Inilah 3 Syarat Kemungkaran Yang Wajib Diingkari Dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Inilah 3 Syarat Kemungkaran Yang Wajib Diingkari Dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Syarat Kemungkaran Yang Wajib Diingkari

Tidak semua kemungkaran wajib untuk diingkari. Akan tetapi, kemungkaran yang memiliki syarat-syarat tertentu. Ada sedikitnya tiga syarat yang harus dipenuhi :

Pertama, kemungkaran harus bersifat majmu’ ‘alaih (telah disepakati). Hal ini didasarkan pada sebuah kaedah fikih :

لاَ يُنْكَرُ الْمُخْتَلَفُ فِيْهِ وَلَكِنْ يُنْكَرُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهِ

“Tidak boleh mengingkari perkara yang masih diperkhilafahkan, tetapi perkara yang sudah disepakatilah yang diingkari”.

Tidak dipungkiri bahwa di dalam islam terdapat banyak madzhab yang tidak jarang dalam beberapa hukum terdapat kontradiksi satu sama lain. Seperti halnya keharaman nabidz.  Menurut Imam Hanafi meminum nabidz dihukumi halal sedangkan menurut Imam Syafi’i haram. Seorang yang bermazhab Syafi’i tidak boleh ingkar terhadap orang bermazhab Hanafi yang mengonsumsi nabidz. Sebab, menurut keyakinannya mengonsumsi nabidz tidaklah dilarang. Jadi, amar ma’ruf nahi munkar hanya boleh dilakukan setelah mengetahui apakah kemungkaran tersebut mujma’ ‘alaih. Maka, wajib bagi pelaku amar ma’ruf nahi munkar mengetahui masalah yang masih diperselisihkan hukumnya dan yang sudah mujma’ ‘alaih.

Baca Juga :

Imam an-Nawawi dalam Raudhah-nya mengungkapkan bahwa para ulama hanya melakukan pengingkaran pada masalah yang mujma’ ‘alaih (telah disepakati). Sedang hal-hal yang masih mukhtalaf (diperselisihkan), mereka tidak berani melakukan pengingkaran. Sebab setiap mujtahid dipastikan kebenarannya, atau jika pun kebenaran berada pada salah satu dari mereka, kita tidak mengetahui pada siapa kebenaran itu berada.

Para Sahabat maupun Tabi’in pun tidak lepas dari perbedaan pendapat pada banyak permasalahan furu’iyyah, akan tetapi mereka tidak saling mengingkari satu sama lain. Mereka mengingkari suatu hal hanya jika bertentangan dengan Alquran, Hadis, Ijma’ atau Qiyas.

Selain kepada sesama muslim, kepada non muslim pun demikian. Seorang muslim tidak boleh ingkar terhadap perbuatan nonmuslim yang menurut keyakinannya diperbolehkan. Seperti ketika seorang nonmuslim mengonsumsi minuman beralkohol, maka seorang muslim tidak boleh ingkar terhadap hal tersebut sebab menurut keyakinan mereka hal tersebut bukan merupakan sebuah larangan. Selama perbuatan itu tidak dilakukan di muka umum.

Baca Juga :

Kedua, kemungkaran yang sedang terjadi. Di dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, Imam Ghazali membagi kemungkaran menjadi tiga macam. Yang akan terjadi, yang sedang terjadi, dan sudah terjadi. Hukum dalam menindaknya pun berbeda-beda.

  1. Untuk kemungkaran yang akan terjadi, seperti kita meyakini atau memiliki prasangka seseorang mempunyai niatan untuk melakukan sebuah kemungkaran, maka yang diwajibkan adalah sebatas memberi nasihat. Tidak lebih dari itu. Terkecuali, seseorang yang secara kebiasaan dipastikan akan melakukan kemungkaran, maka walaupun ia belum melakukannya tetapi saat terlihat tanda-tanda ia akan melakukannya, maka wajib untuk dihentikan.
  2. Yang kedua adalah kemungkaran yang sedang dilakukan. Disinilah posisi amar ma’ruf nahi munkar berada. Setiap orang yang melihat kemungkaran yang sedang terjadi wajib ingkar sesuai dengan kemampuannya dan tidak menimbulkan ancaman pada dirinya. Serta tidak menciptakan kemungkaran lain yang lebih buruk. Hal ini akan dibahas secara terperinci dalam sub fase-fase menghilangkan kemungkaran.
  3. Yang ketiga adalah kemungkaran yang sudah terlewat. Dalam kondisi ini, amar ma’ruf nahi munkar tidak boleh dilakukan. Sebab, amar ma’ruf nahi munkar itu bersifat penolakan (daf’u). Maka, bagi kemungkaran yang sudah terhenti bukanlah ranah amar ma’ruf nahi munkar. Kemudian, untuk penanganan kemungkaran ini harus diserahkan kepada pihak yang berwajib untuk menjatuhkan hukuman pidana (yang dalam literatur kutub al-turats bisa berupa had atau ta’dir).

Ketiga, amar ma’ruf nahi munkar tidak melalui proses sweeping. Dalam arti, pelaku amar ma’ruf nahi munkar tidak diperbolehkan untuk mencari-cari atau menyelidiki kemungkaran-kemungkaran yang dilakukan secara tertutup. Hal ini jelas, karena agama islam menjamin kebebasan dan melindungi hak privasi kehidupan setiap orang. Selama seseorang itu menjalani kehidupan di jala yang benar. Maka untuk menjamin hal tersebut agama Islam mengharamkan tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain).

Tetapi, larangan tajassus hanya berlaku pada kemungkaran yang sifatnya tetutup. Ketika sebuah kemungkaran dilakukan secara terang-terangan berarti dia telah menyia-nyiakan jaminan privasi yang diberikan oleh Islam. Maka, seorang pelaku amar ma’ruf nahi munkar sewajarnya hanya mengingkari kemungkaran yang ia jumpai saja dan tidak mencari-cari kemungkaran dan kesalahan orang lain.

Lebih dari itu, seorang muslim seharusnya lebih memfokuskan perhatiannya pada kekurangan-kekurangan dirinya sendiri. Bukan mencari kekurangan orang lain.

Baca Juga :

Banyak ulama salaf al-shalih yang memilih ‘uzlah atau menyendiri dari keramaian dengan tujuan supaya terhindar melihat kemungkaran-kemungkaran sebab takut karena kewajiban untuk ingkar padahal ia tidak mampu melakukannya sesuai dengan yang diperintahkan Allah SWT. Bukannya dengan sengaja dan bangga keluar untuk mencari kemungkaran.

Maka, disimpulakan dari syarat terakhir ini pelaku amar ma’ruf nahi munkar tidak boleh melakukan sweeping atau patroli-patroli mencari kemungkaran di tempat-tempat umum.

Melihat banyak hal yang harus diketahui oleh pelaku amar ma’ruf nahi munkar yang dalam waktu yang sama hal tersebut malah jarang diketahui oleh mereka, terutama yang berasal dari kalangan awam, maka amar ma’ruf nahi munkar tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang. Hanya orang-orang tertentu saja yang boleh melakukannya, yakni mereka yang benar-benar memenuhi kriteria. Supaya amar ma’ruf nahi munkar tidak menimbulkan mafsadat yang lebih besar. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Kritik Ideologi Radikal, Deradikalisasi doktrin keagamaan ekstrem dalam upaya meneguhkan Islam berwawasan kebangsaan. Lirboyo Press 2019