Hukum Mencicipi Masakan Di Saat Puasa

Hukum Mencicipi Masakan Di Saat Puasa

Aroma Yang Tersisa Setelah Mencicipi Masakan

Mencicipi masakan sangat diperlukan untuk mengetahui sedap dan tidaknya suatu makanan. Apalagi makanan tersebut menjadi santapan buka puasa. Namun hal ini perlu ketegasan terkait batal dan tidaknya puasa ketika yang mencicipi sedang berpuasa?

Pertanyaan :

  • Bolehkah bagi orang yang puasa mencicipi makanan, mengingat aroma makanan masih terasa di lidah?

Jawaban :

  • Boleh, asalkan tidak menelan apa yang di cicipi tersebut.

Referensi :

  • تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء الثالث : ٤٢٥

Baca Juga :

Hukum Mengunyah Makanan Untuk Sang Bayi

Kasih sayang seorang ibu begitu besar pada anak tercintanya. Ia rela melakukan apapun demi pertumbuhan dan kesehatan anaknya. Termasuk ketika menyuapin si kecil, sang ibu terlebih dulu mengunyah sebelum makanan diberikan pada anaknya, padahal ia dalam keadaan berpuasa.

Pertanyaan :

  • Apakah mengunyah makanan diperbolehkan bagi orang yang berpuasa sementara aroma dan rasa makanannya sangat kentara di lidah ?

Jawaban :

  • Boleh, dengan syarat tanpa menelan makanan yang dikunyah tersebut, walaupun aroma dan rasa makanan masih terasa di lidah.

Referensi :

  • حاشية الجمل الجزء الثاني : ٣٢٩

Hukum Sahur Sebelum Jam 12 Malam

Untuk mengantisipasi rasa haus dan lapar saat berpuasa, agama menganjurkan agar mengakhirkan makan sahur. Hal ini tidak lain supaya lebih kuat dan semangat dalam menjalankan ibadah puasa. Namun entah karena apa, terkadang sebagian orang melaksanakan makan sahur sebelum jam 12 malam.

Pertanyaan :

  • Apakah yang demikian masih mendapatkan kesunnahan sahur ?

Jawaban :

  • Tidak, karena waktu sahur mulai pertengahan malam.

Referensi :

  • حاشية الباجورى الجزء الاول : ٢٩٣

Baca Juga :

Hukum Masuknya Air Ke Telinga Saat Mandi

Mandi di saat cuaca panas memang sangat menyegarkan tubuh, terlebih lagi ketika tubuh gerah dan berkeringat. Hal ini dimanfaatkan oleh sebagian orang yang tubuhnya mulai lemas karena berpuasa.

Pertanyaan :

  • Apakah masuknya air tanpa disengaja pada bagian anggota tubuh, semisal telinga dapat membatalkan puasa ?

Jawaban :

  • Membatalkan puasa, kecuali ketika mandi wajib atau sunnah.

Referensi :

  • إعانة الطالبين الجزء الثانى : ٢٦٥

Hukum Memakai Obat Tetes Mata Saat Puasa

Kenyataan di masyarakat, tidak sedikit yang harus dipertegas kembali mengenai sah dan tidaknya sebuah ibadah. Contoh kecil, seseorang yang sedang melaksanakan ibadah puasa mengobati matanya dengan Visin (misal), ternyata obat tetes tersebut sangat terasa di tenggorokan.

Pertanyaan :

  • Apakah hal tersebut membatalkan puasa ?

Jawaban :

  • Puasanya tidak batal, karena obat mata yang terasa di tenggorokan itu masuk melalui pori-pori, bukan lubang yang tembus ke tenggorokan, seperti lubang hidung.

Referensi :

  • حاشيتا قليوبي و عميرة الجزء الثانى : ٧٣

Hukum Menelan Ludah Ketika Gusi Berdarah

Dalam melaksanakan ritual puasa banyak hal yang perlu diketahui terkait masalah batal dan tidaknya puasa. Sebut saja Kang Burhan, entah karena apa, di saat sedang berpuasa gusinya sering mengeluarkan darah. Akibatnya, percampuran air ludah dan darah sulit dihindari. Hal ini akan menjadi problem ketika ia mau menelan ludahnya.

Pertanyaan :

  • Apakah puasa Kang Burhan batal saat menelan ludah ?

Jawaban :

  • Batal, kecuali jika darah yang keluar dari gusi tersebut terus menerus dan menimbulkan masyaqqat (kesulitan).

Referensi :

  • بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي : ١٨٢
  • أسنى المطالب الجزء الأول : ٤١٧
  • تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء الأول : ٣٢١

Baca Juga :

Hukum Meneteskan Obat Di Telinga

Kesehatan jasmani sangat mahal harganya. Orang yang menderita sakit, meskipun hanya di telinga, akan kebingungan karenanya. Bahkan berbagai upaya ia lakukan demi kesembuhan penyakitnya.

Pertanyaan :

  • Sahkah puasa seseorang yang menaruh obat di lubang telinganya, mengingat ia merasa kesakitan ?

Jawaban :

  • Sah, jika yakin obat tersebut bisa menyembuhkan atau menghilangkan rasa sakit, karena termasuk dharurat.

Referensi :

  • بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي : ١٨٢

(ir/kuliahislam)

 

Sumber : Menyingkap Problematika Umat, Kang Santri, Lirboyo Press 2009