Gus Dur Punya Dua Pintu Surga

Gus Dur Punya Dua Pintu Surga

Dua Pintu Surga

Fenomena berbondong-bondongnya masyarakat yang bertakziah saat Gus Dur wafat hingga berjubelnya orang yang berziarah ke makamnya, tidak hanya mengherankan para pengamat sosial dan politik, tetapi juga menghebohkan kalangan ulama khawas sehingga hal itu menjadi pembicaraan serius dikalangan mereka.

Suatu saat, ada seorang ulama khawas yang menyampaikan hal itu kepada KH. Hasyim Muzadi tentang karamah Gus Dur. Meski KH. Hasyim Muzadi telah menemani Gus Dur lebih dari 20 tahun (sejak tahun 1979 saat Muktamar NU di Semarang) ihwal kewalian Gus Dur baru diungkapkan saat ini.

Menurut ulama khawas itu, bahwa surga itu memiliki berbagai macam pintu, antara lain pintunya orang alim, pintu orang sabar, pintu para syuhada’, pintu para muttaqin, dan sebagainya. Selain itu, ada pula pintu orang yang memiliki i’tikad dan niat baik. Meski selalu disalahpahami dan dicaci maki orang lain, namun tetap dijalankan dengan segala resiko.

Baca Juga:

Gus Dur memiliki keunggulan itu. Pertama, ia merupakan orang sabar dalam proses pembinaan masyarakat, sehingga seolah cuek terhadap kritik orang. Kedua, ia tidak mundur ketika dicaci karena gagasannya yang dianggap kontroversial. Singkatnya, menurut orang itu, Gus Dur punya dua pintu surga. Yakni pintu orang yang sabar dan pintu seorang ‘pioner’ yang sering disalahpahami orang. Maka tidak aneh kalau masyarakat mengerubungi Gus Dur saat meninggal melebihi ulama mana pun saat ini.

Dapat Uang Rp 75 Juta, Disedekahkan Semua

Salah satu sifat mulia Gus Dur adalah kezuhudannya yang luar biasa. Kesederhanaannya bertolak belakang dengan kehidupan masa kini yang sangat mengagungkan dunia materi. Inilah yang membuatnya mampu bertahan dari berbagai godaan harta maupun tahta, yang sering kali menjerumuskan para aktivis yang menyatakan mengabdikan dirinya kepada masyarakat.

Mantan Sekretaris Jenderal PBNU, H. Muhyiddin Arubusman menuturkan, semasa menjadi Ketua Umum, Gus Dur biasa naik angkot atau bajai dan turun di depan gedung PBNU. Tak ada perasaan gengsi dengan angkutan rakyat itu, karena ia menganggap dirinya bagian dari rakyat. Bandingkan saja dengan perilaku pejabat yang meminta berbagai fasilitas mewah, tetapi pengabdiannya kepada rakyat nol besar. “Bagi Gus Dur, yang penting adalah fungsi, bukan gengsinya”, katanya.

Baca Juga:

Pernah suatu saat, sekitar tahun 1990-an, keduanya mengobrol bersama di gedung PBNU. Kala itu, Gus Dur memegang uang Rp 100 warna merah dan membolak-balikannya. Ini uang terakhir yang dipegangnya. Namun, Gus Dur bertutur, “Kayaknya ada yang mau datang, mau kasih uang”.

Benar saja, tak lama kemudian, ada seseorang yang memberi bantuan Rp 75 juta dalam bentuk cek. Tapi begitu si pemberi bantuan keluar, sudah ada orang yang menunggu untuk meminta bantuan dengan jumlah yang sama, Rp 75 juta. Langsung saja, uang itu berpindah tangan.

“Yang membedakan Gus Dur dengan orang lain: beliau seperti talang, menjadi tempat air mengalir. Sementara orang lain itu ibarat kolam, kalau mendapat rezeki diperuntukkan buat dirinya sendiri . kalau talang, selalu bersih. Kalau kolam, selalu ada lumutnya”, ujarnya.

Baca Juga:

Ia mengaku susah untuk bisa mengikuti jejak Gus Dur. Suatu hari, ia diajak Gus Dur untuk berkeliling Jakarta. Berangkat dari gedung PBNU subuh-subuh, mereka berputar-putar untuk menghadiri berbagai acara sampai pukul 21.00. kemudian, ia mengantar Gus Dur ke bandara menuju Surabaya.

Keesokan harinya, ia ditelepon untuk menemaninya selama di Surabaya, tapi ia mengaku fisiknya sudah tidak kuat. “Mengikuti Gus Dur secara fisik saja sudah tidak mampu, apalagi secara rohani”, akunya.

Karena hidup selalu memikirkan orang lain inilah yang menyebabkan hidup Gus Dur akhirnya juga dipikirkan orang lain yang tahu bahwa ia mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Achmad Mukafi Niam dan Syaifullah Amin, Bukti-Bukti Gus Dur itu Wali, Renebook 2014