Durhaka Kepada Suami

Durhaka Kepada Suami

Kedurhakaan Seorang Istri Terhadap Suami

Dalam bingkai kehidupan rumah tangga, pasangan suami dan istri masing-masing memiliki hak dan kewajiban yang harus dipenuhi. Suami sebagai pemimpin, berkewajiban menjaga istri dan anak-anaknya dalam urusan kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat.

Allah Swt berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim: 6)

Baca Juga :

Tanggung jawab seorang suami yang tidak ringan tersebut diimbangi dengan adanya hak baginya yang sekaligus menjadi kewajiban istri yang menjadi pasangannya. Betapa besar dan agungnya hak-hak suami yang wajib dipenuhi oleh seorang istri.

Betapa mulianya istri yang mampu serta tulus menunaikan tugas tersebut. Sebaliknya seorang istri yang tidak memenuhi hak suaminya, berarti dia telah berdosa karena telah berbuat durhaka pada suaminya. Durhaka pada suami, dalam kaidah syar’i biasa disebut juga dengan nusyuz.

Dalam kitab Lisan al-Arabi karya Ibnu Mandzur, didefinisikan bahwa nusyuz adalah perasaan benci dari salah satu pihak (suami atau istri) terhadap pasangannya. Adapun dalam kitab Al-fiqh wa Adilatuhu karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili disebutkan bahwa nusyuz adalah ketidakpatuhan salah satu pasangan terhadap apa yang seharusnya dipatuhi atau perasaan benci terhadap pasangannya. Dengan kata lain nusyuz berarti tidak taatnya suami atau istri terhadap aturan-aturan, yang telah diikat oleh perjanjian yang telah terjalin dengan ikatan perkawinan tanpa alasan yang dibenarkan oleh syara’.

Dari pengertian diatas, dapat kita pahami bahwa nusyuz atau kedurhakaan itu bisa terjadi pada oihak istri maupun pada pihak suami. Nusyuz yang terjadi dari pihak istri, dasar hukumnya merujuk pada firman Allah Swt:

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ وَٱلَّٰتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِي ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَكُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡهِنَّ سَبِيلًاۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيّٗا كَبِيرٗا ٣٤

Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. An-Nisa’: 34).

Baca Juga :

Adapun nusyuz yang terjadi dari pihak suami, hukumnya merujuk pada firman Allah Swt:

وَإِنِ ٱمۡرَأَةٌ خَافَتۡ مِنۢ بَعۡلِهَا نُشُوزًا أَوۡ إِعۡرَاضٗا فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِمَآ أَن يُصۡلِحَا بَيۡنَهُمَا صُلۡحٗاۚ وَٱلصُّلۡحُ خَيۡرٞۗ وَأُحۡضِرَتِ ٱلۡأَنفُسُ ٱلشُّحَّۚ وَإِن تُحۡسِنُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٗا ١٢٨

Artinya: “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. An-Nisa’: 128).

Nusyuz dapat terjadi dalam bentuk perkataan atau tindakan. Sebagai contoh, seorang istri tidak berbicara sopan pada suaminya, memaki-maki, membentak, atau menjawab dengan ketus perkataann suami padahal si suami berbicara dengan santun. Inilah merupakan kedurhakaan dalam bentuk perkataan.

Adapun nusyuz dalam bentuk perbuatan dari pihak istri misalnya tidak mau pindah ke rumah yang telah disediakan oleh suami karena merasa lebih nyaman berada dirumah orangtua atau rumah sendiri. Tak melaksanakan perintah suami sehingga suami tidak ridha dengan sikapnya itu. Keluar rumah tanpa seizin suami untuk jangka waktu tertentu dan lama padahal belum ada kesepakatan bersama sebelumnya. Tidak mau melayani suami (hubungan suami istri) tanpa udzur syar’i padahal suami sangat menginginkannya, dan lain sebagainya.

Tanpa disadari oleh istri yang durhaka pada suami, dia telah terseret ke lembah kemurkaan dan kebencian yang sangat dalam.  Allah murka dengan sebab suaminya tidak ridha kepadanya. Bahkan istri suaminya dari kalangan bidadari surga juga marah sampai mendoakan keburukan.

Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan istri suaminya dari kalangan bidadari akan berkata, “Janganlah engkau menyakitinya, semoga Allah membinasakanmu. Dia (suamimu) hanyalah tamu di sisimu, sebentar lagi dia meninggalkanmu menuju kepada kami”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Pada suatu hari Rasulullah Saw bercerita, “Kebanyakan penghuni neraka adalah wanita”. Maka seorang wanita bertanya kepada beliau, “Kenapa demikian ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kebanyakan istri itu berbuat durhaka kepada suaminya”.

Baca Juga :

Dari Hushain bin Muhsan, dari bibinya, dia berkata, “Saya mendatangi Rasulullah Saw untuk suatu keperluan. Beliau bertanya, “Siapakah ini, apakah sudah bersuami?” “Sudah”, jawabku. “Bagaimana hubunganmu dengannya?” tanya beliau. “Saya selalu menaatinya sebatas kemampuanku”, jawabku. Beliau bersabda, “Perhatikanlah selalu bagaimana hubunganmu dengannya, sebab suamimu adalah surgamu dan nerakamu”. (HR. Nasai dan Ahmad). (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Dosa-Dosa Yang Digemari Wanita Indonesia, Siswati Ummu Ahmad, 2014