Keutamaan Ilmu (7) – Kajian Ihya Ulumuddin

Keutamaan Ilmu (7) – Kajian Ihya Ulumuddin

Lanjutan Tentang Keutamaan Ilmu Dan Dalil-Dalilnya

و قال ابن عباس رضى الله عنهما تذاكر العلم بعض ليلة أحبّ الىّ من احيائها وكذلك عن ابي هريرة رضى الله عنه و أحمد ابن حنبل رحمه الله و قال الحسن فى قوله تعالى –ربنا آتنا فى الدنيا حسنة و فى الأخرة حسنة-

Ibnu Abbas ra berkata: “Mendiskusikan ilmu pada sebagian malam lebih saya sukai dari pada menghidupkan malam itu (dengan shalat dan sebagainya). Demikian juga dari Abu Hurairah ra dan Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Al-Hasan berkata mengenai firman Allah Ta’ala:

“Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat”. (QS. Al-Baqarah: 201)

ان الحسنة فى الدنيا هى العلم والعبادة و فى الأخرة هى الجنة وقيل لبعض الحكماء اىّ الأشياء تقتنى قال الأشياء التى اذا غرقت سفينتك سبحت معك يعنى العلم وقيل اراد بغرق السفينة هلاك بدنه بالموت وقال بعضهم من اتخذ الحكمة لجاما اتخذه الناس اماما و من عرف بالحكمة لا حظته العيون بالوقار

Sesungguhnya kebaikan didunia itu adalah ilmu dan ibadah, sedangkan kebaikan di akhirat adalah surga. Ditanyakan kepada sebagian hukama’: “Barang apakah yang selalu mengikuti (pemiliknya)?”. Ia berkata: “Barang yang mana apabila kapalmu tenggelam maka kamu berenang bersamanya, yaitu ilmu”.

Dan ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tenggelamnya kapal adalah hancurnya badan karena mati. Sebagian mereka berkata: “Barang siapa mengambil hikmah (ilmu) sebagai kendali maka manusia menjadikannya sebagai pemimpin. Dan barang siapa mengetahui hikmah maka ia dipandang oleh semua mata dengan penghormatan”.

و قال الشافعى رحمة الله عليه من شرف العلم ان كل من نسب اليه ولو فى شيئ حقير فرح و من رفع عنه حزن وقال عمر رضى الله عنه يا أيها الناس عليكم بالعلم فان الله سبحانه رداء يحبه فمن طلب بابا من العلم رداه الله عز وجل بردائه فان اذنب ذنبا استعتبه ثلاث مرات لئلا يسلبه ردائه ذلك وان تطاول به ذلك الذنب حتى يموت

Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Termasuk kemuliaan ilmu adalah setiap orang yang dikatakan berilmu walaupun mengenai sesuatu yang remeh maka ia bergembira dan barang siapa yang (dikatakan) tidak memiliki ilmu maka ia bersedih”.

Baca Juga :

Sahabat Umar ra berkata: “Wahai manusia, wajib atasmu untuk berilmu. Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci memiliki selendang yang dicintai-Nya. Barang siapa mencari satu bab dari ilmu maka Allah menyelendanginya dengan selendangnya. Jika ia berbuat dosa maka ia agar memperbaikinya tiga kali agar selendangnya itu tidak dilepas dari padanya, meskipun dosanya itu berkepanjangan sampai ia meninggal”.

و قال الأحنف رحمه الله كاد العلماء ان يكونوا أربابا وكل عزّ لم توطد بعلم فإلى ذل مصيره

Al-Ahnaf rahimahullah berkata: “Ulama itu hampir-hampir sebagai Tuhan, dan setiap kemuliaan yang tidak dimantapkan oleh ilmu maka akhirnya menjadi hina”.

و قال سالم بن ابى الجعد اشترانى مولاى بثلثمائة درهم و أعتقنى فقلت بأى شيئ أحترف فأحترفت بالعلم فما تمت لى سنة حتى أتانى أمير المدينة زائرا فلم آذن له

Salim bin Abil Ja’d berkata: “Tuanku membeliku dengan tiga ratus dirham dan ia memerdekakan saya”. Lalu saya berkata: “Dengan apakah saya bekerja?”. Maka saya bekerja dengan ilmu dan tidak genap setahun bagiku sehingga datanglah amir Madinah kepadaku dan saya tidak mengizinkan baginya”.

و قال الزبير بن أبى بكر كتب الىّ أبى بالعراق عليك بالعلم فانك إن افتقرت كان لك مالا وان استغنيت كان لك جمالا

Dan Zubair bin Abu Bakar berkata: “Ayahku di Irak mengirim surat kepadaku, Wajib atasmu berilmu. Jika kamu fakir maka ilmu itu menjadi hartamu. Dan jika kamu kaya maka ilmu itu menjadi keindahan bagimu”.

و حكى ذلك فى وصايا لقمان لابنه قال يا بنىّ جالس العلماء وزاحمهم بركبتيك فان الله سبحانه يحيى القلوب بنور الحكمة كما يحيى الأرض بوابل السماء

Demikianlah diceritakan juga dalam wasiat-wasiat Luqman kepada anaknya, ia berkata: “Hai anakku, duduklah dengan pada ulama dan merapatlah kepada mereka dengan kedua lututmu karena sesungguhnya Allah Yang Maha Suci menghidupkan hati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan tanah dan hujan dari langit”.

و قال بعض الحكماء  اذا مات العلم بكاه الحوت فى الماء والطير فى الهواء ويفقد وجهه ولاينسى ذكره

Sebagian Hukama’ berkata: “Apabila orang alim meninggal maka ia didatangi oleh ikan di air, dan oleh burung di udara, ia hilang tetapi sebutannya tidak dilupakan penyebutannya”.

و قال الزهرى رحمه الله العلم ذكر ولا يحبه الا ذكران الرجال

Az-Zuhri rahimahullah berkata: “Ilmu jantan, dan tidak menyintainya kecuali orang laki-laki yang jantan”. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Ihya’ Ulumuddin Juz 1 Halaman 9, Daru Ihya’