Jenazah Yang Cerah

Jenazah Yang Cerah

Setelah empat kali diuruk dalam setahun akibat longsor, makam Gus Dur semakin ramai di kunjungi para peziarah. Hiruk-pikuk dan kehebohan masyarakat menyikapi fenomena longsornya makam mantan presiden RI itu terus berlanjut.

Setelah berbagai kalangan mengutarakan pendapatnya mengenai pertanda kewalian Gus Dur, kini giliran para santrinya di Pesantren Ciganjur yang angkat bicara. Para santri inilah yang dahulu memandikan jenazahnya, kala sang pengasuh para santri itu dipanggil menghadap Sang Khalik.

“Ketika para santri memandikan jenazahnya, jasad Gus Dur kelihatan sangat manusiawi. Kulitnya cerah, seperti biasa waktu beliau sering mengajar santri-santrinya”, cerita Mahbib, salah seorang santri yang dulu turut memandikan.

Para santri lain menceritakan, sewaktu memandikan Gus Dur, mereka melihat jasadnya dalam ekspresi yang wajar. Tidak tampak pucat tidak pula seperti orang mati. Menurut Mahbib, para santri bergiliran memandikan di samping rumah sebelum jenazah disemayamkan di ruang tengah untuk dishalatkan secara bergiliran.

Baca Juga:

Shalat jenazah untuk Gus Dur di Ciganjur ini berlangsung berkali-kali, sejak dimandikan hingga sebelum diberangkatkan menuju Bandara Halim Perdana Kusuma. Dari bandar ini jenazah kemudian di terbangkan ke tempat peristirahatan terakhirnya di Tebuireng, Jombang.

Ahsin, Imam Masjid al-Munawwarah Ciganjur mengatakan, “Tidak terhitung berapa kali shalat dilakukan bergantian. Para jamaah terus berduyun-duyun shalat di hadapan jenazah. Sementara mereka yang tidak bisa masuk, melakukan shalat jenazah di Masjid al-Munawwarah”.

20 Kyai Kampung Kunjungi Ciganjur

Meski Gus Dur sudah wafat, namun kecintaan para ulama dan kyai, khususnya kyai kampung masih terus berlanjut. Setidaknya, hal ini tercermin dari kunjungan para santri, kyai dan ulama ke kediaman Gus Dur di Ciganjur, Jakarta.

Baca Juga:

Salah satu bukti kecintaan ini adalah kunjungan 20 kyai kampung dari berbagai daerah ke kediamannya tersebut beberapa waktu lalu. Kunjungan para kyai ini dalam rangkaian acara pembekalan pengurus masjid yang dilaksanakan Lembaga Takmir Masjid Nahdhatul Ulama (LTMNU).

Menurut Ustadz Ibnu Hazen yang bertindak sebagai kepala rombongan, banyak diantara para kyai ini yang baru pertama kali ke Ciganjur, bahkan pertama kali ke Jakarta. Karenanya, LTMNU berinisiatif untuk mengajak rombongan berkunjung ke kediaman Gus Dur.

Sekretaris LTMNU mengutarakan, “Para kyai peserta ini ada yang berasal dari Riau, Lampung, dan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Mereka berkeinginan berkunjung ke Ciganjur, ke kediaman Gus Dur, mumpung di Jakarta. Jadi sekalian saja. Rugi kalau ke Jakarta tidak mampir ke Ciganjur”.

Rombongan diterima oleh Ketua Harian Pengurus Masjid al-Munawwarah, H. Syaifullah Amin beserta para pengurus lainnya dan para santri Pesantren Ciganjur. Berhubung kedatangan rombongan sudah larut malam dan tidak bisa menginap, rombongan tidak sempat diterima tuan rumah, Ibu Sinta Nuriyah, istri almarhum Gus Dur. Sementara anak-anak Gus Dur juga kebetulan sedang di luar kota.

Baca Juga:

“Kami mohon maaf, karena tidak dapat langsung bertemu dengan tuan rumah Ibu Nyai Sinta Nuriyah. Kami menyampaikan terima kasih dan pernghormatan yang setinggi-tingginya atas perhatian dan kepedulian para kyai ke Ciganjur”, jelas Nuruddin Hidayat mewakili tuan rumah.

Sementara itu, rombongan kyai ini mengaku puas telah bisa berkunjung ke Ciganjur, kendati tidak sempat bertemu langsung dengan istri dan anak-anak Gus Dur. Para kyai berfoto dan beramah-tamah dengan para santri Ciganjur dan pengurus Masjid al-Munawwarah. “Setidaknya bisa berfoto dengan background masjid, rumah Gus Dur dan mobilnya”, kata Kyai Burhanuddin asal Riau. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Achmad Mukafi Niam dan Syaifullah Amin, Bukti-Bukti Gus Dur itu Wali, Renebook 2014