Inilah Kisah Seorang Wanita Ahli Ibadah Dari Negeri Syam (2)

Inilah Kisah Seorang Wanita Ahli Ibadah Dari Negeri Syam (2)

Cucu dari Nusaibah dan Ummu Sulaim

Lanjutan sebelumnya:

Kemudian aku menggali kubur dan menguburkannya. Lalu ketika kami akan pergi meninggalkan kuburannya, tiba-tiba bumi melemparkan jasadnya keluar dari liang lahatnya. Maka para shahabatku berkata, ‘Sesungguhnya dia adalah anak kecil yang belum berpengalaman, sepertinya dia keluar tanpa izin dari ibunya.’ Aku berkata, ‘Sesungguhnya bumi pun menerima orang yang lebih buruk daripada ini.’ Lalu aku berdiri, melaksanakan shalat dua rakaat, dan berdoa kepada Allah swt.

Kemudian aku mendengar suara, ‘Wahai Abu Qudamah, tinggalkanlah wali Allah itu.’ Belum lagi aku meninggalkannya, tiba-tiba sekumpulan burung hinggap di atas jasadnya dan memakan dagingnya. Setelah aku sampai di Madinah, aku pun mendatangi rumah ibunya. Ketika aku mengetuk pintu rumah itu, yang keluar menemuiku adalah saudara perempuannya. Pada saat dia melihatku, dia langsung masuk lagi seraya berkata, ‘Wahai ibu, Abu Qudamah datang tidak bersama dengan saudaraku. Sungguh, pada tahun sebelumnya kami berduka karena kepergian ayahku, dan pada tahun ini kami berduka dengan kepergian saudaraku.’

Baca Juga :

Lalu ibunya keluar menemuiku seraya bertanya, ‘Engkau datang untuk bertakziah atau mengucapkan selamat?’ Aku berkata, ‘Apa maksud pertanyaanmu ini?’ Dia berkata, ‘Jika dia meninggal dunia (biasa), maka bertakziahlah kepadaku. Namun jika dia mati syahid, maka ucapkanlah selamat kepadaku.’ Aku pun berkata, ‘Tidak, akan tetapi dia meninggal dunia sebagai syahid.’ Ibunya berkata lagi, ‘Syahid itu ada tanda-tandanya, apakah engkau melihatnya?’ Aku menjawab, ‘Ya, bumi tidak menerimanya dan burung-burung hinggap di atas jasadnya lalu memakan dagingnya dan menyisakan tulangnya, kemudian aku menguburkannya.’

Maka ibunya berkata, ‘Alhamdulillah.’ Kemudian aku menyerahkan ransumnya, lalu ibunya pun membukanya dan mengeluarkan sehelai kain tenunan kasar dan rantai besi dari dalam ransum itu. Dia pun berkata, ‘Sesungguhnya apabila malam telah gelap, dia memakai kain ini dan mengikat dirinya dengan rantai ini, lalu dia bermunajat kepada Rabbnya, dan dia berkata dalam munajatnya, ‘Kumpulkanlah aku (di padang mahsyar) dari tembolok burung.’ Sungguh Allah telah mengabulkan doanya.’’

Baca Juga :

  • Inilah Kisah Khaulah Binti Azwar
  • Wanita muslimah mujahidah itu bukan hanya sekedar seorang pejuang saja, tapi dalam rangkaian kata-kata yang menguraikan putranya, bahwasanya wanita itu termasuk ke dalam golongan wanita muslimah yang telah mendidik anak-anaknya untuk melaksanakan qiyamul lail, beribadah, merindukan surga dan kematian di jalan Allah, serta menghafal Al-Qur’an dan memahaminya.

Sungguh, dia telah memahamkan kepada anaknya bahwa orang yang melarikan diri dari hadapan musuh berarti dia sedang lari menuju neraka. Kata-kata anaknya itu merupakan kata-kata keimanan yang menunjukkan pada keimanan yang kuat, yang telah ditanamkan oleh wanita itu di dalam hati anaknya yang masih belia, supaya dia terdidik di atas pondasi tersebut dan meninggal dunia di atas petunjuk dan cahaya tersebut.

أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ٦٢

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ ٦٣

لَهُمُ ٱلۡبُشۡرَىٰ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۚ لَا تَبۡدِيلَ لِكَلِمَٰتِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ٦٤

 “Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (Yunus: 62-64)

Baca Juga :

Dia adalah cucu para wanita shalehah itu, oleh karenanya dia berjalan di atas jalan mereka supaya dia bisa memperoleh pahala dan balasan sebagaimana yang telah mereka peroleh.

“Ya Allah, janganlah Engkau mengharamkan kami untuk melihat mereka di negeri kemuliaan-Mu, wahai Dzat yang Maha Benar dan Maha Penyayang”. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : AQWAM Solo, Ummu Isra’ Binti ‘Arafah Bayyumi, 66 Muslimah Pengukir Sejarah