Inilah Dasar Dan Hukum Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Inilah Dasar Dan Hukum Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Amar ma’ruf nahi munkar adalah salah satu pokok terpenting dalam ajaran Islam. Selain sebagai bentuk dakwah, amar ma’ruf nahi munkar merupakan penyeimbang dalam kehidupan beragama. Sudah maklum bahwa kehidupan beragama akan dianggap berkualitas manakala diiringi ketaatan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah swt. Hal tersebut bisa terwujud dengan maksimal melalui adanya kontrol serta pengawasan dari amar ma’ruf nahi munkar. Melalui hal itulah Allah swt memuji umat ini sebagai umat terbaik. Seperti yang dikisahkan dalam QS. Ali Imran : 110.

Oleh karena urgensinya, maka dibutuhkan kajian secara detail mengenai amar ma’ruf nahi munkar. Seringkali seseorang yang memiliki semangat yang cukup tinggi untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar tetapi tidak memahami aturan yang bahkan paling mendasar darinya. Sebagian dari mereka, melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan tindakan (bi al-yad), padahal mereka bukanlah orang yang legal melakukannya.

Sebagian lain, melakukan amar ma’ruf nahi munkar tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan. Ada lagi yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar tanpa kesabaran dan kurang bisa menahan diri, sehingga gegabah dalam melakukan tindakan. Alih-alih mengikuti Sunnah Nabi, mereka malah menyalahi tuntunan beliau dalam dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkarnya. Mencemarkan nama baik Islam, menghambat dan mencederai nilai-nilai dakwah, merugikan orang lain, bahkan diri mereka sendiri.

Imam Nawawi Al-Bantani dalam Syarah Sulam Taufiq mengungkapkan :

أن كل من كان قليل العقل لا يصلح ان يكون داعيا الي الله لأن الذي يفسده اكثر من الذي يصلحه

“Orang yang berpengetahuan minim tidak layak melakukan dakwah. Karena mafsadat yang ditimbulkan akan lebih besar daripada manfaatnya”.

Komentar tersebut juga diutarakan beliau dalam Tafsir Al-Munir :

“Hal ini (amar ma’ruf nahi munkar) termasuk Fardhu Kifayah, sebab amar ma’ruf nahi munkar hanya layak dilakukan orang yang memahami kondisi dan cara menghadapi masyarakat. Sehingga kemungkaran yang dilakukan orang yang ia perintah atau ia larang tidak semakin menjadi-jadi. Jika tidak demikian, bukan tidak mungkin ia malah mengajak orang lain pada perkara yang batil, memerintahkan hal mungkar, dan mencegah perkara ma’ruf. Ia berlaku keras pada kondisi yang menuntut berlaku lembut ataupun sebaliknya”.

Baca Juga : 

Maka dari itu, sebelum melakukan amar ma’ruf nahi munkar, terlebih dahulu harus benar-benar memahami semua hal yang terkait dengannya. Supaya tujuan mulia dari amar ma’ruf nahi munkar dapat tercapai dan amar ma’ruf nahi munkar tidak menjadi sebab timbulnya kemungkaran yang lebih besar.

Dasar Dan Hukum Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Dasar dan pijakan dalam memvonis sesuatu, apakah itu baik (ma’ruf) atau buruk (mungkar) adalah kitabullah yang dipastikan kebenarannya dan Sunnah Rasulullah saw sebagai penjelasnya yang sesuai dengan interpensi (tafsiran) para salaf al-shalih yang selalu setia mengikuti tuntunan Al-Qur’an dan Hadits.

Mengenai dafinisi ma’ruf, Imam Ibn Hajar Al-‘Asqalani berkata :

قال الراغب المعروف اسم كل فعل يعرف حسنه بالشرع والعقل معا –الى ان قال- و قال ابن أبي جمرة يطلق اسم المعروف على ما عرف بأدلة الشرع أنه من أعمال البر  سواء جرت به العادة أم لا

“Al-Raghib berkata : Ma’ruf adalah sebutan untuk setiap perbuatan yang dianggap baik berdasarkan syariat dan akal. Sedangkan menurut Ibnu Abi Hamzah, ma’ruf adalah istilah yang digunakan untuk perbuatan-perbuatan yang dianggap baik menurut dalil-dalil syariat, entah sesuai dengan adat tradisi ataupun tidak”.

Sedangkan Ibn al-Atsir mendefinisikan mungkar sebagai berikut :

والمنكر ضد المعروف و كل ما قبحه الشرع و حرمه وكرهه فهو منكر

“Mungkar adalah antonim ma’ruf. Semua hal yang dianggap buruk, diharamkan, dan dimakruhkan oleh syariat adalah perkara mungkar”.

Imam Ghazali menambahkan bahwa sebuah kemungkaran tetap wajib diingkari meski pelaku kemungkaran tidak terkena dosa jika melakukannya. Seperti anak kecil yang meminum khamr atau orang gila yang melakukan zina. Seperti telah diketahui, mereka tidak termasuk orang yang mukallaf sehingga mereka tidak terkena dosa. Namun, amar ma’ruf nahi munkar tetap wajib dilakukan. Maka, disinilah relevansi penggunaan kata mungkar terlihat. Sebab, kata mungkar lebih umum terhadap semua hal yang dilarang oleh syariat. Berbeda dengan kata maksiat yang hanya merujuk pada perbuatan dosa saja.

Dalam literatur fiqih terkadang amar ma’ruf nahi munkar dibahasakan menggunakan kata al-hisbah. Sedangkan seseorang yang melakukan hal tersebut dinamakan al-muhtasib.

Lantas, apa perbedaan diantara keduanya ?

Dalam Al-Ahkam Al-Shulthaniyah, Al-Mawardi menjelaskan bahwa al-hisbah ialah amar ma’ruf nahi munkar yang ditugaskan secara langsung oleh pemerintah kepada seseorang. Ia dinamakan al-muhtasib. Sedangkan seseorang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar secara independen dinamakan al-mutathawwi’. Al-Mawardi melanjutkan, bahwa setidaknya ada sembilan perbedaan di antara keduanya.

Baca Juga : 

Di antara perbedaan yang paling mencolok ialah kewajiban amar ma’ruf nahi munkar bagi al-muhtasib adalah fardhu ‘ain sebab penunjukkan oleh pemerintah, sedang kewajiban amar ma’ruf nahi munkar bagi al-mutathawwi’ sebatas fardhu kifayah. Kemudian, wajib bagi al-muhtasib untuk meneliti dan mencari kemungkaran-kemungkaran yang sifatnya terbuka. Sedangkan al-mutathawwi’ tidak dibebani hal tersebut. Kemudian, al-muhtasib diperbolehkan untuk meminta dan mengumpulkan bala bantuan dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Sedangkan al-mutathawwi’ tidak diperbolehkan melakukan hal tersebut. Sekilas, posisi al-muhtasib dalam konteks zaman sekarang menyerupai Polisi ataupun Satpol PP. Maka, disimpulkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar lebih global dan umum dibandingkan al-hisbah.

Secara sosiologi, Ibn Taimiyyah mengungkapkan bahwa semua manusia yang hidup tidak akan terlepas dari dua hal yaitu memerintah dan melarang atau diperintah dan dilarang. Bahkan, andai ada dua orang yang hidup sebatang kara niscaya ia akan memerintah ataupun melarang dirinya sendiri untuk berbuat atau meninggalkan sesuatu. Sebab, seperti firman Allah swt dikatakan bahwa nafsu akan selalu mengajak pada hal-hal negatif. Jadi, kehidupan sosial pasti akan membutuhkan sebuah aturan-aturan yang berisi perintah atau larangan sebagai wujud kontrol supaya tidak lepas kendali.

Kemudian, seperti halnya dalam kehidupan sosial, perintah (amar) dan larangan (nahi) juga merupakan sebuah keharusan dalam kehidupan beragama. Supaya agama bisa tetap eksis baik sebuah keyakinan maupun sebuah ajaran. Tanpa hal itu agama hanya akan menjadi slogan tanpa wujud nyata. Untuk itu, dalam agama Islam disyariatkan amar ma’ruf nahi munkar.

Dalam Al-Zawajir, Imam Ibn Hajar Al-Haitami mendefinisikan amar ma’ruf nahi munkar sebagai berikut :

المراد بالأمر بالمعروف والنهي عن المنكر الأمر بواجبات الشرع والنهي عن محرماته

“Yang dimaksud dengan amar ma’ruf nahi munkar adalah memerintahkan kewajiban-kewajiban syariat dan mencegah larangan-larangannya”.

Maka, disimpulkan bahwa dasar yang dibuat pijakan dalam menentukan baik buruknya sesuatu dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar adalah syariat yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits yang sesuai dengan pemahaman para ulama. Bukan berasal dari persepsi pelaku amar ma’ruf nahi munkar.

Baca Juga : 

Untuk hukum melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar termasuk kewajiban bersama bagi mukallaf (fardhu kifayah) di mana jika sudah dilakukan oleh sebagian orang yang mencukupi syaratnya maka kewajiban bagi sebagian yang lain gugur, dan jika tidak ada satupun orang yang melakukannya atau ada tetapi belum memadai maka semuanya terkena dosa. Beliau mendasarkan statement-nya dari firman Allah swt dalam QS. Ali Imran : 104 yang artinya sebagai berikut :

“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kebajikan dan mencegah kemungkaran. Dan merekalah orang-orang yang beruntung”.

Imam Ghazali mengatakan bahwa redaksi “hendaklah ada di antara kalian”, memberi pemahaman bahwa amar ma’ruf nahi munkar sudah tercukupkan dengan hanya dilakukan oleh sebagian orang saja yang dianggap telah mencukupi. Akan diterangkan pada bagian selanjutnya, bahwa kewajiban tersebut akan disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan keilmuan masing-masing individu. Yang mana jika seseorang tidak pada tingkatannya, ia tidak terkena kewajiban amar ma’ruf nahi munkar atau bahkan haram melakukannya. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Kritik Ideologi Radikal, Deradikalisasi doktrin keagamaan ekstrem dalam upaya meneguhkan Islam berwawasan kebangsaan. Lirboyo Press 2019