Inilah Cara Menyamak Kulit

Inilah Cara Menyamak Kulit

Cara Menyamak Kulit Bangkai Agar Suci

‏( ﻓﺼﻞ ‏) ﻓﻲ ﺫﻛﺮ ﺷﻴﺊ ﻣﻦ ﺍﻟﺄﻋﻴﺎﻥ ﺍﻟﻤﺘﻨﺠﺴﺔ ﻭﻣﺎ ﻳﻄﻬﺮ ﻣﻨﻬﺎ ﺑﺎﻟﺪﺑﺎﻍ ﻭﻣﺎﻟﺎﻳﻄﻬﺮ( ﻭﺟﻠﻮﺩ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ‏) ﻛﻠﻬﺎ ‏( ﺗﻄﻬﺮ ﺑﺎﻟﺪﺑﺎﻍ ‏) ﺳﻮﺍﺀ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻣﻴﺘﺔ ﻣﺄﻛﻮﻝ ﺍﻟﻠﺤﻢ ﻭﻏﻴﺮﻩ

Pasal menjelaskan tentang barang-barang najis, barang-barang najis yang bisa suci dengan cara di samak dan yang tidak bisa suci (dengan cara di samak).

Kulit bangkai semuanya bisa suci dengan cara disamak . Dalam hal itu baik bangkai binatang yang halal dimakan dan yang tidak halal dimakan.

Tata Cara Menyamak

ﻭﻛﻴﻔﻴﺔ ﺍﻟﺪﺑﻎ ﺃﻥ ﻳﻨﺰﻉ ﻓﻀﻮﻝ ﺍﻟﺠﻠﺪ ﻣﻤﺎ ﻳﻌﻔﻨﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻡ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﺑﺸﻴﺊ ﺣﺮﻳﻒ ﻛﻌﻔﺺ ﻭﻟﻮﻛﺎﻥ ﺍﻟﺤﺮﻳﻒ ﻧﺠﺴﺎ ﻛﺬﺭﻕ ﺣﻤﺎﻡ ﻛﻔﻰ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﺑﻎ‏( ﺇﻟﺎﺟﻠﺪ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﻭﺍﻟﺤﻨﺰﻳﺮ ﻭﻣﺎ ﺗﻮﻟﺪ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﺃﻭ ﻣﻦ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ‏) ﻣﻊ ﺣﻴَﻮﺍﻥ ﻃﺎﻫﺮ , ﻓﻠﺎ ﻳﻄﻬﺮ ﺑﺎﻟﺪﺑﺎﻍ‏( ﻭﻋﻈﻢ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ﻭﺷﻌﺮﻫﺎ ﻧﺠﺲ‏) ﻭﻛﺬﺍ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ﺃﻳﻀﺎ ﻧﺠﺴﺔ

Tata cara menyamak adalah menghilangkan fudhulul (hal-hal yang melekat) kulit yang bisa membuat busuk yaitu berupa darah dan sesamanya, dengan menggunakan barang yang asam / pahit seperti tanaman afshin (Sejenis tanaman yang berbau wangi dan rasanya pahit) . Jika barang pahit yang digunakan itu najis seperti kotoran burung dara, maka sudah dianggap cukup dalam penyamakan.

Kecuali kulit bangkai anjing, babi, keturunan keduanya, atau keturunan salah satu dari keduanya hasil perkawinan dengan binatang yang suci. Maka kulit binatang-binatang ini tidak bisa suci dengan cara disamak .

Tulang dan bulunya bangkai hukumnya adalah najis. Begitu juga bangkainya itu sendiri hukumnya juga najis.

ﻭﺃﺭﻳﺪ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﺰﺍﺋﻠﺔ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺑﻐﻴﺮ ﺫﻛﺎﺓ ﺷﺮﻋﻴﺔ ﻓﻠﺎ ﻳﺴﺘﺜﻨﻰ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﺟﻨﻴﻦ ﺍﻟﻤﺬﻛﺎﺓ ﺇﺫﺍ ﺧﺮﺝ ﻣﻦ ﺑﻄﻦ ﺃﻣﻪ ﻣﻴﺘﺎ  ﻟﺄﻥ ﺫﻛﺎﺗﻪ ﻓﻲ ﺫﻛﺎﺓ ﺃﻣﻪ  ﻭﻛﺬﺍ ﻏﻴﺮﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﺘﺜﻨﻴﺎﺕ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺒﺴﻮﻃﺎﺕ ﺛﻢ ﺍﺳﺘﺜﻨﻰ ﻣﻦ ﺷﻌﺮ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ﻗﻮﻟﻪ ‏( ﺇﻟﺎ ﺍلآﺩﻣﻲ ‏) ﺃﻱ ﻓﺈﻥ ﺷﻌﺮﻩ ﻃﺎﻫﺮ ﻛﻤﻴﺘﺘﻪ

Yang dikehendaki dengan bangkai adalah binatang yang mati sebab selain sembelihan secara syar’i.

Kalau demikian, maka tidak perlu dikecualikan janinnya binatang yang disembelih (secara syar’i) yang keluar dari perut induknya dalam keadaan mati. Begitu juga bentuk-bentuk pengecualian lain yang dijelaskan di dalam kitab-kitab yang luas keterangannya.

Kemudian mushannaif mengecuali-kan dari bulu bangkai yaitu ungkapan beliau yang berbunyi, “kecuali anak Adam”. Maksudnya, maka sesungguhnya rambut dan bulu anak Adam hukumnya suci. (ir/kuliahislam)

Baca Juga :

 

Sumber : Fathul Qorib