Hukum-Hukum Puasa

Hukum-Hukum Puasa

Penjelasan Tentang Hukum-Hukum Puasa

كتاب) بيان أحكام (الصيام) ﻭﻫﻮ ﻭﺍﻟﺼﻮﻡ ﻣﺼﺪﺭﺍﻥ ﻣﻌﻨﺎﻫﻤﺎ ﻟﻐﺔ ﺍﻟﺈﻣﺴﺎﻙ ﻭﺷﺮﻋﺎ ﺇﻣﺴﺎﻙ ﻋﻦ ﻣﻔﻄﺮ ﺑﻨﻴﺔ ﻣﺨﺼﻮﺻﺔ ﺟﻤﻴﻊ ﻧﻬﺎﺭ ﻗﺎﺑﻞ ﻟﻠﺼﻮﻡ ﻣﻦ ﻣﺴﻠﻢ ﻋﺎﻗﻞ ﻃﺎﻫﺮ ﻣﻦ ﺣﻴﺾ ﻭﻧﻔﺎﺱ

Lafadz “shiyam” dan “shaum” adalah dua bentuk kalimat masdar , yang secara bahasa keduanya bermakna menahan. Dan secara syara’ adalah menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa disertai niat tertentu sepanjang siang hari yang bisa menerima ibadah puasa dari orang muslim yang berakal dan suci dari haidl dan nifas.

Syarat Wajib Puasa

‏( ﻭﺷﺮﺍﺋﻂ ﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﺛﻠﺎﺛﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ ‏) ﻭﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺴﺢ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ‏( ﺍﻹﺳﻠﺎﻡ ﻭﺍﻟﺒﻠﻮﻍ ﻭﺍﻟﻌﻘﻞ ﻭﺍﻟﻘﺪﺭﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﻮﻡ ‏) ﻭﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺴﺎﻗﻂ ﻋﻠﻰ ﻧﺴﺨﺔ ﺍﻟﺜﻠﺎﺛﺔ ﻓﻠﺎ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺘﺼﻒ ﺑﺄﺿﺪﺍﺩ ﺫﻟﻚ

Syarat-syarat wajibnya puasa ada tiga perkara. Dalam sebagian redaksi ada empat perkara. Yaitu Islam, baligh, berakal dan mampu berpuasa. Dan ini (mampu berpuasa) tidak tercantum di dalam redaksi yang mengatakan syaratnya ada tiga perkara. Maka puasa tidak wajib bagi orang yang memiliki sifat yang sebaliknya (tidak mampu puasa).

Baca Juga :

Fardhu-Fardhu Puasa

‏( ﻭﻓﺮﺍﺋﺾ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ ‏) ﺃﺣﺪﻫﺎ ‏( ﺍﻟﻨﻴﺔ ‏) ﺑﺎﻟﻘﻠﺐ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻓﺮﺿﺎ ﻛﺮﻣﻀﺎﻥ ﺃﻭ ﻧﺬﺭﺍ ﻓﻼ ﺑﺪ ﻣﻦ ﺇﻳﻘﺎﻉ ﺍﻟﻨﻴﺔ ﻟﻴﻠﺎ ﻭﻳﺠﺐ ﺍﻟﺘﻌﻴﻴﻦ ﻓﻲ ﺻﻮﻡ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﻛﺮﻣﻀﺎﻥ ﻭﺃﻛﻤﻞ ﻧﻴﺔ ﺻﻮﻣﻪ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﺸﺨﺺ ﻧﻮﻳﺖ ﺻﻮﻡ ﻏﺪ ﻋﻦ ﺃﺩﺍﺀ ﻓﺮﺽ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ

Fardlu-fardlunya puasa ada empat perkara. Salah satunya (yang pertama) adalah niat di dalam hati.

Jika puasa yang dikerjakan adalah fardhu seperti Ramadhan atau puasa nadzar, maka harus melakukan niat di malam hari. Dan wajib menentukan puasa yang dilakukan di dalam puasa fardhu seperti puasa Ramadhan.

Niat puasa Ramadhan yang paling sempurna adalah seseorang mengatakan, “Saya niat melakukan puasa esok hari untuk melaksanakan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala”.

‏( ﻭ ‏) ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ‏( ﺍﻟﺈﻣﺴﺎﻙ ﻋﻦ ﺍﻟﺄﻛﻞ ﻭﺍﻟﺸﺮﺏ ‏) ﻭﺇﻥ ﻗﻞ ﺍﻟﻤﺄﻛﻮﻝ ﻭﺍﻟﻤﺸﺮﻭﺏ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺘﻌﻤﺪ ﻓﺈﻥ ﺃﻛﻞ ﻧﺎﺳﻴﺎ ﺃﻭ ﺟﺎﻫﻠﺎ ﻟﻢ ﻳﻔﻄﺮ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻗﺮﻳﺐ ﻋﻬﺪ ﺑﺎﻟﺈﺳﻠﺎﻡ ﺃﻭ ﻧﺸﺄ ﺑﻌﻴﺪﺍ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺇﻻ ﺃﻓﻄﺮ

Fardlu kedua adalah menahan dari makan dan minum walaupun perkara yang dimakan dan yang diminum hanya sedikit, hal ini ketika ada unsur kesengajaan.

Jika seorang yang berpuasa melakukan makan dalam keadaan lupa atau tidak mengetahui hukumnya, maka puasanya tidak batal jika ia adalah orang yang baru masuk Islam atau hidup jauh dari ulama’. Jika tidak demikian, maka puasanya batal.

‏( ﻭ ‏) ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ‏( ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ ‏) ﻋﺎﻣﺪﺍ ﻭ ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ ﻧﺎﺳﻴﺎ ﻓﻜﺎﻟﺄﻛﻞ ﻧﺎﺳﻴﺎ

Fardhu ke tiga adalah menahan dari melakukan jima’ dengan sengaja. Adapun melakukan jima’ dalam keadaan lupa, maka hukumnya sama seperti makan dalam keadaan lupa.

‏( ﻭ ‏) ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ‏( ﺗﻌﻤﺪ ﺍﻟﻘﻴﺊ ‏) ﻓﻠﻮ ﻏﻠﺒﻪ ﺍﻟﻘﻴﺊ ﻟﻢ ﻳﺒﻄﻞ ﺻﻮﻣﻪ

Fardhu ke empat adalah menahan dari muntah dengan sengaja. Jika ia terpaksa muntah, maka puasanya tidak batal.

Hal-Hal Yang Membatalkan Puasa

‏( ﻭﺍﻟﺬﻱ ﻳﻔﻄﺮ ﺑﻪ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﻋﺸﺮﺓ ﺃﺷﻴﺎﺀ) ﺃﺣﺪﻫﺎ ﻭﺛﺎﻧﻴﻬﺎ ‏( ﻣﺎ ﻭﺻﻞ ﻋﻤﺪﺍ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺠﻮﻑ ‏) ﺍﻟﻤﻨﻔﺘﺢ ‏( ﺃﻭ ‏) ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﻨﻔﺘﺢ ﻛﺎﻟﻮﺻﻮﻝ ﻣﻦ ﻣﺄﻣﻮﻧﺔ ﺇﻟﻰ ‏( ﺍﻟﺮﺃﺱ ‏) ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺇﻣﺴﺎﻙ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﻋﻦ ﻭﺻﻮﻝ ﻋﻴﻦ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﻳﺴﻤﻰ ﺟﻮﻓﺎ

Hal-hal yang membuat orang berpuasa menjadi batal ada sepuluh perkara.

Yang pertama dan kedua adalah sesuatu yang masuk dengan sengaja ke dalam lubang badan yang terbuka atau tidak terbuka seperti masuk ke dalam kepala dari luka yang tembus ke otak. Yang dikehendaki adalah seseorang yang berpuasa harus mencegah masuknya sesuatu ke bagian badan yang dinamakan jauf (lubang).

‏( ﻭ ‏) ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ‏( ﺍﻟﺤﻘﻨﺔ ﻓﻲ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺴﺒﻴﻠﻴﻦ ‏) ﻭﻫﻲ ﺩﻭﺍﺀ ﻳﺤﻘﻦ ﺑﻪ ﺍﻟﻤﺮﻳﺾ ﻓﻲ ﻗﺒﻞ ﺃﻭ ﺩﺑﺮ ﺍﻟﻤﻌﺒﺮ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺘﻦ ﺑﺎﻟﺴﺒﻴﻠﻴﻦ

Yang ke tiga adalah al huqnah (menyuntik) di bagian salah satu dari qubul dan dubur.

Huqnah adalah obat yang disuntikkan ke badan orang yang sakit melalui qubul atau dubur yang diungkapkan di dalam matan dengan bahasa “sabilaini”(dua jalan).

Baca Juga :

‏( ﻭ‏) ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ‏( ﺍﻟﻘﻴﺊ ﻋﻤﺪﺍ ‏) ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺘﻌﻤﺪ ﻟﻢ ﻳﺒﻄﻞ ﺻﻮﻣﻪ ﻛﻤﺎ ﺳﺒﻖ

Yang ke empat adalah muntah dengan sengaja. Jika tidak sengaja, maka puasanya tidak batal seperti yang telah dijelaskan.

‏( ﻭ ‏) ﺍﻟﺨﺎﻣﺲ ‏( ﺍﻟﻮﻁﺀ ﻋﻤﺪﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﺝ ‏) ﻓﻠﺎ ﻳﻔﻄﺮ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﺑﺎﻟﺠﻤﺎﻉ ﻧﺎﺳﻴﺎ ﻛﻤﺎ ﺳﺒﻖ

Yang ke lima adalah wathi’ dengan sengaja di bagian farji. Maka puasa seseorang tidak batal sebab melakukan jima’ dalam keadaan lupa seperti yang telah dijelaskan.

‏( ﻭ‏) ﺍﻟﺴﺎﺩﺱ ‏( ﺍﻟﺈﻧﺰﺍﻝ ‏) ﻭﻫﻮ ﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﻤﻨﻲ ‏( ﻋﻦ ﻣﺒﺎﺷﺮﺓ ‏) ﺑﻠﺎ ﺟﻤﺎﻉ ﻣﺤﺮﻣﺎ ﻛﺈﺧﺮﺍﺟﻪ ﺑﻴﺪﻩ ﺃﻭ ﻏﻴﺮ ﻣﺤﺮﻡ ﻛﺈﺧﺮﺍﺟﻪ ﺑﻴﺪ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﺃﻭ ﺟﺎﺭﻳﺘﻪ ﻭﺍﺧﺘﺮﺯ ﺑﻤﺒﺎﺷﺮﺓ ﻋﻦ ﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﻤﻨﻲ ﺑﺎﺣﺘﻠﺎﻡ ﻓﻠﺎ ﺇﻓﻄﺎﺭ ﺑﻪ ﺟﺰﻣﺎ

Yang ke enam adalah inzal , yaitu keluar sperma sebab bersentuhan kulit dengan tanpa melakukan jima’. Baik keluar sperma tersebut diharamkan seperti mengeluarkan sperma dengan tangannya sendiri, atau tidak diharamkan seperti mengeluarkan sperma dengan tangan istri atau budak perempuannya.

Dengan bahasa “sebab bersentuhan kulit”, mushannif mengecualikan keluarnya sperma sebab mimpi basah, maka secara pasti hal itu tidak bisa membatalkan puasa.

‏( ﻭ ‏) ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻌﺸﺮﺓ ‏( ﺍﻟﺤﻴﺾ ﻭﺍﻟﻨﻔﺎﺱ ﻭﺍﻟﺠﻨﻮﻥ ﻭﺍﻟﺮﺩﺓ ‏) ﻓﻤﻦ ﻃﺮﺃ ﺷﻴﺊ ﻣﻨﻬﺎ ﻓﻲ ﺃﺛﻨﺎﺀ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﺃﺑﻄﻠﻪ

Yang ke tujuh hingga akhir yang ke sepuluh adalah haidl, nifas, gila dan murtad. Maka barang siapa mengalami hal tersebut di tengah-tengah pelaksanaan puasa, maka hal tersebut membatalkan puasanya.

Kesunahan-Kesunahan Puasa

‏( ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﺛﻠﺎﺛﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ ) ﺃﺣﺪﻫﺎ ‏( ﺗﻌﺠﻴﻞ ﺍﻟﻔﻄﺮ ‏) ﺇﻥ ﺗﺤﻘﻖ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﻏﺮﻭﺏ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻓﺈﻥ ﺷﻚ ﻓﻠﺎ ﻳﻌﺠﻞ ﺍﻟﻔﻄﺮ ﻭﻳﺴﻦ ﺃﻥ ﻳﻔﻄﺮ ﻋﻠﻰ ﺗﻤﺮ ﻭﺇﻻ ﻓﻤﺎﺀ

Di dalam puasa ada tiga perkara yang disunnahkan.

Salah satunya adalah segera berbuka jika orang yang berpuasa tersebut telah meyaqini terbenamnya matahari. Jika ia masih ragu-ragu, maka tidak diperkenankan segera berbuka.Dan disunnahkan untuk berbuka dengan kurma kering. Jika tidak, maka dengan air.

‏( ﻭ ‏) ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ‏( ﺗﺄﺧﻴﺮ ﺍﻟﺴﺤﻮﺭ ‏) ﻣﺎﻟﻢ ﻳﻘﻊ ﻓﻲ ﺷﻚ ﻓﻠﺎ ﻳﺆﺧﺮ ﻭﻳﺤﺼﻞ ﺍﻟﺴﺤﻮﺭ ﺑﻘﻠﻴﻞ ﺍﻟﺄﻛﻞ ﻭﺍﻟﺸﺮﺏ

Yang ke dua adalah mengakhirkan sahur selama tidak sampai mengalami keraguan (masuknya waktu Shubuh). Jika tidak demikian, maka hendaknya tidak mengakhirkan sahur. Kesunahan sahur sudah bisa hasil dengan makan dan minum sedikit.

‏( ﻭ ‏) ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ‏( ﺗﺮﻙ ﺍﻟﻬﺠﺮ ‏) ﺃﻱ ﺍﻟﻔﺤﺶ ‏( ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻠﺎﻡ ‏) ﺍﻟﻔﺎﺣﺶ ﻓﻴﺼﻮﻥ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﻟﺴﺎﻧﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻜﺬﺏ ﻭﺍﻟﻐﻴﺒﺔ ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﻛﺎﻟﺸﺘﻢ ﻭﺇﻥ ﺷﺘﻤﻪ ﺃﺣﺪ ﻓﻠﻴﻘﻞ ﻣﺮﺗﻴﻦ ﺃﻭ ﺛﻠﺎﺛﺎ ﺇﻧﻲ ﺻﺎﺋﻢ ﺇﻣﺎ ﺑﻠﺴﺎﻧﻪ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﺄﺫﻛﺎﺭ ﺃﻭ ﺑﻘﻠﺒﻪ ﻛﻤﺎ ﻧﻘﻠﻪ ﺍﻟﺮﺍﻓﻌﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﺄﺋﻤﺔ ﻭﺍﻗﺘﺼﺮ ﻋﻠﻴﻪ

Yang ke tiga adalah tidak berkata kotor. Maka orang yang berpuasa hendaknya menjaga lisannya dari berkata bohong, menggunjing orang lain dan sejenisnya seperti mencela orang lain.

Jika ada seseorang yang mencaci dirinya, maka hendaknya ia berkata dua atau tiga kali, “sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

Baca Juga :

Adakalanya mengucapkan dengan lisan seperti yang dijelaskan imam an-Nawawi dalam kitab al Adzkar. Atau dengan hati sebagaimana yang dinuqil oleh imam ar-Rafi’i dari beberapa imam, dan hanya mengucapkan di dalam hati. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Fathul Qorib