Gus Dur Di Mata Keluarga

Gus Dur Di Mata Keluarga

Tak Perlu Heboh Soal Kewalian

Fenomena ambrolnya makam Gus Dur di Tebuireng, yang kemudian dianggap sebagai tanda kewalian karena terlihat kafannya yang masih putih bersih, tidaklah perlu disikapi berlebihan. Makam yang ambrol adalah hal biasa, terutama jika terguyur hujan dalam waktu lama.

Inilah menurut Aisyah Wahid, adik Gus Dur, dalam perbincangan dengan penulis di kediamannya di Kemang, Jakarta Selatan. Istri KH. Hamid Baidhowi ini berharap, masyarakat tidak perlu menghebohkan kewalian Gus Dur. “Tidak perlu heboh tentang wali. Karena hanya Allah dan para wali yang tahu tentang wali”, ungkapnya.

Lebih lanjut, mantan anggota DPR RI ini menyatakan, kejadian sebenarnya tidaklah seheboh yang diperbincangkan media dan masyarakat. Karenanya, Aisyah berharap masyarakat tidak perlu membahasnya berlarut-larut.

Baca Juga:

“Makam Gus Dur telah empat kali longsor. Makam itu longsor karena dahulu waktu dikebumikan tidak ada yang berani memadatkan urukannya. Ndak sopan katanya”, tandas Aisyah.

Kakek dan Ayahnya Lebih Layak Disebut Wali

Banyak orang memberi predikat Gus Dur sebagai wali ke-10, melengkapi Wali Songo yang telah menyebarkan Islam di Nusantara. Namun, Pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahid Hasyim malah jarang disebut sebagai wali.

Bagi Lily Wahid, adik Gus Dur lainnya, KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahid Hasyim yang merupakan kakek dan ayah Gus Dur lebih layak menyandang sebutan sebagai wali karena amal ibadahnya. “Dalam unsur kewalian, keduanya mengikuti kehidupan Rasulullah, terutama ubudiahnya”, katanya disela-sela acara Seabad KH. Wahid Hasyim di Jakarta.

Ia menggambarkan bagaimana tekunnya ibadah kakek dan ayahnya. Saat dihadapkan pada persoalan pelik, KH. Hasyim Asy’ari, mampu menjalankan shalat hajat selama 5-6 jam. Sementara itu, KH. Wahid Hasyim rutin menjalankan puasa selama 4 tahun berturut-turut sebelum meninggal, kecuali pada hari-hari yang diharamkan berpuasa.

Baca Juga:

Ia merasa tidak tepat jika perjuangan dan ijtihad Gus Dur dalam bidang sosial politik membuat dia menjadi wali. Baginya, wali selalu terkait dengan amalan ubudiah dan ilahiah. Mengenai adanya testimoni dan orang-orang yang mengaku pernah menyaksikan Gus Dur, ia meminta agar hal ini disikapi dengan hati-hati karena tidak semua berasal dari malaikat.

Menjadi Suami Biasa Di Rumah

Bagaimana rasanya punya ayah atau keluarga yang diyakini publik menjadi kekasih Allah? Apakah di dalam lingkungan keluarga juga penuh peristiwa ajaib sebagaimana disaksikan orang-orang diluar?

Bagi orang biasa, bisa bersalaman dan mencium tangan seorang yang dipercaya sebagai wali rasanya sudah seperti memperoleh berkah luar biasa. Lalu bagaimana sebenarnya keluarganya menjalani kehidupan, bergaul dan bercengkrama dengan manusia istimewa itu? Pertanyaan-pertanyaan itu menimbulkan rasa penasaran luar biasa.

Pada kesempatan dalam acara Muslimat NU, penulis meminta komentar kepada istri Gus Dur, tentang pendapat yang mengatakan Gus Dur merupakan seorang wali. Bukan sembarang wali, tetapi memiliki derajat yang tinggi dalam struktur hierarki wali.

“Ya, Gus Dur itu wali, wali muridnya anak-anak”, katanya sambil tertawa renyah.

Ia menjelaskan, keseharian Gus Dur sebagai suami seperti layaknya keluarga yang lain. Demikian pula terhadap anak-anaknya. Masih penasaran, penulis pun mencoba mengkonfirmasi kepada Alissa Wahid, putri pertama Gus Dur. “Nggak ada yang aneh dengan kehidupan Bapak”, ujarnya.

Baca Juga:

Ia mengaku tidak pernah menyaksikan langsung karamah-karamah yang dimiliki Gus Dur, tetapi ia sering mendengar testimoni dari para sahabat dan pengikutnya tentang kewalian Gus Dur.

Bahkan, Alissa mengaku sampai saat ini ia belum pernah bermimpi bertemu ayahnya. “Yang sering dimimpiin Bapak itu Yenny dan Anita. Diingatkan untuk begini-begini. Kalau saya malah tidak pernah”, jelasnya.

Tetapi ia malah bersyukur tidak bermimpi bertemu Gus Dur, karena bisa mengingatkan kenangan masa lalunya ketika masih bersama dan menjadi sedih. “Mungkin Bapak tahu, kalau bermimpi saya malah sedih”, terang wanita yang akrab dipanggil Mbak Lissa ini. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Achmad Mukafi Niam dan Syaifullah Amin, Bukti-Bukti Gus Dur itu Wali, Renebook 2014