Inilah Kisah Umayyah Binti Qais Bin Abi Ash-Shalt

Inilah Kisah Umayyah Binti Qais Bin Abi Ash-Shalt

Gadis Belia yang Ikut Berjihad di Jalan Allah

Di antara kisah yang bercerita tentang dirinya pada perang Khaibar adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Waqidi dalam kitab Al-Maghazi, dari Umayyah binti Qais bin Abi Ash-Shalt Al-Ghifariyyah, dia berkata, “Aku datang kepada Rasulullah SAW bersama beberapa orang wanita dari bani Ghifar.

Lalu kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami ingin pergi bersamamu dalam peperangan yang akan engkau hadapi ini, di mana kami akan mengobati para prajurit yang terluka serta membantu kaum muslimin dengan apapun yang kami mampu.’ Rasulullah SAW pun bersabda, ‘Pergilah di atas keberkahan Allah.’

Maka kami pun pergi bersama beliau, sedangkan aku adalah seorang budak perempuan yang masih belia. Rasulullah SAW memboncengkanku di atas kantong yang berisi barang-barang bawaannya. Ketika tiba waktu Shubuh, beliau menderumkan untanya, dan aku berada di atas kantong yang terkena darahku, dan itu adalah haid pertama yang aku alami. Maka, aku pun bersembunyi di balik onta karena malu.

Baca Juga :

Lalu ketika Rasulullah SAW melihat kondisiku dan melihat darahku, beliau bersabda, “Sepertinya engkau haid.” Aku menjawab, “Ya.” Beliau bersabda lagi, “Kalau begitu bersihkanlah dirimu, kemudian bawalah satu bejana air, lalu taburkanlah garam ke dalamnya, dan cucilah darah yang mengenai kantong ini, kemudian biasakanlah seperti itu.” Maka aku pun melaksanakan perintahnya.

Setelah Allah menaklukkan Khaibar, Rasulullah SAW memberikan harta fai (rampasan perang) kepada kami, namun beliau tidak membagikannya sesuai pembagian biasanya, lalu beliau mengambil kalung yang kalian lihat di leherku ini, lalu beliau memberikannya kepadaku dan mengalungkannya di leherku langsung dengan tangannya sendiri. Demi Allah, kalung ini tidak akan aku lepaskan selamanya.”

Kalung itu pun masih melingkar di lehernya sampai dia meninggal dunia, dan dia berwasiat agar kalung itu dikuburkan bersama jasadnya. Dia pun tidak pernah bersuci dari haid kecuali dia menyampurkan garam ke dalam air yang dipakainya untuk bersuci, lalu dia pun berwasiat agar air yang digunakan untuk memandikan mayatnya dibubuhi garam.

Dalam peristiwa tersebut, terlihat banyak sekali keutamaan bagi sayyidah Umayyah binti Qais yang ikut berperang sewaktu usianya masih belia demi memperoleh kemuliaan jihad, dia pun membantu kaum muslimin semampunya bersama beberapa orang wanita lainnya.

Baca Juga :

Sejarah telah mencatatkan untuk kita tentang kisahnya, supaya dapat menunjukkan bahwa jihad tidak dikhususkan bagi para wanita dewasa saja, akan tetapi Islam memberikan kesempatan kepada semua orang untuk membantu orang-orang yang berjihad di jalan Allah.

Di antara faedah yang dapat di ambil dari riwayat tersebut adalah, penjelasan tentang kegigihan para shahabat wanita dalam melaksanakan seluruh perintah Rasulullah SAW. Kemudian, karena Rasulullah SAW memerintahkan kepadanya untuk menaruh garam ke dalam air yang akan digunakannya untuk bersuci, maka dia pun terus melakukan hal tersebut sampai dia meninggal dunia.

Bahkan dia pun berwasiat kepada orang yang memandikan jenazahnya untuk membubuhi garam ke dalam air yang akan digunakan untuk memandikannya. Hal itu dia lakukan karena ketaatan terhadap perintah Rasulullah SAW, di mana hati semua orang terpaut dengan segala perintahnya, dan semua orang pun senantiasa mengharapkan keberkahan dari diri Rasulullah Saw. Sampai-sampai dia pun tidak pernah melepaskan kalung yang langsung disematkan oleh tangan Rasulullah SAW ke lehernya.

Baca Juga :

Allah swt berfirman:

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١

 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21). (ir/kuliahislam)

 

Sumber : AQWAM Solo, Ummu Isra’ Binti ‘Arafah Bayyumi, 66 Muslimah Pengukir Sejarah