Kutukan Negeri Fir’aun

Kutukan Negeri Fir’aun

Entah kebetulan atau memang ada tuah di negeri Firaun, sejumlah presiden Indonesia yang melakukan kunjungan kenegaraan ke Mesir, tak lama kemudian jatuh dari kekuasaannya.

Gus Dur, Presiden RI ke-4 juga termasuk salah satu “korban” dari kutukan negeri Firaun ini. Gus Dur dilengserkan melalui Sidang Istimewa MPR tak lama setelah ia berkunjung ke Mesir. Ini menambah deretan korban sebelumnya, setelah Soekarno dan Soeharto jatuh usai kunjungan kenegaraan ke Mesir.

Bagi Gus Dur, Mesir memiliki kenangan tersendiri karena pada tahun 1963-1966 ia tinggal di Kairo untuk belajar, sebelum akhirnya meneruskan pendidikannya di Irak. Selama masa jabatannya yang singkat, ia dua kali berkunjung ke Mesir. Pertama saat menghadiri KTT G-15 tahun 2000. Kedua, pada Februari 2001 untuk menghadiri KTT Kelompok-8 (D-8), forum kerjasama ekonomi delapan negara Islam.

Soekarno merupakan presiden RI yang memiliki hubungan sangat baik dengan Mesir, negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia. Ia berkunjung ke sana pada tahun 1958, 1960, 1961, 1964, dan terakhir 1965, sebelum akhirnya jatuh dari kekuasaan. Ia sangat dihormati di Mesir, sampai-sampai ada nama jalan Ahmed Soekarno dan mangga Soekarno.

Baca Juga:

Setelah berkuasa 32 tahun, Soeharto berkunjung ke Mesir sebanyak dua kali. Pertama pada tahun 1977, dan kedua tahun 1998, seminggu sebelum ia dijatuhkan dalam Reformasi. Sementara Habibie, selama menjabat sebagai presiden tidak berkunjung ke Mesir. Kunjungannya dilakukan ketika ia menjadi Menristek di era Soeharto.

Mahfud MD, mantan Menteri Pertahanan era Gus Dur, yang ditemui penulis di sela-sela acara Pekan Konstitusi memiliki kenangan tersendiri tentang kunjungan Gus Dur ke Mesir ini. Ia mendapat pesan dari para kyai se-Jawa Barat yang mendengar rencana kepergian Gus Dur ke Mesir agar membatalkan kunjungannya, mengingat kekuasaannya waktu itu sudah digoyang berbagai kelompok, dan dua presiden sudah terbukti jatuh setelah dari sana.

Tentu saja karena amanah, pesan tersebut disampaikan ketika bertemu dengan Gus Dur. Tapi apa jawaban dari Gus Dur? “Husni Mubarak yang sudah berkuasa 20 tahun lebih di sana saja nggak jatuh-jatuh”.

Husni Mubarak ternyata baru jatuh dalam revolusi tahun 2010.

“Tapi memang setelah pulang dari sana jatuh beneran”, kata Mahfud MD yang kemudian menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi ini.

Baca Juga:

Catatan penulis, presiden RI selanjutnya, Megawati Soekarnoputri melakukan kunjungan ke Mesir pada September 2002 untuk memperkuat hubungan bilateral antara dua negara. Pada pemilu 2004, ia gagal mempertahankan kekuasaannya.

Kewalian Gus Dur Masuk Akal

Polling yang dilakukan penulis melalui laman NU Online antara 30 Desember 2010 hingga 11 Februari 2011 tentang kewalian Gus Dur menunjukkan, sebanyak 49 persen percaya Gus Dur seorang wali, 27 persen mempercayai Gus Dur orang cerdas dan multibakat, 18 persen menganggap Gus Dur orang biasa, dan 6 persen mengaku tidak tahu.

Wakil Sekjen PBNU, Enceng Sobirin Najd, mengaku tidak heran terhadap persepsi masyarakat tersebut karena kewalian Gus Dur sangat masuk akal. “Gus Dur memiliki banyak keistimewaan, tak hanya terlihat saat hidup, tetapi juga setelah wafat. Kelebihan ini tidak hanya diakui para pengikutnya, tetapi juga musuh-musuhnya”, katanya.

Baca Juga:

Ia menjelaskan, banyak sekali pernyataan dalam ungkapan Gus Dur yang terbukti setelah meninggal dunia. Salah satu yang sering di rujuk orang adalah tentang sikap DPR yang seperti siswa TK.

Masyarakat Indonesia, kata pria yang berkarier lama di lembaga penelitian LP3ES, meyakini bahwa semua yang bisa dipercaya tak harus indrawi. Fenomena wali merupakan salah satu wujud keyakinan adanya hal-hal yang bersifat spiritual dan di luar kemampuan manusia biasa.

“Kewalian akan dipercaya orang kalau sudah meninggal dunia. Gus Dur masuk kriteria seperti itu”, jelasnya. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Achmad Mukafi Niam dan Syaifullah Amin, Bukti-Bukti Gus Dur itu Wali, Renebook 2014