Inilah Prinsip Bisnis Ala Imam Ghazali

Inilah Prinsip Bisnis Ala Imam Ghazali

Etika Bisnis Ala Sufi (Aksi Sosial Para Kreditor Sufi)

Orang yang berhutang, lebih layak mendapatkan pembelaan dan perhatian daripada orang yang memberi hutang. Hal itu, kata Imam Ghazali, karena kesejahteraan orang yang berhutang pastinya sedang dalam kondisi “kekurangan”, sedangkan orang yang memberi hutang, pastinya dia sedang kondisi memiliki “kelebihan”.

Oleh karenanya, dalam kondisi normal, jika terjadi apa-apa antara orang yang punya hutang dan orang yang mengutangi, maka selayaknya kita membantu orang yang punya hutang. Sekali lagi, dalam posisi netral dan normal.

Lain halnya jika ada indikasi bahwa orang yang punya hutang melakukan tindakan tidak terpuji, semisal sengaja tidak membayar tepat waktu, padahal dia bisa memiliki kemampuan untuk membayarnya.

Lumrahnya, posisi penghutang memang merupakan posisi orang miskin atau orang yang lemah dalam hal kesejahteraan ekonomi. Sehingga, ada sebagian ulama berpendapat bahwa dalam kondisi tertentu, memberikan hutang memiliki pahala yang lebih besar daripada bersedekah. Sebab, orang yang datang untuk berhutang biasanya karena terdesak oleh kebutuhan.

Baca Juga:

Hal itu berbeda dengan orang yang mendapatkan sedekah. Sedekah bisa saja diberikan oleh seseorang bukan karena si penerima membutuhkan, tapi karena tujuan-tujuan yang lain, semisal sebagai bentuk penghormatan atau hadiah, untuk membina hubungan baik, mangikuti tradisi masyarakat, dan sebagainya.

Bagitu juga orang yang meminta sesuatu dari orang lain, tidak jarang hanya karena didorong keinginan, atau bahkan oleh sifat rakus di hatinya, bukan semata-mata karena terdesak oleh kebutuhan.

Lalu, kenapa seseorang lebih mudah meminta daripada berhutang? Karena meminta tidak memiliki beban tanggungjawab untuk mengembalikan di kemudian hari. Oleh karena itu, meskipun tidak didesak oleh kebutuhan, orang yang berjiwa lemah mudah sekali meminta sesuatu dari orang lain.

Berbeda dengan orang yang datang untuk berhutang, jika bukan terdesak oleh kebutuhan, dia tidak akan melakukan hal itu, karena masih ada tanggungjawab berat yang harus ia pikul di kemudian hari.

Pola pikir inilah yang mungkin terkandung dalam hadis Rasulullah Saw, yang artinya sebagai berikut:

Aku melihat pada malam aku di isra’kan, sebuah tulisan di pintu surga: ‘Sedekah dibalas dengan pahala sepuluh kali lipat, sedangkan menghutangi dibalas dengan delapan belas kali lipat’. Aku bertanya kepada Jibril, ‘Kenapa menghutangi lebih utama daripada bersedekah?’ Jibril menjawab, ‘Sesungguhnya seseorang bisa meminta dalam keadaan punya. Sedangkan orang yang berhutang, dia pasti karena butuh”. (HR. Baihaqi dalam Sya’abul Iman)

Baca Juga:

Hadis ini memperlihatkan tingginya kecerdasan sosial dalam ajaran Islam, khususnya dalam ajaran tasawuf. Oleh karena itu, syariat Islam menetapkan bahwa akad hutang-piutang (qardh) adalah wilayah sosial murni dan harus dijauhkan dari wilayah bisnis, sehingga tidak boleh ada bunga, laba atau keuntungan yang diambil dari hutang.

Dalam kitab-kitab fikih disebutkan, “Setiap akad hutang yang mengambil manfaat dari pihak yang dihutangi, maka termasuk perbuatan riba”. Pengambilan manfaat di sini bersifat umum. Tidak harus dalam bentuk barang, tapi bisa juga dalam bentuk jasa.

Jadi, kalau misalnya si A berkenan memberikan hutang kepada si B dengan syarat si B membantunya melakukan sebuah pekerjaan, maka secara fikih sudah termasuk riba, apabila syarat tersebut disebutkan dalam akad.

Ini dalam sudut pandang fikih dalam karakternya sebagai pedoman hukum bagi publik. Sementara, dalam sudut pandang tasawuf dalam karakternya sebagai pedoman spiritual yang lebih pribadi, persoalan riba jauh lebih hati-hati.

Dalam kisah-kisah para sufi, persoalan hutang dan riba telah menumbuhkan sikap wara’ serta jiwa sosial yang luar biasa di kalangan mereka.

Baca Juga:

Syekh Zainuddin al-Malibari bercerita dalam kitab Irsyadul Ibad, ada seorang tetangga berhutang uang kepada Imam Ahmad bin Hanbal. Lalu, beberapa hari kemudian Imam Ahmad meminjam sesuatu kepadanya. Ketika ingat bahwa si tetangga memiliki hutang, beliau langsung membebaskan hutang tersebut.

Hal itu beliau lakukan karena khawatir termasuk mengambil manfaat dari orang yang memiliki hutang. Beliau juga khawatir, tetangganya itu bersedia meminjamkan barang hanya karena merasa memiliki tanggungan hutang kepada beliau.

Secara fikih, barangkali tidak ada satupun ulama yang berpendapat bahwa kasus Imam Ahmad tersebut termasuk riba. Namun, hal itu tetap dilakukan oleh Imam Ahmad sebagai bentuk kehati-hatian beliau terhadap kemungkinan salah, sekecil apapun kemungkinan tersebut. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Menjadi Sufi Berduit, Pon-Pes Sidogiri Jawa Timur