Mengintip Dapur Para Tokoh Sufi (3)

Mengintip Dapur Para Tokoh Sufi (3)

Syekh Bannan al-Hammal, tokoh sufi asal Irak yang hidup di Mesir pernah dihukum oleh Ahmad bin Thulun, jenderal Abbasiyah yang mendirikan dinasti sendiri di Mesir. Ibnu Thulun menyeretnya dan melemparkannya ke kandang singa. Syahdan, apa yang terjadi?

Singa-singa itu memang sempat mengerumuni, tapi hanya mengenduskan hidung ke tubuh Bannan al-Hammal, lalu membiarkannya. Tak pelak, kejadian itu menghebohkan mesir.

Tak lama setelah itu, ada seseorang mendatangi Bannan dan mencoba bertanya, “Apa yang ada di benak Anda saat singa-singa itu mencium tubuh Anda?”

“Waktu itu aku memikirkan tentang perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama mengenai hukum sisa makanan atau minuman binatang buas (apakah hukumnya suci atau najis)?” jawan Bannan.

Sungguh cuplikan kisah ini menggambarkan kemantapan yang teramat bulat terhadap keesaan kekuatan Tuhan. Bagi tokoh sufi sekaliber Bannan, lebih penting memikirkan hukum najis sisa makanan binatang buas daripada memikirkan ancaman bahaya yang ditimbulkan oleh binatang itu sendiri.

Baca Juga:

Sebab, hanya Allah yang bisa memberikan manfaat atau bahaya. Tidak ada yang perlu ditakutkan dari selain Allah, toh semuanya hanya perantara belaka yang tidak memiliki pengaruh apa-apa.

Sebegitu pentingkah memikirkan soal sisa makanan? Bagi sebagian besar orang, sisa makanan adalah hal sangat remeh yang tidak memiliki nilai apapun untuk dipikirkan. Cukup dibiarkan, dibersihkan, atau dibuang saja ke tempat sampah. Bahkan, jika disedekahkan kepada orang lain, sangat mungkin akan dianggap sebagai penghinaan.

Tapi, tidak demikian halnya bagi kalangan sufi. Sisa makanan atau minuman memiliki banyak sisa penting yang harus disikapi dengan serius. Tidak pandang mereka sudah bukan lagi soal nilai materi atau nilai ekonimisnya, sebab kalangan sufi memang tidak pernah memikirkan masalah itu. Pada maqam tertentu, bagi para sufi, tidak ada bedanya antara batangan emas dan bongkahan batu.

Oleh karena itu, mereka justru menjadikan sisa makanan sebagai simbol dari beberapa unsur filosofis tentang kezuhudan, kepatuhan terhadap sunnah, penghargaan terhadap nikmat, kerendahan hati, berkah, dan filosofi-filosofi lain yang sering dibicarakan dalam tasawuf.

Sayidina Abdullah bin Abbas berkata: “Termasuk sikap tawadhu’ adalah ketika seseorang meminum sisa minuman saudaranya (sesama mukmin)”.

Baca Juga:

Imam Ibnul-Hajj al-Fasi bercerita dalam al-Madkhal, suatu ketika, Imam Hasan al-Bashri bersama Syekh Farqad as-Sabkhi diundang seseorang untuk sebuah jamuan makan. Tuan rumah menyuguhkan makanan di sebuah nampan untuk dimakan bersama dengan tamu-tamu lain yang hadir saat itu. Ternyata, reaksi kedua tokoh sufi itu sangat bertolak belakang.

Imam Hasan Bashri mengambil makanan yang paling baik di nampan itu. Sedangkan Farqad memilih memakan remah-remah sisa makanan yang terserak di sekitar nampan. Ia sama sekali tidak menyentuh makanan yang ada di nampan tersebut.

Jamuan makan selesai, para undangan telah bubar. Salah seorang diantara mereka mendatangi Farqad dan memberanikan diri bertanya mengapa beliau memilih mengkonsumsi sisa makanan yang tercecer?

Farqad mengutarakan alasannya:

أَغْتَنِمُ بَرَكَةَ سُؤْرِ الْإِخْوَانِ وَلِأَكْرَمَ نِعْمَةَ اللهِ تَعَالى لِأَنِّى اِنْ لَمْ اَلْتَقِطْ ذَلِكَ قَدْ يَقَع عَلَى الْأَرْضِ فَتَدُوْسُهُ الْأَقْدَامُ

“Aku ingin mendapatkan berkah dari sisa makanan saudara-saudaraku (sesama mukmin). Dan aku ingin menghargai nikmat Allah Swt. sebab, jika aku tidak mengambilnya, maka sisa-sisa makanan itu akan berserakan di tanah dan diinjak-injak oleh orang”.

Baca Juga:

Alasan yang sangat masuk akal, dan memiliki dalil yang amat kuat dalam sejarah Islam. Mengenai kandungan berkah dalam sisa makanan orang mukmin, hal itu cukup banyak dalilnya dalam hadis, teladan sahabat dan para ulama. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Menjadi Sufi Berduit, Pon-Pes Sidogiri Jawa Timur