Lama Sekali Kau Sekolah Nak..

Lama Sekali Kau Sekolah Nak..

Oleh : Kyai Abdul Waidl

Dalam beberapa kali obrolan diskusi resmi dan tidak resmi, saya sedang mendorong agar pemerintah mengurangi konsentrasi pada pendidikan formal 12 tahun. Mengapa, karena dengan keadaan politik anggaran seperti sekarang dan besaran APBN yang hanya segitu, maka nyaris tidak mungkin memenuhi akses pendidikan formal 12 tahun. Tengoklah APM (angka partisipasi murni) tingkat SMA kita berkisar di 60 persen. Mau sampai kapan kita berkonsentrasi ke akses pendidikan formal?

Lama sekolah formal kita adalah 2 tahun TK, 6 tahun SD, 6 tahun SMP dan SMA, S-1 sampai 4 tahun, S-2 sampai 2 tahun, dan 5 tahun S-3. Maka, setidaknya selama 18-25 tahun kita habiskan waktu utk sekolah formal. Dengan kualitas lulusan yang mismatch dengan percepatan perkembangan di luar sekolah, maka sebenarnya kebijakan sekolah formal kita menghamburkan waktu dan biaya, dengan lulusan yang belum menjamin kualitas.

Saya sedang mengusulkan SD ditempuh maksimal 3-4 tahun, SMP dan SMA maksimal 4 tahun. Kemudian S-1 cukup 3 tahun. Sekolah formal berisi pendidikan dasar berpikir, mengembangkan rasionalitas dan rasa (dzauq), mengajarkan nilai2, mendorong kreatifitas (inovasi), komitmen terhadap berbangsa dan bernegara, dan penguasaan bahasa. Selanjutnya negara memfasilitasi pendidikan singkat tentang lifeskill yang berkembang cepat secara informal. Ini adalah bagian dari lifelong learning.

Beberapa sekolah sudah menerapkan program akselerasi, salah satu tujuannya adalah memangkas waktu dan efisiensi. Ini hanyalah perlakuan sepotong-sepotong. Ini malah bisa merepotkan dalam pelaksanaannya. Seharusnya ini menjadi kebijakan dasar pendidikan yang karenanya berlaku untuk semua.

Yang akan repot adalah para guru kita. Mereka harus cepat menyesuaikan kompetensi dengan percepatan perkembangan di luar sekolah. Guru kita belum teruji melakukan adaptasi. Kurtilas salah satu tantangannya adalah metodologi pembelajaran yang partisipatoris yang harus dikuasai oleh guru. Banyak yg merasa kerepotan, apalagi banyak pelatihan pelaksanaan bintek yang tidak dilaksanakan dengan sungguh2, karena secara substansi memang berat.

Kebijakan waktu tempuh sekolah kita seolah hanya menunda pengangguran. Dan utk menundanya, dana besar-besaran dihamburkan oleh negara dan masyarakat. Salah satu cara melihat tindakan menghambur-hamburkan waktu (berkonsekwensi terhadap anggaran) adalah dengan melihat lembaga bimbingan belajar. Bayangkan (eta terangkanlah), kita belajar bahasa inggris lebih 10 tahun, dikalahkan kualitasnya oleh kursus 6-12 bulan. Dikalahkan oleh Mr. Kalen di Pare Kediri. Di SMK otomotif, siswa kita perlu belajar 3 tahun utk menjadi montir, dikalahkan oleh pelatihan 3-6 bulan yg dilaksanakan oleh Astra. Siswa kita 3 tahun belajar banyak mata pelajaran, dikalahkan oleh lembaga bimbel 6 bulan, agar bisa mengerjakan UN dan lolos seleksi masuk perguruan tinggi.

Sekarang kita seperti tidak punya ahli pendidikan di kementerian pendidikan yg secara serius memperhatikan hal-hal demikian. Konsentrasi kita masih hanya akses formal, sedangkan sekarang dan masa depan berharap para lulusan memiliki kompetensi yang cukup tinggi. Pengambil kebijakan kalau masih melihat besaran angka nominal alokasi anggaran untuk pendidikan, dan hanya dibagi secara agregat terhadap jumlah anak pada usia sekolah formal, tanpa ada upaya terobosan, maka kita tdk bisa berharap banyak terhadap hasil pendidikan ke depan.

Cara pandang pemerintah terhadap problem pendidikan belum beranjak dari upaya pemenuhan tingkat kesejahteraan. Sampai-sampai kebijakan tersebut memperlebar gap antara guru PNS bersertifikasi dg guru swasta non sertifikasi. Apalagi bila melihat tambahan tunjangan daerah yang nggak masuk akal karena terlalu besar seperti di DKI Jakarta. Dan sedihnya kebijakan tersebut tidak berkorelasi dengan peningkatan kompetensi para guru kita. Salah satu alat ujinya adalah hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) yang memprihatinkan. Konon di salah satu hasil riset, pendekatan kesejahteraan yang timpang tersebut hanya berkorelasi dengan tingkat konsumsi otomotif.

sumber gambar : https://www.kompasiana.com/villa/penambahan-jam-belajar-sd-dan-smp-apakah-perlu-dilakukan_551966a7a33311cd17b65946