Ketika Para Sufi Jatuh Cinta

Ketika Para Sufi Jatuh Cinta

Ketika Para Sufi Terjerat Asmara (3)

Asmara adalah penyakit murahan, namun obatnya sangatlah mahal.

Sajak dari al-Buthuri, pujangga legendaris Dinasti Abbasiyah itu, dikutip oleh Ibnul Jauzi saat menguraikan kiat-kiat untuk menyembuhkan penyakit asmara. Cukup panjang lebar Ibnul Jauzi menulis tema tersebut dalam kitabnya Dzammul-Hawa. Namun, inti dari uraian beliau bermuara pada satu hal, yaitu putuskanlah mata rantai sebab yang menumbuhkan benih-benih asmara itu.

Sebagai lumrahnya penyakit-penyakit yang lain, asmara yang sudah sampai ke tingkat akut juga sangat sulit disembuhkan. Biasanya, asmara yang seperti ini berakhir dengan kegilaan atau bahkan berujung pada kematian. Misalnya, yang terjadi dalam kisah Qais al-Majnun dan Laila dari Bani Amir.

Asmara yang baru tumbuh atau masih berwujud benih-benih, cenderung lebih mudah dihentikan. Jika dipelihara, maka akan semakin mengakar dan semakin sulit dihilangkan. Ada hal-hal yang menyebabkan asmara makin menguat, sebagaimana ada pula hal-hal yang menyebabkan asmara makin melemah. Maka, hindarilah yang pertama dan lakukanlah yang kedua.

Baca Juga:

Pada umumnya, mula-mula asmara tumbuh dari pandangan mata. Tandanya adalah munculnya perasaan berbungah-bungah ketika mata melihat obyek yang dianggap indah. Menurut ajaran syariat, pandangan yang pertama yang tidak disengaja memang tidak termasuk dosa, namun bila pandangan tersebut dilanjutkan, maka dicatat sebagai dosa dan keburukan.

Sebab, pandangan pertama yang langsung dihentikan memang jarang sekali menimbulkan ketertarikan. Lain halnya jika pandangan tersebut dilanjutkan. Walaupun ada perasaan tertarik saat pandangan pertama, maka hal itu sangatlah mudah dihentikan. Perasaan tersebut akan hilang secara otomatis dengan cara tidak mengulanginya dengan pandangan kedua, ketiga dan seterusnya.

Namun, jika pandangan mata tersebut dibiarkan berlarut-larut, maka ketertarikan asmara akan terus berlanjut. Semakin sering diulangi, maka akan semakin mengakar di dalam hati. Pada tingkat ini. Asmara lebih sulit dihilangkan.

Diperlukan sedikit pemaksaan untuk ghaddul-bashar atau menjauhkan pendangan mata darinya, seraya terus menghadirkan perasaan dan pikiran mengenai akibat buruk yang akan ditanggung di kemudian hari.

Baca Juga:

Jika asmara itu telah menjadi bagian inti dari isi hati dan pikiran, sehingga bayangan orang yang dicintai terpahat dengan sangat kuat, selalu hadir dalam setiap waktu dan sangat sulit dihilangkan dari benak, maka cara penyembuhannya adalah dengan tauthinun-nafsi alal-ya’si minhu (membuat hatimu putus asa untuk bertemu atau mendapatkan sesuatu darinya). Caranya dengan menjauh sejauh-jauhnya. Sebab, dengan menjauh, maka akan muncul perasaan sulit untuk memiliki, bertemu dan sebagainya.

Perlu diketahui bahwa unsur dasar dari asmara adalah perasaan ingin memiliki. Sangat jarang, ada orang yang ingin memiliki sesuatu yang tidak mungkin atau sangat sulit dia peroleh. Oleh sebab itu, sangat jarang ada orang yang jatuh cinta kepada putri raja, karena mereka punya pikiran tidak mungkin memilikinya. Inilah yang dimaksud oleh Ali bin Sahl al-Ashbihani, salah satu pemuka sufi di Isfahan, beliau berkata: “Aku mencari ketenangan, ternyata aku temukan dalam keputus-asaan”.

Pertemuan ibarat tetesan air yang terus menyuburkan pahon asmara. Maka, menjauh merupakan solusi paling tepat untuk membuat pohon itu menjadi kering, sedikit demi sedikit, lalu mati.

Sebagai sebuah perasaan, cinta tak ubahnya kesedihan, kemarahan, dan sebagainya. Perjalanan waktu akan membuat perasaan-perasaan tersebut menjadi semakin mengecil, hari demi hari, asalkan tidak ada hal-hal yang menyulutnya untuk berkobar kembali.

Ada sebagian orang beranggapan bahwa pertemuan dengan orang yang dicintai merupakan obat penyembuh kepedihan asmara. Nalar yang mereka gunakan adalah kenyataan bahwa perpisahan justru membuat rindu semakin membara, berarti bertemu merupakan cara untuk memadamkan rindu.

Baca Juga:

Sepintas, pandangan ini sepertinya benar, namun hakikatnya sangatlah salah. Memang benar, bertemu dengan orang yang dicintai dapat menenangkan gejolak rindu, tapi itu hanya untuk sementara. Pertemuan ibarat candu. Fungsinya bukanlah untuk menyembuhkan luka, tapi hanay membuat luka itu tidak terasa.

Setelah candu itu habis, maka sakitnya akan terasa kembali, malah ditambah dengan sakitnya ketagihan terhadap candu tersebut. Dan begitulah seterusnya. Ibarat orang haus, lalu dia meminum tuak. Hausnya hilang untuk sementara. Namun, setelah itu dia akan semakin haus, ditambah dengan dahaga kecanduan terhadapnya. Wallahu A’lam. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Menjadi Sufi Berduit, Pon-Pes Sidogiri Jawa Timur