Nisab Zakat Emas

Nisab Zakat Emas

Nishab zakat emas dan perak

Zakat Emas

‏( ﻓﺼﻞ ﻭﻧﺼﺎﺏ ﺍﻟﺬﻫﺐ ﻋﺸﺮﻭﻥ ﻣﺜﻘﺎلا ‏) ﺗﺤﺪﻳﺪﺍ ﺑﻮﺯﻥ ﻣﻜﺔ ﻭﺍﻟﻤﺜﻘﺎﻝ ﺩﺭﻫﻢ ﻭثلاﺛﺔ ﺃﺳﺒﺎﻉ ﺩﺭﻫﻢ‏( ﻭﻓﻴﻪ ‏) ﺃﻱ ﻧﺼﺎﺏ ﺍﻟﺬﻫﺐ ‏( ﺭﺑﻊ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﻭﻫﻮ ﻧﺼﻒ ﻣﺜﻘﺎﻝ ﻭﻓﻴﻤﺎ ﺯﺍﺩ ‏) ﻋﻠﻰ ﻋﺸﺮﻳﻦ ﻣﺜﻘﺎلا ‏( ﺑﺤﺴﺎﺑﻪ ‏) ﻭﺇﻥ ﻗﻞ ﺍﻟﺰﺍﺋﺪ

Nishab emas adalah dua puluh mitsqal dengan hitungan secara pasti dengan timbangan negara Makkah. Satu mitsqal ialah satu lebih tiga sepertujuh dirham.

Dalam satu nishab emas wajib mengeluarkan zakat seperempat sepersepuluh dari keseluruhan jumlah emas. Yaitu setengah mitsqal.

Dan dalam jumlah emas yang lebih dari dua puluh misqal, maka nishabnya sesuai dengan presentasenya walaupun lebihannya hanya sedikit.

Baca juga : nisab zakat hasil pertanian dan buah-buahan

Zakat Perak

‏( ﻭﻧﺼﺎﺏ ﺍﻟﻮﺭﻕ ‏) ﺑﻜﺴﺮ ﺍﻟﺮﺍﺀ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻔﻀﺔ ‏( ﻣﺎﺋﺘﺎ ﺩﺭﻫﻢ ﻭﻓﻴﻪ ﺭﺑﻊ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﻭﻫﻮ ﺧﻤﺴﺔ ﺩﺭﺍﻫﻢ ﻭﻓﻴﻤﺎ ﺯﺍﺩ ‏) ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺎﺋﺘﻴﻦ ‏( ﺑﺤﺴﺎﺑﻪ ‏) ﻭﺇﻥ ﻗﻞ ﺍﻟﺰﺍﺋﺪ ﻭلا ﺷﻴﺊ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻐﺸﻮﺵ ﻣﻦ ﺫﻫﺐ ﺃﻭ ﻓﻀﺔ ﺣﺘﻰ ﻳﺒﻠﻎ ﺧﺎﻟﺼﻪ ﻧﺼﺎﺑﺎ

Nishabnya wariq , dengan dibaca kasrah huruf ra’nya, adalah dua ratus dirham. Wariq adalah perak.

Dalam nishab ini wajib mengeluarkan seperempat sepersepuluh dari jumlah keseluruhan, yaitu lima dirham.

Dalam lebihan dari dua ratus dirham, wajib mengeluarkan kadar sesuai dengan hitungannya, walaupun tambahannya hanya sedikit.

Dan tidak ada kewajiban zakat dalam benda campuran dari emas atau perak kecuali kadar murninya telah mencapai satu nishab.

Baca juga : macam-macam zakat dalam islam

‏( ﻭلا ﻳﺠﺐ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻠﻲ ﺍﻟﻤﺒﺎﺡ ﺯﻛﺎﺓ ‏) ﺃﻣﺎ ﺍﻟﻤﺤﺮﻡ ﻛﺴﻮﺍﺭ ﻭﺧﻠﺨﺎﻝ ﻟﺮﺟﻞ ﻭﺧﻨﺜﻰ ﻓﺘﺠﺐ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻓﻴﻪ

Tidak ada kewajiban zakat di dalam perhiasan yang boleh untuk digunakan.

Adapun perhiasan yang diharamkan seperti gelang tangan dan gelang kaki yang digunakan oleh orang laki-laki dan khuntsa, maka wajib dikeluarkan zakatnya.

Dalam keterangan lain, Syekh Zakaria al-Anshari menjelaskan sedikit hikmah dari kewajiban zakat emas dan perak, beliau berkata:

والمعنى فى ذلك ان الذهب والفضة معدان للنماء كالماشية السائمة (ولا) زكاة (فى غير هما من) سائر (الجواهر) ونحوها كياقوت وفيروزج  ولؤلؤ ومسك وعنبر لأنها معدة للاستعما كالماشية العاملة ولأن الأصل عدم الزكاة الا فيما أثبتها الشرع فيه

 “Hikmah zakat wajib atas emas dan perak adalah sesungguhnya keduanya dipersiapkan untuk berkembang sebagaimna binatang ternak yang saimah (tidak dipekerjakan). Selain dua barang itu, tidak ada kewajiban zakat atas barang-barang berharga (berupa logam atau sejenisnya) seperti yaqut, fairuz, intan, misik dan ‘ambar karena sesungguhnya barang-barang tersebut dipersiapkan untuk dipakai sebagaimana binatang ternak yang dipekerjakan, dan karena sesungguhnya hukum asal dalam syariat adalaah tidak ada kewajiban zakat kecuali pada harta yang telah ditetapkan oleh syariat”.

Karena islam memandang emas dan perak termasuk dari harta yang memiliki potensi berkembang sebagaimana binatang ternak, maka ia mewajibkan zakat atas keduanya bila telah mencapai nisab dan haul (satu tahun), baik berupa emas dan perak batangan, leburan, logam, bejana, souvenir, ukiran, dan lain sebagainya.

Namun jika emas dan perak dipergunakan sebagai perhiasan yang halal seperti kalung, anting, dan gelang yang dipakai oleh para wanita, maka tidak ada kewajiban zakat atasnya kecuali menurut mazhab Hanafi.

Sedangkan perhiasan emas dan perak yang dipergunakan secara haram, seperti perhiasan emas yang dipakai oleh orang laki-laki, atau perhiasan yang dikenakan melampaui batas kewajaran, wajib dizakati. Menurut sebagian ulama, batas kewajarang dalam menggunakan perhiasan emas atau perak adalah apabila berat perhiasan yang dikenakan tidak melebihi 720 gram (200 mitsqal).

Kewajiban zakat emas dan perak ditemukan dasarnya pada hadits riwayat Abu Dawud ra, yang artinya sebagai berikut :

“Jika engkau memiliki perak 200 dirham dan telah mencapai haul (satu tahun), maka darinya wajib zakat 5 dirham. Dan untuk emas, anda tidak wajib menzakatinya kecuali telah mencapai 20 dinar, maka darinya wajib zakat setengah dinar, lalu dalam setiap kelebihannya wajib dizakati sesuai prosentasenya”. (HR. Abu Dawud)

Baca juga :

Dalam hadits ini ditegaskan bahwa zakat emas dan perak wajib dibayarkan ketika sudah mencapai nishab dan telah melewati masa haul. Dan dari hadits ini pula dapat dipahami bahwa zakat yang dikeluarkan adalah 2,5 % dari aset emas dan perak yang dimiliki. Sebab, 5 dirham adalah 2,5 % dari 200 dirham, begitu pula setengah dinar adalah 2,5 persen dari 20 dinar.

Hanya saja, dalam urusan konvensi (perubahan dari satuan ke satuan yang lain, dalam hal ini dari satuan mitsqal ke satuan gram) emas dan perak, para ulama berbeda pendapat. Sehingga, dalam ukuran emas dan perak tertentu, menurut sebagian ulama wajib dizakati sebab telah mencapai nishab, sedangkan menurut ulama yang lain tidak wajib zakat sebab belum memcapai nishab. Diatas telah disampaikan bahwa nishab emas murni adalah 20 dinar/20 mitsqal sedangkan nishab perak murni adalah 200 dirham.

(ir/kuliahislam)

Sumber :

-Fathul Qorib

-http://www.nu.or.id/post/read/86250/nishab-zakat-emas-dan-perak