Inilah Etika Bisnis Ala Sufi

Inilah Etika Bisnis Ala Sufi

Sedikit Demi Sedikit, Lama-Lama Menjadi Bukit

Perilaku bisnis yang sesuai dengan aturan-aturan fikih dalam syarat dan rukunnya, dianggap memenuhi standar keadilan, atau standar minimal yang menyebabkan seseorang selamat dari dosa.

Sedangkan perilaku bisnis yang sesuai dengan prinsip-prinsip tasawuf, dianggap memenuhi standar ihsan. Yaitu, standar yang harus dilakukan agar sebuah perilaku bisnis tidak hanya selamat dari dosa, melainkan juga mendatangkan ganjaran.

Ada banyak standar ihsan fil-mu’amalah, seperti disebutkan oleh Imam Ghazali dalam Ihya’-nya. Landasan dasar dari semua etika itu adalah an-nushhu (kehendak baik kepada pihak lain), sesuai dengan sabda Rasulullah Saw, “Tidaklah beriman (dengan sempurna) salah satu dari kalian, sampai dia menginginkan untuk saudaranya apa yang dia inginkan untuk dirinya sendiri”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, dalam transaksi jual beli ala sufi, pihak penjual menghayati posisi pembeli, dan pihak pembeli menghayati posisi penjual.

Baca Juga:

Imam Ghazali menyatakan bahwa dalam etika bisnis sufi, laba atau untung sepertiga masih dianggap terlalu besar. “Kami tidak berpendapat seperti itu (sepertiga). Akan tetapi, termasuk bagian dari ihsan, laba tersebut dibuat lebih rendah”, tegas beliau.

Pengambilan untung harus disesuaikan dengan kebiasaan di tempat itu, sesuai dengan komoditinya. Jika pembeli rela memberikan laba lebih dari kebiasaan, maka sudah seharusnya dikembalikan.

Hal itu pernah dilakukan oleh Imam Yunus bin Ubaid, salah satu tokoh sufi Basrah dari generasi Tabiin. Beliau memiliki toko baju yang menyediakan dua jenis jubah. Jubah kualitas pertama berharga 400 dirham, sedangkan kualitas jubah kedua seharga 200 dirham. Suatu saat, Imam Yunus pergi shalat, dan toko dijaga oleh keponakan beliau. Saat itulah ada orang badui hendak membeli jubah, dia meminta jubah seharga 400 dirham.

Keponakan Imam Yunus memperlihatkan jubah kualitas kedua. Ternyata, si badui menyukainya, dan setuju membelinya dengan harga 400 dirham. Sepulang dari shalat, Imam Yunus melihat seorang badui membawa jubah. Beliau tahu betul bahwa jubah itu berasal dari toko miliknya.

“Berapa kau beli?” Tanya beliau.

“400 dirham”.

“Ini harganya tidak lebih dari 200 dirham. Mari kembali ke toko saya, ambillah sisa uangmu”.

“Tidak usah tuan, saya rela. Di desa saya, jubah seperti ini harganya 500 dirham”.

“Kembalilah, kehendak baik dalam agama jauh lebih baik berharga daripada dunia dan isinya”.

Maka, si badui kembali, dan Imam Yunus mengembalikan 200 dirham kepadanya.

Yang lebih unik dari itu adalah transaksi jual beli yang terjadi antara Sari as-Saqathi dengan ad-Dallal. Di Baghdad, keduanya dikenal sebagai tokoh sufi yang ahli ibadah.

Baca Juga:

Suatu ketika, Sari as-Saqathi membeli berkarung-karung kacang untuk dijual kembali di kemudian hari. Beliau membelinya dengan harga 60 dinar. Lama setelah itu, datanglah ad-Dallal hendak membeli seluruh kacang tersebut.

“Dijual berapa?”

“63 dinar”.

“Sekarang, harga kacang sudah naik. Seharusnya 90 dinar”. Jelas ad-Dallal.

“Aku telah membuat ketetapan yang tidak bisa diubah (untuk tidak mengambil laba lebih dari kebiasaan). Aku tidak akan menjualnya kecuali 63 dinar”.

“Aku juga telah membuat ketetapan untuk tidak merugikan seorang Muslim”, kata ad-Dallal.

Karena masing-masing pihak tidak berkenan melepas prinsipnya, maka kesepakatan tidak berhasil dicapai. Jual beli pun gagal terjadi di antara mereka.

Dua kisah ini benar-benar unik. Boleh jadi, akan dianggap sebagai sebuah kegilaan jika dilihat oleh masyarakat pada masa sekarang. Padahal, bagi orang-orang tertentu yang sudah terbiasa memegang prinsip, sikap semacam ini adalah suatu yang amat lumrah.

Oleh karena itu, Imam Hasan al-Bashri pernah menyatakan, “Kami pernah semasa dengan beberapa orang, seandainya kalian melihat mereka, maka kalian akan bilang: orang-orang gila. Tetapi, seandainya mereka melihat kalian, maka mereka akan bilang: seperti setan”.

Strategi Bisnis Dan Strategi Berkah Dalam Berdagang

Selain memenuhi tuntunan ihsan, laba rendah diakui sebagai strategi bisnis yang ampuh. Laba rendah adalah investasi untuk menahan kepercayaan dan menarik minat konsumen. Laba sedikit tapi laku seribu kali, akan lebih besar daripada laba banyak tapi hanya laku sekali.

Hal itu pernah diajarkan oleh Sahabat Ali bin Abi Thalib ra. kepada rakyatnya di Kuffah. Konon, beliau sering berkeliling di pasar Kuffah, dan berseru, “Wahai para pedagang, peganglah yang benar, maka kalian akan selamat. Dan janganlah kalian merasa enggan dengan laba yang kecil, agar kalian tidak kehilangan laba yang besar”.

Baca Juga:

Menurut Imam Ghazali, cara berdagang ala sufi dengan pengambilan laba yang kecil akan mendatangkan berkah dalam perdagangan. Ini sama dengan pesan Rasulullah Saw agar memegang prinsip murah hati dalam berbisnis dan bermuamalah. Nabi Saw bersabda, “Allah merahmati seseorang yang murah hati ketika menjual, ketika membeli, dan ketika menagih”. (HR. Bukhari).

Hadis ini, menurut beberapa ulama, mendorong untuk memegang sikap murah hati, kesantunan dan kemuliaan akhlak dalam berbisnis, serta menjauhi sikap suka mempermasalahkan. Ini merupakan jalan untuk mendapatkan berkah dalam mencari rizki.

Rasulullah Saw tidak akan mendorong umatnya, kecuali kepada hal-hal yang menguntungkan bagi mereka di dunia dan akhirat”, jelas Imam Ibnu Batthal, pakar hadis terkemuka dari Cordoba, mengenai hadis ini. (ir/kuliahislam)

Baca selanjutnya ke bagian 2 –> –> –>

Sumber : Menjadi Sufi Berduit, Pon-Pes Sidogiri Jawa Timur