Gus Dur Tak Pernah Menolak Pemberian Jimat

Gus Dur Tak Pernah Menolak Pemberian Jimat

Seorang tokoh sekelas Gus Dur memiliki banyak pengikut dan pengagum. Mereka juga ingin berkontribusi sesuatu dalam perjuangan yang dilakukannya.

Beberapa orang dari kalangan tertentu sering kali memberi jimat dalam berbagai bentuk, sebagai upaya untuk membantu melindungi Gus Dur dari santet, sihir, dan serangan jahat lainnya. Salah satu pemberian itu adalah sebuah keris yang gagangnya seperti tanduk. Yang memberi mengaku, jika jatuh pada orang yang tepat, bisa jadi presiden.

Entah percaya atau tidak terhadap jimat, Gus Dur tidak pernah menolak pemberian itu. Ia menerimanya untuk menghormati niat baik masyarakat. Saat kantor PBNU dipindah karena gedung lama yang hanya dua lantai direnovasi menjadi sembilan lantai, jimat-jimat Gus Dur ikut dirapikan dan terkumpullah sebanyak dua karung.

Marsudi Syuhud, Sekjen PBNU menceritakan, ketika itu dia diminta merapikan dan membawa jimat-jimat tersebut ke rumah Gus Dur di Ciganjur. Lalu barang-barang itu ditaruh di bawah tempat tidur.

Baca Juga:

Suatu saat, ia menanyakan soal keberadaan jimat-jimat tersebut kepada Yenny dan Aries Junaidi, tetapi mereka tak ada yang tahu karena sudah tidak ada lagi di tempat semula. Ketika ditanyakan kepada pengawal Gus Dur, Pak Latief, dan seorang santri yang menemani tidur, mereka mengaku sering kali melihat jimat-jimat itu bergerak sendiri.

Selamatan Kambing Kendit Setelah Jadi Presiden

Tiga hari setelah terpilih menjadi presiden, Gus Dur melakukan ziarah ke makam leluhurnya Mbah Mutamakkin di Margoyoso, Pati, dan dilanjutkan ke makam ayah dan kakeknya, KH. Wahid Hasyim dan KH. Hasyim Asy’ari di Jombang menggunakan helikopter.

Kepada warga NU dan masyarakat yang mengelu-elukannya, ia mengingatkan mereka  agar tidak mengadakan syukuran, apalagi pesta atas terpilihnya dia menjadi kepala negara. Tetapi ia mengizinkan Nahdhiyyin mengadakan selamatan untuk memohon keselamatan bangsa dan negara.

Baca Juga:

Terdapat hal yang masih menjadi misteri hingga saat ini. Suatu hari, Gus Dur meminta H. Marsudi Suud yang menemani proses pemilihannya menjadi presiden secara langsung untuk mencari kambing kendit (kambing yang memiliki lingkaran putih di perutnya) sebanyak empat ekor.

Ia pun kebingungan, bagaimana harus mencari kambing langka seperti ini, apalagi jumlahnya sampai empat ekor. Akhirnya, dia meminta tolong kepada KH. Muharrir di Cilacap. Karena memang sudah jodoh, akhirnya kambing jenis ini bisa ditemukan dalam waktu singkat. Kamudian kambing itu dibawa ke Pati dan dipotong di sana. Sampai sekarang, tidak ada yang mengerti apa maksud Gus Dur dengan menyembelih kambing kendit itu.

Tak lama setelah itu, Gus Dur menginstruksikan kepada Marsudi Syuhud agar mengagendakan ziarah ke makam Syekh Panjalu, sebuah makam di tengah danau di Ciamis. Ia pun berkoordinasi dengan bupati setempat karena Gus Dur sudah tidak bisa pergi-pergi seenaknya seperti dulu sebelum menjadi presiden.

Baca Juga:

Ia berpesan, Syekh Panjalu merupakan lambangnya orang kecil dan menyampaikan bahwa makam itu nanti akan ramai diziarahi. Ia juga mengajak sejumlah kyai untuk mengikuti ziarah.

Salah satu kyai yang diminta adalah KH. Muntaha Wonosobo, yang dikenal sebagai wali setempat. Ada cerita menarik, saat naik perahu menuju makam di tengah pulau, Mbah Muntaha menjatuhkan sandalnya. Gus Dur mau mengambilnya tapi dilarang, “Jangan diambil, ini sebagai saksi saya ikut Gus Dur”. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Achmad Mukafi Niam dan Syaifullah Amin, Bukti-Bukti Gus Dur itu Wali, Renebook 2014