Mengintip Dapur Para Tokoh Sufi (1)

Mengintip Dapur Para Tokoh Sufi (1)

Para sufi adalah manusia, maka mereka pun tidak bisa lepas dari makanan. Akan tetapi, pola makan kaum sufi sangat jauh berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Hal itu karena kalangan sufi menerapkan pola hidup zuhud, wara’, melawan nafsu, mengebiri selera dan menjauhi kenikmatan dunia.

Saat pola hidup di atas diterapkan dalam masalah makanan sebagai kebutuhan pokok manusia, maka terjadilah semacam keunikan dan keanehan yang kadangkala melahirkan kesan ekstrim-kontradiktif.

Kalau masalah kehati-hatiannya terhadap makanan haram atau syubhat, kalangan sufi adalah jagoan nomor satu. Mereka tidak mencukupkan diri dengan hanya berpedoman kepada perkara halal dan haram dalam konsep fikih.

Mereka melakukan jauh lebih dari itu. Bahkan, ada di antara mereka yang melakukan tirakat makanan halal hingga batas yang tidak mampu dijangkau oleh manusia pada umumnya.

Ibnu Asakir bercerita bahwa pada masa Imam asy-Sya’bi, ada seorang sufi yang memilih hidup menyendiri di sebuah pulau tak berpenghuni karena ingin mendapatkan makanan dan pakaian yang halal murni, agar tidak dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Baca Juga:

Dia datang ke pulau sendirian, tanpa ditemani siapapun. Ia membuat pakaian dari daun alfa. Saat lapar, dia menangkap ikan dengan tangan kosong, tanpa jala. Lalu, memanggangnya di bawah terik matahari. Begitu juga saat minum, dia meneguk air dengan tangannya, tanpa menggunakan alat apapun. Dengan cara tersebut, dia merasa bisa mendapatkan makanan yang murni halal, tanpa tercampur dengan proses yang mengandung kemungkinan syubhat sekecil apapun.

Jadi, apa yang dilakukan para tokoh sufi itu merupakan kecenderungan pribadi yang didorong oleh semangat yang luar biasa dalam mematuhi pokok-pokok ajaran agama. Termasuk juga, pola makan mereka yang terkesan ektrim.

Salah satu tirakat para sufi yang sangat unik dalam masalah makanan adalah keteguhan mereka dalam melawan selera. Imam Ghazali menceritakan bahwa Ibrahim bin Adham menahan diri dari keinginannya terhadap sikbaj selama tiga puluh tahun. Sikbaj adalah makanan dari bahan daging yang dimasak dengan cuka.

Suatu ketika, Syaqiq al-Balkhi mendapati Ibrahim bin Adham duduk di pinggir jalan raya seraya menagis tersedu-sedu. Setelah ditanya, Ibrahim menuturkan bahwa kemarin saat sedang duduk-duduk, ia didatangi Nabi Khidir dalam wujud seorang pemuda. Anehnya, Nabi Khidir justru menyuguhkan makanan sikbaj.

“Makanlah!” kata Nabi Khidir

“Aku tidak mau memakannya. Aku menghindarinya karena Allah”.

“Makanlah, Allah telah memberikannya sebagai makananmu”.

Ibrahim tidak menjawab. Lalu beliau menagis tersedu-sedu.

Baca Juga:

Seseorang yang menemani Nabi Khidir berkata, “Wahai Khidir, bawalah ini dan makanlah untuk selera Ibrahim. Allah telah merahmatinya karena sabar menahan diri dari makanan ini dalam waktu yang sangat lama. Ketahuilah wahai Ibrahim, aku mendengar para malaikat berkata: Barangsiapa diberi, tapi dia tidak mau menerima, maka suatu ketika dia akan meminta, tapi dia tidak akan diberi”.

Mendengar hal itu, Ibrahim bin Adham bersedia. Akhirnya, Nabi Khidir menyuapi Ibrahim bin Adham dengan makanan tersebut hingga dia merasa sangat mengantur dan tertidur. Setelah bangun dari tidur, Ibrahim rasa makanan tersebut masih terasa di mulut Ibrahim.

Imam Abu Thalib al-Makki bercerita dalam Qutul-Qulub, ada seorang sufi di Basrah tirakat tidak makan roti dan ikan laut sampai dua puluh tahun. Padahal, dia sangat menginginkan dua makanan tersebut. Ketika dia meninggal dunia, ada seorang ulama bermimpi bertemu dengannya. Ulama itu menanyainya.

“Bagaimana perlakuan Allah kepadamu?”

“Apa aku akan menceritakan kenikmatan dan kemuliaan yang diberikan oleh Allah saat menyambutku? Sambutan pertama yang diberikan oleh Allah kepadaku adalah suguhan roti dan ikan laut. Allah berfirman kepadaku: Sekarang, makanlah makanan yang menjadi seleramu ini dengan nikmat dan tanpa hisab”.

Baca Juga:

Menurut Imam Abu Thalib al-Makki, orang-orang yang bertirakat meninggalkan seleranya, maka apa yang menjadi seleranya itu akan dianugerahkan oleh Allah ketika dia sudah meninggal dunia. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt:

كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ هَنِيٓ‍َٔۢا بِمَآ أَسۡلَفۡتُمۡ فِي ٱلۡأَيَّامِ ٱلۡخَالِيَةِ ٢٤

(kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu“. (QS Al-Haqqah: 24). (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Menjadi Sufi Berduit, Pon-Pes Sidogiri Jawa Timur