Penjelasan Tentang Hubungan antara Babi Haram Dikonsumsi dengan Kesehatan Manusia

Penjelasan Tentang Hubungan antara Babi Haram Dikonsumsi dengan Kesehatan Manusia

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah atau peraturan atau kewajiban dan larangan yang sudah ditentukan oleh kepercayaan tersebut yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Sebagian orang apabila ditanya tentang agama maka jawabannya adalah pegangan hidup yang dianutnya yang memberikan kedamaian (Baharuddin, 2013: 73).

Indonesia merupakan negara pluralitas dan salah satunya dalam hal agama. Terdapat lebih dari lima agama yang dianut oleh masyarakan Indonesia salah satunya agama Islam.

Islam mempunyai makna dasar yaitu selamat atau patuh. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenai satu segi tetapi mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia.

Sumber dari ajaran-ajaran yang mengandung berbagai aspek tersebut adalah al-qur’an dan Hadis (Baso, 2013: 129). Ajaran dalam islam diantaranya adalah dilarang memakan yang diharamkan seperti diharamkannya memakan daging babi, hal tersebut sudah dijelaskan dalam al-qur’an surat al-an’am ayat 145.

Ajaran atau peraturan dalam agama islam khususnya yang berupa larangan, tentunya mempunyai alasan yang harus dicari dengan mempelajari ilmu pengetahuan yang sudah ada. Salah satunya adalah ilmu pengetahuan sains (biologi).

Ilmu pengetahuan sains (biologi) merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang kehidupan dan interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungan (Enger & Rose, 2002: 11).

Materi yang dikaji diantaranya tentang parasit yang merugikan makhluk hidup lain seperti parasit cacing pita (Taenia solium) yang bersarang di otot babi sehingga menginfeksi manusia yang memakan daging babi tersebut.

Hal tersebut dapat diketahui bahwa secara tidak langsung ilmu pengetahuan sains (biologi) dan agama islam saling berkaitan. Menurut Muzaffar dalam Iis (2016) menyatakan bahwa saat ini keterkaitan atau integrasi antara agama dan sains adalah sesuatu yang mungkin terjadi.

  1. Larangan daging babi untuk dikonsumsi dalam islam

Agama islam telah mengharamkan atau melarang umatnya mengonsumsi daging babi, hal tersebut sudah dijelaskan dalam Q.S Al-An’am ayat 145 yang berbunyi sebagai berikut:

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا

مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ

 وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ.

Artinya: Katakanlah, “Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi karena semua itu kotor atau hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah. Tetapi barang siapa terpaksa bukan karena menginginkan dan tidak melebihi (batas darurat) maka sungguh, Tuhanmu Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S. Al an’am: 145).

Selain ayat tersebut, terdapat juga ayat al-qur’an lainnya yang menjelaskan diharamkannya daging babi antara lain surat al-maida ayat 3 dan surat al-baqoroh ayat 173.

Ayat al-qur’an dan terjemahan diatas sudah cukup menjelaskan bahwa daging babi haram atau dilarang untuk dikonsumsi. Adapun tafsir dari qurasy shihab yaitu diharamkannya makan daging babi dengan alasan bahwa daging tersebut kotor dan najis.

Baca Juga:

Babi termasuk binatang pemakan segala (omnivora) baik yang sudah mati atau busuk bahkan kotoran manusia maupun hewan. Maka dari itu babi mudah menjangkit penyakit yang dapat ditularkan kepada manusia.

  1. Babi dalam ilmu sains (Biologi)

Babi merupakan hewan mamalia dan bersifat omnivora atau pemakan segala mulai dari daging sampai tumbuhan.

Babi menjadi inang perantara bagi perkembangan atau siklus hidup hewan parasit seperti cacing pita (Taenia solium) cacing tersebut masuk kedalam hewan invertebrata (tidak mempunyai tulang belakang) dalam kelompok filum Platyhelminthes kelas cestoida.

Siklus hidup Taenia solium yaitu feses yang terkontaminasi telur atau proglotid yang menyebar kelingkungan seperti ke tanaman dimakan oleh babi, setelah itu telur cacing pita (Taenia solium) berkembang menjadi larva yang membentuk kista (onkosfer) di dalam otot-otot (daging) babi.

Manusia tertular larva melalui konsumsi daging yang tidak dimasak dengan baik dan akhirnya terkontaminasi dengan kista dan cacing yang akan berkembang menjadi dewasa didalam tubuh manusia (Campbell: 2018).

Babi diketahui tidak hanya terkontaminasi oleh cacing pita saja, akan tetapi juga terkontaminasi oleh hewan-hewan maupun protozoa yang bersifat parasit lainnya.

Hal tersebut dibuktikan dengan adanya penelitian endoparasit pada feses babi kutil (Sus verrucosus) oleh Kartika dan Nugroho (2007), hasil dari penelitian dari tujuh ekor babi kutil tersebut hanya ada satu babi kutil yang fesenya tidak terkontaminasi oleh endoparasit, adapun enam lainnya terkontaminasi.

Endoparasit yang ditemukan dalam babi kutil tersebut antra lain telur Ascaris sp (cacing gelang)., Oesophagostomum sp (cacing pembentuk nodul pada bagian usus)., oosit dari Eimiria sp (protozoa)., bentuk trofosit dan kista dari Balantidium coli (protozoa).

Apabila manusia mengkonsumsi daging babi yang sudah terkontaminasi oleh parasit-parasit tersebut maka manusia akan mengalami infeksi penyakit seperti diare dan lain sebagainya.

  1. Hubungan Haramnya Babi untuk dikonsumsi dan Kesehatan Manusia

Babi merupakan salah satu hewan yang diharamkan untuk dikonsumsi karena dalam al qur’an dijelaskan daging babi bersifat kotor dan najis.

Sedangkan dalam ilmu biologi babi merupakan hewan yang mudah terinfeksi dengan parasit, selain itu babi juga terkenal sebagai hewan yang rakus karena mereka memakan apapun yang ada dihadapanya termasuk kotorannya sendiri.

Babi juga merupakan hewan yang digunakan sebagai perantara perkembangan atau siklus hidup parasit cacing pita (Taenia solium).

Demikian dapat diketahui dengan jelas bahwa islam melarang umatnya mengkonsumsi daging babi karena babi bersifat najis dan kotor atau pembawa penyakit, dan mudah terkontaminasi atau terinfeksi oleh parasit yang membahayakan kesehatan manusia.

Seperti Ascaris sp (cacing gelang), Oesophagostomum sp (cacing pembentuk nodul pada bagian usus), oosit dari Eimiria sp (protozoa)., bentuk trofosit dan kista dari Balantidium coli (protozoa). (novia/kuliahislam).

Baca Juga:

SUMBER:

Arifudin, Iis. 2016. Integrasi Sains dan Agama serta Implikasinya terhadap Pendidikan Islam. Edukasi Islamika. 1: 1.

Awaludin, Latief, M. Abdurahman, & Yusuf Baharuddin. 2010. Ummul Mukminin (Al qur’an dan Terjemahan untuk Wanita). Jakarta Selatan: Wali.

Baharuddin. 2013. Relasi antara Science dengan Agama. Seminar Nasional.

Campbell, Neil, Reece Jane, Lisa A Urry, Michael L Cain, Steven A Wassermen, Peter V Minorsky, & Robert B Jackson. 2008. Biology eigh edition. United Stated. California.

Dewi Kartika & R.T.P. Nugraha. 2007. Endoparasit pada Feses Babi Kutil (Sus verrucosus) dan Prevalensinya yang Berada di Kebun Binatang Surabaya. Jurnal Fauna Tropika. 16: 1.

Enger & Rose. 2002. Concepts in Biology. McGraw-Hill. Companies.

Hasyim Baso. 2013. Islam dan Ilmu Pengetahuan (Pengaruh Temuan Sains terhadap Perubahan Islam). Jurnal Dakwah Tabligh. 14: 1.

Risalatul Fiqih oleh K. Ahsan Sholih. Jepara (Ponpes Al Ishlah Al Ishom).

Syaikh Abi Syuja’. Fath al Qarib.diterjemahkan oleh Fauzi Hamzah Ayams & Tohari Muslim. 2018. Jawa Timur: Anfa’ Press

Tafsir al qur’an qurasy shihab.