Sementara itu, menurut para pengikut Tarekat Akmaliyah, guru ruhani mereka Syaikh Lemah Abang yang bernama pribadi Syaikh Abdul Jalil tidaklah dibunuh oleh Wali Songo, melainkan ajarannya saja yang ‘dibunuh’ dan tidak boleh disebarluaskan.

Kontroversi tentang bagaimana Syaikh Lemah Abang dibunuh, sampai saat ini belum jelas karena masing-masing sumber berada satu sama lain. Historiografi Cirebon menunjuk bahwa Syaikh Lemah Abang diadili dan dihukum bunuh di Masjid Sang Cipta Rasa di Keraton Kasepuhan. Setelah dikubur di area pemakaman Anggaraksa, kuburnya dibingkar dan diganti anjing tetapi mayatnya berubah menjadi sekuntum melati, sehingga area makam itu disebut Pamlaten.

Dalam Historiografi Jawa Tengah, menuturkan Syaikh Lemah Abang diadili di Masjid Demak dan dieksekusi di masjid tersebut. Mayatnya juga dikisahkan diganti dengan bangkai anjing. Di tengah kontroversi itu, sumber dari Keraton Kanoman Cirebon menyebutkan bahwa para pengikut Syaikh Lemah Abang asal Pengging yang dikejar-kejar Sultan Demak, sengaja dilindungi oleh Sunan Gunung Jati dengan disembunyikan di sebuah perkampungan yang disebut Kasunean (persembunyian), yaitu sebuah tempat di kota Cirebon.

Baca Juga : 

Berbagai kontroversi tentang ajaran maupun di mana dan bagaimana Syaikh Lemah Abang dieksekusi dan dikuburkan, menjadikan tokoh penyebar Islam yang juga anggota Wali Songo itu tidak diketahui pasti letak kuburnya.

Sebagian menyatakan makam Syaikh Lemah Abang di Cirebon. Yang lain menyatakan di Mantingan, Jawa Tengah, dan ada pula yang menyatakan di Jepara. Bahkan, belakangan ada yang menyatakan di Tuban. Wallahu A’lam. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto, Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah.