Doa Ketika Rosulullah di timpa bencana ,Penjelasan Asma Allah “ Al-Wakil “ dalam (QS. Ali ‘Imron : 173)

Doa Ketika Rosulullah di timpa bencana ,Penjelasan Asma Allah “ Al-Wakil “ dalam (QS. Ali ‘Imron : 173)

Doa Ketika Rosulullah di timpa bencana ,Penjelasan Asma Allah “ Al-Wakil “ dalam (QS. Ali ‘Imron : 173)

Dalam kuliah islam sebelumnya sudah dijelaskan tentang Asma Allah ٱلۡحَكِيمُ   yang mana diterangkan dalam Surah Ali ‘Imron ayat 18 dan doa yang tersebut didalamnya. Pada kesempatan kali ini kuliah islam insya Allah akan membahas asma Allah yang berupa “Al-Wakil” yang terdapat dalam Surah Ali ‘Imron ayat 173 dan doa Rosulullah pada asma Allah tersebut.

Allah Berfirman :

ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ إِيمَٰنٗا وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ ١٧٣

Artinya : “(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (QS. Ali ‘Imron : 173)

Doa yang terkandung dalam Surah Ali ‘Imron ayat 173 ialah

Dari Abu Bakrah ra., Bahwasanya Rosulullah Saw. berdoa ketika ditimpa bencana, dan inilah doanya :

اَللّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُوْ فَلاَ تَكِلْنِيْ اِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ وَاَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ لاَاِلهَ اِلاَّ اَنْتَ

Artinya : “Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harap, janganlah Engkau menyerahkanku kepada diriku sendiri walau hanya sekejap mata, perbaikilah seluruh urusanku, tiada Tuhan kecuali Engkau.”

Allah SWT mempunyai nama الوَكِيْلُ  artinya ialah Yang Mengurus alam semesta. Dialah yang menciptakan alam semesta dan mengurusnya, memberikan hidayah, dan menakdirkannya. Dialah tempat bergantung bagi segenap hamba-Nya. Dialah Yang Maha Menanggung rezeki dan kemaslahatan segenap hamba. Allah menjadi wakil bagi segenap orang beriman yang bersujud dengan daya dan kekuatan dari-Nya. Mereka keluar dari daya dan kemampuan mereka sendiri, lalu beriman kepada kesempurnaan kekuasaan-Nya. Orang-orang beriman yakin bahwa tiada daya dan upaya tanpa pertolongan Allah. Mereka serahkan segala urusan kepada-Nya sebelum mereka berusaha. Mereka memohon pertolongan kepada Allah dalam usaha mereka. Mereka memuji dengan bersyukur kepada-Nya setelah mendapat limpahan taufik.

Seorang muslim yang mengesakan Allah dengan nama ini hendaknya yakin bahwa Allah telah menetapkan rezeki baginya. Maka, janganlah berpangku tangan untuk mencarinya. Dia harus mencari cara untuk mendapatkan rezeki itu dengan tetap menghindari sifat rakus dan tamak, apalagi rusaknya hati. Jangan sia-siakan hak istri dan anak kendati rezeki mereka itu ada di tangan Allah karena orang yang melakukan hal ini adalah orang yang meninggalkan sunnah. Derajat dan tingkatan tawakkal mesti dipahami oleh seorang muslim agar tidak di anggap sepele. Artinya, jangan sampai ia mengambil satu hal dan meninggalkan hal lainnya.

Derajat yang pertama ialah hati yang menghadap kepada Allah secara kontinyu karena ia tahu bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu. Adapun yang dinamakan ‘cara’, tidak lain hanyalah seperti sebuah alat ditangan seorang tukang.

Yang kedua adalah anggota badan yang menghadap dan mengusahakan sebab, karena Allah menetapkan akibatnya untuk sebuah hikmah. Segala sesuatu yang ada, berlaku, dan terjadi sebagai ujian dan cobaan. Adanya hukuman atas manusia, adanya balasan kepada orang yang menganiaya dan yang teraniaya dengan pahala ataupun siksa tidak lain agar orang yang bertawakkal berdiri tegak dihadapan hukum syari’ah, menghayati arti karunia dan kesengsaraan.

Yang ketiga adalah berserahnya seorang muslim dan ridlo terhadap hasil yang telah ditetapkan baginya. Ia tunduk dan rela terhadap Qodlo’ dan Qodar Allah yang terjadi setelah ia mengambil sebabnya. Ia tidak menyerah sebelum berusaha karena hal itu menyebabkan tawakkal tertolak. Seorang hamba hendaknya berkeyakinan yang baik, indah dalam kesabaran, dan memahami hakikat ridlo sehingga hati menjadi tenang ketika ditimpa berbagai macam kejadian dan bencana. Demikian juga jiwa menjadi tenang dalam memahami hikmah ujian karena mereka meyakini bahwa hanya Allah-lah yang mengatur segenap makhluk sebagaimana yang Dia kehendaki. (kuliahislam)