Pendidikan Dan Pengembangan Keilmuan Sunan Muria

Pendidikan Dan Pengembangan Keilmuan Sunan Muria

Kisah-Kisah Perjalanan Hidup Sunan Muria

Dibanding Sunan Kudus dalam kisah menuntut dan mengembangkan keilmuan, Raden Umar Said kisah-kisahnya tidak didukung sumber tertulis.

Jejak Raden Umar Said menuntut ilmu pengetahuan, lebih didasarkan kepada cerita-cerita lisan bersifat legendaris. Namun, dari cerita-cerita legenda itu, terdapat kemiripan antara kisah Sunan Muria dengan kisah Sunan Kalijaga dalam mendalami keilmuan. Misalnya, kisah Sunan Kalijaga yang dituturkan telah bersemedi di pinggir sungai selama bertahun-tahun sampai tubuhnya ditumbuhi semak-belukar, demikianlah Sunan Muria dikisahkan telah melakukan Tapa Ngeli (bersemadi dengan menghanyutkan diri di sungai).

Dalam kisah Tapa Ngeli yang dilakukan Sunan Muria mengingatkan pada kisah pewayangan lakon Dewa Ruci yang paling sering dipergelarkan oleh Sunan Kalijaga. Meskipun kisah asli Dewa Ruci diambil dari naskah kuno Nawa Ruci gubahan Empu Syiwamurti pada masa akhir Majapahit, namun masyarakat lebih mengenal Sunan Kalijaga sebagai tokoh yang mempopulerkan cerita tersebut karena ditampilkan dalam bentuk pertunjukan wayang.

Baca Juga :

Inti kisah Nawa Ruci menuturkan perjalanan ruhani tokoh Bhima (yang kuat), yang juga memiliki nama Wrekodhara (serigala), yang masuk ke Lawana-udadhi (samuderanya samudera) yang luas tanpa batas. Dan, di kedalaman Lawana-udadhi Bhima bertemu dengan Sang Hyang Murti Nawa Ruci yang memberikan wejangan tentang kebenaran hakiki.

Kelebihan Sunan Kalijaga dalam mengupas falsafah kisah Nawa Ruci yang menggunakan term-term hindustik ke dalam term-term islami -seperti Wrekodhara (serigala), yang dimaknai sama dengan nafs hayawaniyah, Lawana-udadhi (samuderanya samudera) dimaknai dengan bahrul wujud– sehingga membuat kisah Nawa Ruci atau Dewa Ruci sangat digemari umat islam.

Dalam konteks keilmuan, dapat ditafsirkan bahwa Sunan Muria mempelajari ilmu pengetahuan agama maupun cara-cara dakwah dari ayahandanya sendiri, yaitu Sunan Kalijaga. Namun ada juga sumber cerita lisan tentang “Maling Kapa” yang salah satu bagiannya menuturkan bahwa Sunan Muria pernah berguru kepada Sunan Ngerang (Ki Ageng Ngerang) bersama-sama dengan Sunan Kudus dan Adipati Pathak Warak serta dua bersaudara Kapa dan Gentiri.

Baca Juga :

Selama berguru kepada Sunan Ngerang, dikisahkan bahwa suatu saat Sunan Ngerang mengadakan syukuran untuk putrinya, Dewi Roroyono yang usianya genap dua puluh tahun. Para murid seperti Sunan Muria, Sunan Kudus, Adipati Pathak Warak dari Mandalika Jepara, Kapa dan adiknya, Gentiri, diundang untuk hadir.

Ketika Dewi Roroyono dan adiknya, Roro Pujiwati, keluar menghidangkan makanan dan minuman, hati Adipati Pathak Warak terpesona oleh kecantikan putri gurunya itu. Ia memandang Dewi Roroyono dengan mata tidak berkedip. Putri Sunan Ngerang itu telah membuat Adipati Pathak Warak tergila-gila dan melakukan tindakan tidak pantas terhadap putri gurunya itu. Bahkan, pada malam hari, Dewi Roroyono dibawa lari ke Mandalika.

Sewaktu Sunan Ngerang mengetahui bahwa putrinya diculik oleh Adipati Pathak Warak, ia berfikir akan menikahkan putrinya itu dengan siapa saja yang berhasil membawanya kembali.

Baca Juga :

Setelah melalui berbagai rintangan yang berat, termasuk melumpuhkan Adipati Pathak Warak, membinasakan Kapa dan Gentiri yang berkhianat, Raden Umar Said berhasil membawa kembali Dewi Roroyono. Kemudian Sunan Ngerang menjodohkan putrinya, Dewi Roroyono dengan Raden Umar Said (Sunan Muria).

Bertolak dari kisah perkawinan Sunan Muria dengan Dewi Roroyono, putri Sunan Ngerang, diketahui bahwa selain menjadi menantu Sunan Ngudung karena menikah dengan Dewi Sujinah putri Sunan Ngudung, Sunan Muria juga merupakan menantu Sunan Ngerang. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto, Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah.