Doa asma’ul husna dalam Al-Qur’an,Penjelasan Asma Allah “ Al-Khakim “ dalam (QS. Ali ‘Imron : 18)

Doa asma’ul husna dalam Al-Qur’an,Penjelasan Asma Allah “ Al-Khakim “ dalam (QS. Ali ‘Imron : 18)

 

Doa asma’ul husna dalam Al-Qur’an,Penjelasan Asma Allah “ Al-Khakim “ dalam (QS. Ali ‘Imron : 18)

Allah Berfirman :

شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَأُوْلُواْ ٱلۡعِلۡمِ قَآئِمَۢا بِٱلۡقِسۡطِۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ  ١٨

“ Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada Tuhan selain Dia, yang Maha perkasa lagi Maha  bijaksana.” (QS. Ali ‘Imron : 18)

Penjelasan lafadz ” بِالْقِسْطِ ”  dijelaskan bahwasanya arti lafadz الْقِسْطُ ialah bagian dengan adil seperti An-Nasafi dan An-Nasafati yaitu keadilan, sebagaimana terdapat dalam QS. Yunus ayat 4

إِلَيۡهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِيعٗاۖ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقًّاۚ إِنَّهُۥ يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ لِيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ بِٱلۡقِسۡطِۚ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَهُمۡ شَرَابٞ مِّنۡ حَمِيمٖ وَعَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡفُرُونَ ٤

“ Hanya kepada-Nya kamu semua akan kembali. Itu merupakan janji Allah yang benar dan pasti, Sesungguhnya Dialah yang memulai penciptaan makhluk kemudian mengulanginya (menghidupkannya kembali setelah berbangkit), agar Dia memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dengan adil. Sedangkan untuk orang-orang kafir (disediakan) minuman air yang mendidih dan siksaan yang pedih karena kekafiran mereka”. (QS. Yunus : 4)

Al-Qistu dalah mengambil bagian orang lain dan itu perbuatan jahat. Sedangkan Al-Iqsaatu ialah memberikan bagian orang lain dan itu adalah tindakan yang fair. Oleh karena itu, seorang laki-laki dikatakan Qosato apabila telah melanggar , dan Aqsato apabila berbuat adil.

Dan doa asmaul husna dalam (QS. Ali ‘Imron : 18) diceritakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim disebutkan bahwasanya seorang Arab baduy pernah datang kepada Rosululah SAW, kemudian berkata, “ Ajarkanlah aku sebuah doa yang dapat aku baca.” Beliau menjawab,

“katakanlah:

لآاِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ  اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ

Artinya: “ Tiada tuhan melainkan Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, Allah Mahabesar sebesar-besarnya dan segala puji hanya bagi Allah sebanyak-banyaknya, Mahasuci Allah, Tuhan alam semesta, tiada daya dan upaya kecuali karena Allah Yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana.”

Dalam QS. Ali ‘Imron : 18 Allah Swt. mempunyai nama الْحَكِيْمُ yang artinya adalah hanya Dia yang disifati bijaksana secara hakiki. Maksudnya, segala sesuatu akan kembali kepada keputusan-Nya. Sifat ini berlaku bagi Allah, sebagaimana sifat-sifat Allah yang lainnya . Dialah yang maha bijaksana untuk mencitakan segala sesuatu berdasarkan hikmah-Nya. Dialah maha bijaksana dalam pemnuatan-Nya, menciptakan segala sesuatu dengan segenap kebijaksanaan yang paripurna, sesuai dengan tuntunan penciptaan sehingga terjadi adanya hubungan sebab dan akibat, aksi dan reaksi.

Semua makhluk berjalan sesuai dengan tujuan penciptaan. Jika Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya, Qodlo’ tidak akan mampu menolak. Apa yang Allah kehendaki akan terjadi dan apa yang Allah tidak kehendaki tidak akan terjadi. Hanya Allah yang maha bijaksana, yang meletakkan segala sesuatu sesuai dengan tempatnya. Dia maha mengetahui kekhususan dan manfaatnya, menyusun sebab dan akibatnya sehingga tidak keluar satupun yang telah ditakdirkan, yakni ilmu, kehendak, Qodlo’ dan Qodar-Nya. Demikian pula tidak akan keluar sesuatu pun dari keadilan dan hikmah-Nya. Hal itu menunjukkan kepada nama-Nya Yang Maha Bijaksana.

Seorang muslim yang mengesakan Allah dengan nama ini hendaknya dalam hatinya terpatri untuk memilih manhaj Allah sebagai petunjuk dan penuntun sehingga ia menjadi bahagia dan tidak ridlo untuk digantikan dengan selainnya. Hal itu disebabkan pengetahuan dan keyakinannya bahwa hanya Allah Yang Maha tinggi lagi Maha Sempurna. Sungguh tidak layak untuk memperbandingkan manhaj buatan manusia dengan wahyu Allah. Seorang muslim yang mengesakan Allah dengan nama ini, dialah hamba yang robbani, mukmin yang bersih, bertaqwa, yang mendengar dengan pendengaran Allah. Ia tidak mendengar kecuali apa yang Allah ridloi, ia tidak melihat kecuali apa yang Allah ridloi. (kuliahislam)