Gus Dur Diramalkan Pendeta Bakal Jadi Presiden

Gus Dur Diramalkan Pendeta Bakal Jadi Presiden

Diramal Pendeta Bakal Jadi Presiden

Jatuhnya rezim Orde Baru memberi kesempatan terjadinya perubahan kekuasaan. Pada pemilu 1999, terdapat tiga orang calon presiden, yaitu Megawati, Habibie dan Gus Dur. Gus Dur termasuk yang paling tidak diunggulkan, tetapi secara mengejutkan terpilih menjadi Presiden RI ke-4.

Bagi orang-orang tertentu, bahkan mungkin bagi Gus Dur sendiri, menjadi presiden hanya soal waktu saja. Ia sudah tahu bahwa ia harus menjalankan amanah memimpin Indonesia melewati masa-masa krisis yang menentukan nasib bangsa ke depan.

Ramalan pertama tentang naiknya Gus Dur ke kursi kepresidenan berasal dari seorang pendeta sakti beragama Hindu dari Banyuwangi. Sedemikian saktinya, saat terjadi hujan, padepokan pendeta yang berada di atas gunung ini tak kehujanan, sementara di luar wilayahnya basah kuyup.

Pada tahun 1997, dua tahun sebelum jadi presiden, Gus Dur yang memang sangat suka bersilaturrahim kepada siapa saja berkunjung ke pendeta sakti tersebut. Mantan Ketua PBNU, H. Mustofa Zuhad Mughni, mendapat cerita dari Gus Dur bahwa dalam kunjungan itu, ia sudah diramalkan akan menjadi presiden.

Baca Juga:

Selain itu, dia menuturkan, sekitar enam bulan sebelum menjadi presiden, Gus Dur sudah mulai menjaga dirinya. Ia menghindari diajak makan lesehan di dekat Masjid Istiqlal yang sebelumnya menjadi langganannya.

Testimoni lain datang dari KH. Abas Muin. Dalam sebuah pertemuan dengan tokoh LSM, Gus Dur menyampaikan dirinya akan jadi presiden berikutnya. “Teman-teman mengamini saja, untuk menjaga perasaan Gus Dur, meski saat itu juga kurang percaya”, katanya.

Said Aqil Siradj juga menyampaikan, di tengah-tengah upaya penyembuhan stroke, Gus Dur sedang tertidur di atas kursinya. Begitu bangun ia langsung berujar, “Aku presiden”.

Menurut Kang Said, saat penyembuhan stroke ini, indera keenam Gus Dur dalam proses paling tajam. Ia bisa menebak skor pertandingan bola dengan tepat, padahal waktu itu penglihatan Gus Dur sudah sangat tidak memungkinkan untuk melihat pertandingan sepak bola.

Gus Dur Jadi Presiden Karena Tirakat Ayah

Gus Dur jadi presiden, semua orang sudah mafhum. Dia mengetahui dirinya kelak akan jadi orang nomor satu di Indonesia. Banyak orang yang sudah memberi testimoni terkait hal ini. Tapi jika dirunut lebih ke belakang, ternyata proses naiknya Gus Dur ke kursi presiden sudah terjadi dari masa orangtuanya, KH. Wahid Hasyim.

Baca Juga:

Salah satu tradisi warga NU, jika mempunyai cita-cita tinggi atau tekad yang kuat untuk mencapai sesuatu, selain melakukan usaha secara lahir, mereka juga akan melakukan upaya-upaya spiritual, seperti puasa, shalat tahajjud, merutinkan bacaan ayat tertentu, membaca Dalailul Khairat, dan lain-lain.

Suatu ketika, KH. Hasib Wahab, Pengasuh Pesantren Tambak Beras Jombang yang juga putra KH. Wahab Hasbullah, pernah mendapat cerita dari ayahnya bahwa KH. Wahid Hasyim memiliki cita-cita besar menjadi pemimpin bangsa, entah menjadi presiden atau perdana mentri.

Oleh seorang kyai sepuh, ia diminta melakukan sebuah tirakat, tetapi resikonya besar. Jika gagal menjalaninya sampai akhir, bisa meninggal dunia. Riyadhah yang harus dijalani adalah melakukan puasa selama lima tahun penuh, di luar hari tasyrik atau hari-hari besar yang dilarang menjalankan puasa.

Kemudian, KH. Wahid Hasyim menjalani riyadhah itu dengan baik. Setiap hari ia melakukan puasa, apapun kondisinya. Dalam buku biografinya dikisahkan, KH. Wahid sampai berpura-pura makan bersama tamu untuk menghormatinya. Ketika mengalami kecelakaan di Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953 di usia 38 tahun, puasa itu sudah dijalaninya selama 3 tahun 8 bulan.

Baca Juga:

Memang, saat ia meninggal belum sempat meyelesaikan riyadhah-nya atau mencapai cita-citanya. Akan tetapi, putra pertamanya, KH. Abdurrahman Wahid telah berhasil mewujudkan cita-cita orangtuanya dan menjadi presiden ke-4 Indonesia.

Dalam suatu kesempatan di istana, ketika Gus Dur masih menjadi presiden, Gus Hasib pernah mengonfirmasi kebenaran cerita dari Mbah Wahab tersebut, dan Gus Dur mengiyakan. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Achmad Mukafi Niam dan Syaifullah Amin, Bukti-Bukti Gus Dur itu Wali, Renebook 2014