Kisah Gus Dur Menyatukan Santri Dan Abangan

Kisah Gus Dur Menyatukan Santri Dan Abangan

Menyatukan Santri Dan Abangan

Salah satu pesan Gus Dur kepada generasi muda adalah menyatukan seluruh komponen bangsa yang terpecah dalam berbagai kelompok sosial untuk memajukan Indonesia menjadi bangsa bermartabat.

Dalam satu kesempatan, Nuruddin Hidayat mendapat pesan agar berjuang menyatukan golongan santri dan abangan yang selama ini secara psikologis terpisah: satu sisi rajin mengamalkan ajaran Islam dan sisi lain lebih dekat dengan ajaran kebatinan dan cenderung sekuler. Pesan ini bermula ketika ia mengantarkan tamu, seorang seniman asal Kudus, untuk bertemu Gus Dur dengan maksud mencari dukungan Taman Budaya Kudus.

Si Seniman juga menuturkan bahwa yang menjadi ikon dari Taman Budaya itu bukanlah Sunan Kudus, tetapi RM Sosrokartono, kakak pertama dari RA Kartini yang juga tokoh spiritual Jawa.

Gus Dur sangat mengapresiasi usulan itu. Ia merasa tidak asing dengan Sosrokartono yang memiliki banyak kelebihan spiritual dan mampu menyatukan antara ilmu kebatinan dan ajaran spiritual dengan ilmu modern. “Sudah waktunya santri dan abangan bersatu, dan ini tugas kalian yang muda-muda”, pesan Gus Dur yang masih terus di ingatnya sampai sekarang.

Baca Juga:

Tak banyak orang yang mengenal Sosrokartono, meskipun bagi Gus Dur, figur ini sudah cukup akrab. Ia merupakan intelektual yang disegani di Eropa di tahun 1990-an. Ia kerap dipanggil dengan sebutan De Javanese Prins, Pangeran dari Tanah Jawa, atau “Si Jenius dari Timur”.

Sosrokartono merupakan seorang poliglot atau ahli banyak bahasa. Ia menguasai 24 bahasa asing dan 10 bahasa suku di Nusantara. Kemampuan berbahasanya ini ditunjang oleh pendidikannya di Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur di Leiden, Belanda. Ia merupakan mahasiswa pertama asal Nusantara.

Gus Dur, Tak Peduli Meski Hendak Ditipu

Para pengikut dan sahabat Gus Dur memiliki banyak kesan tentang kualitas pribadi Gus Dur. Tak semuanya bernuansa supranatural, tetapi tetap menunjukkan kualitas pribadi dan kedekatannya kepada Allah.

Karena Gus Dur ulama yang dihormati, hampir setiap hari mendapat pemberian uang dari orang lain, tetapi uang itu tidak pernah masuk dalam kantong pribadinya. Selalu ada orang yang membutuhkan pertolongannya. Bila ada orang yang meminta bantuan, Gus Dur tidak pernah menolaknya.

Suatu saat, ada seseorang yang sedang membuat program bagi anak yatim dengan anggaran dana sebesar Rp 125 juta. Orang tersebut meminta bantuan kepada Gus Dur, tetapi karena sedang tidak memegang uang, Gus Dur meminta bantuan H. Chairul Anam untuk mencarikan. Segera saja permintaan itu diiyakan, tetapi ditelusurinya siapa yang meminta bantuan tersebut. Ternyata, orang itu memiliki kredibilitas yang kurang baik.

Baca Juga:

Segera H. Choirul Anam melapor kepada Gus Dur tentang orang yang bercanda menipu dengan mengatasnamakan anak yatim tersebut. Gus Dur pun menjawab, “Lho, dia kan meminta bantuan saya untuk hal yang baik-baik, untuk membantu anak yatim. Kalau ternyata dia menipu saya, itu urusan dia dengan Allah. Kalau sampean punya uang kasih saja, kalau nggak punya ya nggak perlu di kasih”, kata Gus Dur.

Jika kejadian itu menimpa orang lain, kemungkinan besar urusannya akan menjadi panjang. Bukan sekedar persoalan penipuan uang, tetapi juga menyangkut harga diri orang yang ditipu. Bagi Gus Dur, soal seperti itu hanyalah persoalan kecil yang tidak perlu ditanggapi serius.

Pada Muktamar PKB di Yogyakarta tahun 2005, H. Choirul Anam juga pernah diminta Gus Dur membantu mencarikan uang untuk operasional. Waktu itu, acara akan digelar kurang dari lima hari dan ia diminta tolong mencarikan uang sebesar Rp 5 miliar. Ia tidak menyanggupi uang sebesar itu, tetapi berkomitmen mencarikan pinjaman Rp 2 miliar.

Acara pun berlangsung lancar, tetapi H. Anam masih menaggung utang sebesar 2 miliar kepada seseorang. Ia tahu, Gus Dur tak mungkin membayar, karena uang itu juga bukan untuk kepentingan pribadinya.

Baca Juga:

Akhirnya, ia menghadap kepada pemberi pinjaman, apakah mau diikhlaskan atau bersabar untuk dicarikan uang dahulu. “Karena tahu pinjaman Gus Dur bukan untuk kepentingan pribadinya, uang tersebut akhirnya diikhlaskan”, kata H. Choirul Anam.

Banyak pejabat atau tokoh yang mengaku memperjuangkan kepentingan rakyat, tetapi perilaku pribadi mereka menunjukkan mereka hanya memenuhi ambisi pribadi untuk mengumpulkan harta. Gus Dur telah membuktikan, berjuang tidak untuk mengejar harta benda. Hal inilah yang dilihat oleh umat, yang membuatnya diikuti dan dihormati dengan sepenuh hati.

“Waktu diturunkan dari istana, saya tanya kepada bendaharanya, ada berapa uang di rekening Gus Dur. Ternyata beliau hanya memiliki Rp 70 juta. Beliau tidak meninggalkan sesuatu untuk keluarganya dari jabatan yang dipegangnya”, pungkasnya. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Achmad Mukafi Niam dan Syaifullah Amin, Bukti-Bukti Gus Dur itu Wali, Renebook 2014