Inilah Kisah Cinta Hasan Al-Bashri Dan Rabi’ah Al-Adawiyah

Inilah Kisah Cinta Hasan Al-Bashri Dan Rabi’ah Al-Adawiyah

Ketika Para Sufi Terjerat Asmara (2)

Fiksi Cinta Hasan al-Bashri dan Rabiah

Kisah pinangan Imam Hasan al-Bashri terhadap Rabiah al-Adawiyah menjadi sangat masyhur karena dikisahkan oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Uqudul-Lujain, kitab paling populer di Indonesia mengenai etika Islam dalam membangun kehidupan rumah tangga.

Secara singkat kisah tersebut menggambarkan Imam Hasan al-Bashri bersama dengan kawan-kawannya mendatangi Rabiah al-Adawiyah, saat Rabiah al-Adawiyah telah selesai dari idah suaminya yang wafat. Mereka menawarkan diri kepada Rabiah al-Adawiyah, barangkali ada di antara mereka yang akan dipilih olehnya sebagai calon suami. Mendengar tawaran tersebut, Rabiah al-Adawiyah meminta untuk menunjuk satu orang yang paling alim di antara mereka.

Rombongan ulama sufi itu sepakat menunjuk Imam Hasan al-Bashri. Singkat cerita, Rabiah al-Adawiyah bersedia menjadi istri Imam Hasan al-Bashri jika beliau bisa menjawab empat pertanyaan tentang nasib Rabiah al-Adawiyah setelah meninggal dunia.

Baca Juga:

Pertama, apakah aku akan mati dalam keadaan mukmin atau kafir?

Kedua, apakah aku nanti akan bisa menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir?

Ketiga, apakah aku akan menerima kitab catatan amal dengan tangan kanan atau kiri?

Keempat, apakah aku nanti termasuk penghuni surga atau neraka?

Untuk empat pertanyaan tersebut, Imam Hasan Bashri hanya menyatakan, “Itu adalah barang ghaib yang hanya diketahui oleh Allah”.

Dalam versi kisah yang diceritakan dalam kitab Ruhul-Bayan, tafsir sufi karya Syekh Ismail Haqqi, terdapat sedikit tambahan. Di akhir dialog, Rabiah bertanya, “Wahai Hasan, berapa jumlah akal pikiran yang diciptakan oleh Allah?”

“Sepuluh bagian. Sembilan untuk bagian lelaki dan satu bagian untuk perempuan”.

“Lalu, berapa jumlah syahwat yang diciptakan oleh Allah?”

“Sepuluh bagian. Satu bagian untuk lelaki, dan sembilan bagian untuk perempuan”.

“Wahai Hasan, aku bisa menjaga sembilan syahwatku dengan hanya satu akal pikiran. Sementara engkau tidak bisa menjaga satu syahwatmu dengan sembilan akal pikiran”.

Baca Juga:

Mendengar ucapan Rabiah al-Adawiyah tersebut Imam Hasan al-Bashri menangis, lalu bergegas pergi meninggalkan rumah Rabiah al-Adawiyah bersama dengan sahabat-sahabatnya.

Mengenai kisah di atas, banyak peneliti yang mempersoalkan keabsahannya. Boleh jadi, keisykalan mereka karena didorong oleh rasa hormat mereka terhadap Imam Hasan al-Bashri.

Gambaran kisah ini, barangkali dianggap kurang pas untuk integritas Imam Hasan al-Bashri yang diakui sebagai ulama-sufi dari kalangan pemuka Tabiin yang sangat disegani.

Apalagi dalam kisah tersebut digambarkan adanya sekelompok ulama-sufi sahabat Imam Hasan al-Bashri yang datang secara bersama-sama untuk mempersilahkan Rabiah al-Adawiyah memilih salah satu di antara mereka.

Seperti ada yang janggal dan mengganjal hati dalam kronologi kisah ini jika dibandingkan dengan tradisi para ulama Tabiin yang dikenal dengan kehidupan zuhud mereka.

Salah satu argumentasi yang diajukan oleh para peneliti yang tidak terima dengan kisah tersebut adalah ketidaksesuaian tahun hidup Imam Hasan al-Bashri dan Rabiah al-Adawiyah. Semua referensi menyebutkan bahwa Imam Hasan al-Bashri wafat pada tahun 110 H. sedangkan tahun wafat Rabiah al-Adawiyah, masih terjadi perbedaan pendapat.

Baca Juga:

Menurut banyak referensi, beliau wafat pada tahun 180/185 H dalam usia 80 tahun. Berarti, menurut referensi ini, saat Imam Hasan al-Bashri wafat, usia Rabiah al-Adawiyah adalah 10/15 tahun. Kesimpulannya mana mungkin kisah seperti di atas terjadi di saat Rabiah al-Adawiyah masih berusia kurang dari 10/15 tahun?.

Di antara sejarawan yang menyatakan bahwa Rabiah al-Adawiyah wafat pada tahun 180/185 H adalah Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A’lamin-Nubala’ dan Tarikhul Islam, Salahuddin as-Shafdi dalam al-Wafi bil-Wafayat, Ibnu Khaldun dalam al-Ibar, Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan-Nihayah, dan kitab-kitab yang lain.

Akan tetapi, ada referensi lain yang menyatakan bahwa Rabiah al-Adawiyah wafat pada tahun 135 H. di antara sejarawan yang menyatakan demikian adalah Ibnu al-Mulaqqan dalam Thabaqat al-Awliya’, Ibnu al-Jauzi dalam Syudzur al-Uqud, juga az-Zarkili dalam al-A’lam. Jika mengikuti data ini beraarti Rabiah al-Adawiyah hidup semasa dengan Hasan, dan kisah di atas mungkin saja terjadi. Wallahu A’lam. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Menjadi Sufi Berduit, Pon-Pes Sidogiri Jawa Timur