Inilah Hukum Shalat Jum’at Saat Keluar Kota

Inilah Hukum Shalat Jum’at Saat Keluar Kota

Keluar Kota Pada Hari Jum’at

Sebut saja Kang Burhan, ia seorang pedagang tembakau sukses yang jaringannya lumayan luas. Karena kesuksesannya itu, ia bisa dibilang orang yang super sibuk. Ia tidak mengenal waktu dan lelah demi kelancaran bisnisnya. Bahkan, jika panggilan bisnis memaksa harus ke luar kota, ia tidak berfikir panjang dan langsung bergegas mempersiapkan keberangkatannya.

Bolehkah pada hari jum’at melakukan safar (bepergian keluar kota) bagi orang yang wajib  melaksanakan shalat jum’at ?

Tidak boleh, kecuali di tengah perjalanan, ia bisa mengerjakan shalat jum’at. Hanya saja menurut Imam Rafi’i, jika bepergiannya karena bertujuan melakukan ibadah wajib atau sunnah, maka diperbolehkan.

Baca Juga :

Kebablasan Tidur Pada Hari Jum’at

Para pekerja berat tidak mengenal lelah, membanting tulang, demi untuk menopang hidupnya. Terkadang di saat istirahat, mereka menyempatkan diri untuk tidur sebentar, guna menyegarkan badan. Akan tetapi yang menjadi masalah, ketika hari jum’at tiba, mereka biasanya tidur mendekati shalat jum’at. Lantas, bolehkah tidur pada hari jum’at bagi mereka yang wajib melaksanakan shalat jum’at ?

Tidak boleh, jika ada dugaan kuat sampai tidak melakukan shalat jum’at. Namun menurut Imam ar-Romli, hukumnya boleh secara mutlak.

Asyik Nonton TV Saat Adzan Jum’at

Masih banyak fenomena di masyarakat yang perlu kejelasan hukum. Tengok saja, masyarakat di sekeliling kita, di mana saat adzan jum’at yang kedua dikumandangkan, sebagian dari mereka masih santai nonton TV, baca koran, bahkan ada yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Mereka tidak bergegas berangkat ke masjid, dengan alasan ‘yang penting melakukan shalat jum’at’.

Bagaimana hukum fikih menyikapi fenomena di atas ? Hukumnya adalah haram jika sampai menyebabkan meninggalkan shalat jum’at.

Baca Juga :

  • Adzan telah dikumandangkan masih santai-santai

Semestinya bagi orang yang rumahnya berdekatan dengan masjid, tidak menyia-nyiakan waktunya untuk beribadah, terutama pada hari jum’at. Namun hal ini ternyata tidak direspon dengan baik, buktinya mentang-mentang rumahnya berdempetan dengan masjid, mereka masih santai duduk manis di rumahnya, padahal adzan jum’at yang kedua telah di kumandangkan. Apakah yang demikian diperbolehkan ? Tidak boleh, bahkan harus segera menuju ke masjid.

Larangan Shalat Jum’at Bagi Pegawai

Mempunyai pekerjaan tetap merupakan dambaan setiap orang, belum lagi ketika masa sulit-sulitnya mencari pekerjaan. Sehingga tidak sedikit dari kalangan buruh atau pegawai, tidak melaksanakan shalat jum’at, hanya karena takut dipecat oleh bosnya. Bolehkah meninggalkan shalat jum’at dengan alasan seperti yang terjadi di atas ?

Boleh, karena termasuk udzur. Akan tetapi sebisa mungkin harus berusaha melaksanakan shalat jum’at.

Jum’atan Bagi Orang Yang Nunggu di Rumah Sakit

Tenggang rasa dan tolong menolong, merupakan ciri khas masyarakat pedesaan. Terbukti, ketika salah satu dari mereka ada yang masuk rumah sakit, pihak keluarga atau tetangganya, bergantian menjenguk sekaligus ikut menjaga orang yang sakit tersebut. Termasuk udzurkah bagi seseorang yang menjaga orang sakit ?

Menjaga orang sakit adalah termasuk udzur, jika orang yang menjaga adalah orang tua atau anaknya dan orang yang dijaga sakitnya sangat parah. Sedangkan untuk orang lain, disyaratkan tidak ada orang yang menjaganya kecuali dirinya, atau orang yang sakit merasa tenang dan terhibur dengan kehadirannya meskipun sakitnya tidak terlalu parah.

Baca Juga :

Sembuh Sementara Waktu Jum’at Masih Ada

Seseorang yang sakit, boleh melakukan sholat dhuhur sebagai ganti dari shalat jum’atnya, dikarenakan sakit maka termasuk udzur. Namun yang menjadi masalah, setelah melaksanakan shalat dhuhur ternyata sakitnya sembuh, sementara untuk melaksanakan shalat jum’at waktunya masih memungkinkan.

Apakah orang tersebut masih berkewajiban shalat jum’at ? dan apakah shalat dhuhurnya dianggap cukup ? Bagi orang tersebut tidak harus melakukan shalat jum’at dan shalat dhuhurnya dianggap cukup. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Wasilah Menjadi Insan Mulia, Akhlake Kang !, Lirboyo Press 2016