Gus Dur Di Mata Keluarga (3)

Gus Dur Di Mata Keluarga (3)

Hanya Allah Yang Mengetahui Kewalian Seseorang

Bagaimana pendapat saudara-saudara kandung Gus Dur tentang kewaliannya? Satu persatu penulis menemui mereka dan menanyakan pendapatnya. Kali ini, giliran dr. Umar Wahid, adik Gus Dur yang berprofesi sebagai seorang dokter.

Ia menyatakan, tak bisa menilai dan tak memiliki otoritas untuk menyatakan Gus Dur itu wali atau bukan. Namun secara pribadi, ia mengakui menyaksikan sendiri keanehan-keanehan di luar nalar pada diri kakaknya.

Bukan tanpa alasan bila ia tak mau menilai seorang itu wali atau bukan. Saat masih menjadi mahasiswa, di Jombang terdapat seorang kyai yang oleh masyarakat dimasyhurkan sebagai wali. Dalam sebuah pertemuan, ia menyaksikan wali itu kencing di kebun, yang menurutnya tek etis. “Jarene wali kok koyok ngene”, kisahnya. Katanya wali, kok seperti ini.

Lalu , ia menanyakan hal itu kepada KH. Bisri Syamsuri, yang merupakan kakek sekaligus ulama yang dihormatinya. “Mbah, meniko saestunipun wali nopo sanes?” Mbah, itu sebenarnya wal apa bukan?

Baca Juga:

Bisri Syamsuri menjawab, “Mar, sing ngerti wali opo duduk yo Gusti Allah”, Umar, yang tahu wali apa bukan hanya Allah.

Mengenai Gus Dur, beberapa kejadian di luar nalar yang dialaminya adalah ketika kakaknya itu terkena penyakit stroke. Menurut pengetahuannya sebagai dokter, resiko stroke yang dialami Gus Dur sudah sangat tinggi. Kalau tidak selamat, bisa cacat atau fungsi otaknya terganggu. Tapi Alhamdulillah, Gus Dur selamat secara sempurna.

“Saya tidak tahu, itu karamah atau bukan. Tapi saya menyaksikan sendiri banyak hal yang secara nalar saya nggak masuk akal, sesuatu yang aneh dari seorang Gus Dur”, terangnya.

Tidak Pernah Merasa Takut

Menurut tradisi sufi, tak ada orang yang tahu seseorang itu wali atau kekasih Allah, kecuali wali lainnya. Meski demikian, H. Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur, yakin akan kewalian Gus Dur.

Baca Juga:

Ia merujuk pada Surah Yunus ayat 62-64, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati, (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa, Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar”. (QS. Yunus: 62-64)

“Gus Dur pada batas tertentu keberaniannya di atas rata-rata. Ketakutannya terhadap urusan dunia terbukti tak pernah menghalangi perjuangan dia untuk, katakanlah menolong umat, membantu masyarakat. Maka dia tak punya rasa takut kepada apa pun kecuali Allah”, katanya.

Mengenai aspek mistis Gus Dur, Saifullah Yusuf yang masih ada hubungan keponakan dengan Gus Dur ini mengaku tak pernah melihat sesuatu yang diluar nalar dalam diri pamannya. “Ndak ada mistis dari Gus Dur, tapi beliau ahli silaturrahim (baik kepada yang hidup maupun yang sudah mati). Al-ahya’ minhum wal amwat. Wong NU kalau ketemunya yang urip (hidup) saja, kurang NU. Diparani kabeh (didatangi semua), ini ciri khas NU”, tuturnya.

Baca Juga:

Tentang hubungan pribadinya yang tidak selalu cocok, ia menjelaskan, Gus Dur yang mengajarkan perbedaan. “Gus Dur ngerti ini konsekuensi apa yang selama ini diyakini. Dia membesarkan orang yang suatu saat berhadapan dengan dirinya, baik dari sisi pemikiran maupun politik, itu biasa baginya. Dan ini dibawa sampai beliau wafat”, papar pria yang akrab disapa Gus Ipul ini.

Ia menambahkan, seorang wali memiliki keunggulan komparatif dibanding manusia biasa, melampaui mereka, baik dalam akidah maupun ketakwaannya. “Saya menganggap Gus Dur di atas rata-rata. Karena diberi di atas rata-rata, berarti kekasih Allah. Gus Dur ora duwe wedi. Gus Dur itu tidak punya rasa takut”, tegasnya. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Achmad Mukafi Niam dan Syaifullah Amin, Bukti-Bukti Gus Dur itu Wali, Renebook 2014