Inilah Kehidupan Sufi Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.

Inilah Kehidupan Sufi Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.

Totalitas Hati Dan Jalan Hidup Miskin

“Abu Bakar mengungguli kalian bukan karena banyaknya shalat dan banyaknya puasa, tapi karena sesuatu yang bersemayam di hatinya”.

Setiap malam jumat, usai shalat Isya, tubuh yang dibalut jubah kasar itu duduk berdzikir. Kepalanya menunduk sangat rendah sampai menyentuh lutut. Begitu khusyuk dan khidmat, tak sedikitpun bergerak untuk mendongak. Menjelang fajar terbit, kepalanya baru diangkat, menghela nafas yang panjang dan tersendat-sendat. Kontan, aroma di ruangan itu berubah. Tercium bau hati yang terpanggang.

Itulah ibadah khusus Abu Bakar yang diceritakan oleh istri beliau setelah mendapat permintaan dari Umar bin Khattab. Umar menitikkan air mata, terharu mendengar cerita dari istri pendahulunya itu. “Bagaimana mungkin putra al-Khattab bisa memiliki hati yang terpanggang,” desahnya. Hati yang terbakar oleh rasa takut melihat kebesaran Allah, terbakar oleh rasa cinta karena memandang keindahan Allah, juga terbakar oleh harapan yang memuncak akan belas kasih Allah.

Baca Juga :

Abu Bakar dinobatkan sebagai orang terbaik dari kalangan umat Rasulullah Muhammad. Rasulullah juga menobatkannya khalil  atau kekasih terdekat bagi beliau. Faktor utamanya bukan karena banyaknya amal yang beliau lakukan, tapi karena totalitas hatinya. Hatinya serba total untuk Allah dan Rasul-Nya.

Pada saat Rasulullah mengumumkan agar kaum Muslimin menyumbangkan harta mereka untuk dana perang melawan Romawi di Tabuk, Abu Bakar membawa seluruh hartanya kepada Rasulullah.

“Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” tanya Rasulullah kepada Abu Bakar.

“Allah dan Rrasul-Nya” jawab Abu Bakar tanpa keraguan sedikitpun.

Inilah totalitas hati Abu Bakar. “Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuh hati tak menyisakan apapun melainkan apa yang ia cintai,” demikian komentar Imam Ghazali tentang kisah beliau ini.

Totalitas hati itu membawa Abu Bakar menjadi orang yang paling makrifat kepada Allah diantara umat Rasulullah yang lain. Abu Bakar mengorbankan segalanya untuk Allah dan Rasulullah. Hingga, hidupnya begitu miskin setelah mengucapkan ikrar Islam di hadapan Rasulullah. Padahal, sebelumnya Abu Bakar saudagar yang disegani di Quraisy.

Abdullah bin Umar bercerita: Suatu ketika Rasulullah duduk. Disamping beliau ada Abu Bakar memakai jubah kasar, di bagian dadanya ditutupi dengan tambalan. Malaikat Jibril turun menemui Rasulullah dan menyampaikan salam Allah kepada Abu Bakar.

“Hai Rasulullah, kenapa aku lihat Abu Bakar memakai jubah kasar dengan tambalan penutup di bagian dadanya?” tanya Malaikat Jibril.

“Ia telah menginfakkan hartanya untukku sebelum Penaklukan Mekkah”.

“Sampaikan kepadanya salam dari Allah dan sampaikan kepadanya: Tuhanmu bertanya: Apakah engkau rela dengan kefakiranmu ini ataukah tidak rela?”

Rasulullah menoleh kepada Abu Bakar. “Hai Abu Bakar, ini Jibril menyampaikan salam dari Allah kepadamu, dan Allah bertanya: Apakah engkau rela dengan kefakiranmu ini ataukah tidak rela?”

Abu Bakar menangis: “Apakah aku akan murka kepada takdir Tuhanku? (Tidak!) Aku ridha dengan takdir Tuhanku, Aku ridha akan takdir Tuhanku”.

Baca Juga :

Semua miliknya habis untuk Allah dan Rasulullah. Inilah totalitas cinta. Cinta yang mengorbankan segalanya untuk Sang Kekasih, tak menyisakan apa-apa lagi selain Dia di hatinya. “Orang yang merasakan kemurnian cinta kepada Allah, maka cinta itu akan membuatnya berpaling dari pencarian terhadap dunia dan membuatnya merasa tidak asyik bersama dengan segenap manusia”. Demikian untaian kalimat tentang tasawuf cinta yang pernah terucap dari mulut mulia Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq.

Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq pernah menangis hanya karena merasakan nikmatnya minuman yang terbuat dari campuran madu dan air. Seteguk minuman itu disuguhkan pada saat beliau benar-benar dahaga. Kenikmatan di dunia adalah godaan, bila manusia mengejarnya maka maka ia akan menjadi budak dunia. Oleh karena itu, Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq menangis sampai beberapa kali karena merasakan kenikmatan tersebut.

Para Sahabat heran. “Engkau menangis sedemikian rupa hanya karena seteguk minuman ini?”

“Iya. Aku pernah berduaan dengan Rasulullah. Di rumah itu tak ada orang lagi selain aku. Tiba-tiba beliau melakukan penolakan keras seraya bersabda: ‘Enyahlah diriku!’

Aku bertanya: “Demi ayah dan ibuku, aku tak melihat orang lagi disini. Siapa yang engkau maksud?”

“Rasulullah menjawab: Ini dunia. Ia mendekatkan leher dan kepalanya kepadaku dan berkata: ‘Hai Muhammad, ambillah aku!’ Maka aku jawab: ‘Enyahlah dariku!’ Lalu  ia menjawab: ‘Jika engkau selamat dariku, maka orang setelahmu tidak akan selamat dariku”.

Konon, dengan sangat bersusah payah, Abu Bakar berupaya memuntahkan seluruh isi perutnya ketika tahu bahwa sesuap makanan yang beliau dapatkan dari budaknya adalah makanan haram atau syubhat.

“Semoga Allah merahmati engkau. Engkau lakukan semua ini hanya gara-gara sesuap makanan itu?” tanya orang-orang heran.

“Demi Allah, seandainya makanan itu tidak mau keluar kecuali dengan keluarnya nyawaku, maka akan aku keluarkan nyawaku. Karena, Rasulullah telah bersabda: Setiap daging yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih utama untuknya”.

Baca Juga :

Disinilah letak keunggulan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq. Dengan keistimewaan hati, beliau menjadi manusia yang paling berhak menyandang gelar ash-Shiddiq )yaitu orang yang memiliki kemantapan iman sejati) setelah para rasul dan para nabi. Sesuatu yang tersembunyi di hati memang merupakan kesejatian yang paling hakiki dari keseluruhan unsur rohani-jasmani manusia. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Menjadi Sufi Berduit, Pon-Pes Sidogiri Jawa Timur