Dahsyatnya Nahi Mungkar Ala Sufi (2)

Dahsyatnya Nahi Mungkar Ala Sufi (2)

Menghalau Angkara dengan Panah Hati

Dalam kitab Latha’ifulMa’­arif Syekh Ibnu Rajab menyebutkan, “Sebuah nasehat tidak akan pernah memberikan manfaat kecuali kalau benar-benar keluar dari hati. Karena sesuatu yang keluar dari hati akan masuk ke dalam hati. Sedangkan sesuatu yang keluar dari mulut akan masuk melalui telinga lalu keluar dari telinga yang lain”.

Yang dimaksud hati di sini, setidaknya ada dua hal, yaitu ketulusan tujuan dan kesucian hati dari berbagai sifat tercela.

Pertama, mengenai kuatnya peran ketulusan tujuan, Ikrimah al-Barbari (murid Ibnu Abbas) bercerita, konon ada seorang ahli ibadah (Abid) hendak menebang sebuah pohon besar yang disembah oleh penduduk setempat. Di tengah jalan ia dihadang oleh setan yang menyamar sebagai manusia. Setan itu hendak menghalangi langkahnya, sehingga terjadilah pertarungan. Si Abid dapat menyingkirkan setan itu dengan amat mudah.

Lalu, setan pun menawarkan langkah damai. “Pulanglah engkau… Aku jamin setiap hari akan ada empat keping dirham di bawah alas tidurmu”.

Baca Juga:

Si Abid menyetujui. Ternyata benar, setiap pagi di bawah alas tidurnya selalu ada empat keping dirham. Namun, ternyata hal itu tidak berlangsung lama. Beberapa hari kemudian, keping-keping dirham itu tidak muncul lagi. Si Abid marah, merasa dikhianati. Dia langsung mengambil kapak dan bergegas pergi untuk menebang pohon tersebut. Si tengah jalan, setan itu kembali menghadangnya. Pertarungan tak dapat dielakkan. Anehnya, kali ini, justru si Abid yang tak berdaya di hadapan setan tersebut.

Lalu setan itu angkat bicara. “Pulanglah, Sekarang engkau tidak akan bisa menebang pohon itu. Dulu, kau datang kesini untuk membela agama. Kalaupun seluruh makhluk berkumpul untuk menghentikan langkahmu, mereka tidak akan mampu. Tapi, sekarang engkau datang ke sini karena dirham, maka kau tidak memiliki kekuatan apapun untuk menebangnya”.

Si Abid itu pulang tanpa daya, kekuatan dirinya hilang bersama dengan hilangnya ketulusan niat dari hatinya.

Kedua, setiap manusia merasakan bahwa kondisi hati sangat berpengaruh terhadap kondisi tubuh, sebagaimana kondisi tubuh juga dapat berpengaruh terhadap perasaan hati. Kesucian hati menyebabkan sebuah kata-kata memiliki sentuhan yang tajam. Dan secara psikologis, manusia memang cenderung membuka pintu hatinya untuk kata atau sikap yang muncul dari orang yang dia yakini baik.

Oleh karena itu, para sufi tidak terlalu membutuhkan teknik orasi untuk meresapkan pengaruh dahsyat kata-kata. Contohnya, Imam Abdul Wahid bin Zaid al-Bashri, sufi dari generasi Tabi’it Tabiin yang masih terhitung murid Imam Hasan al-Bashri.

Baca Juga:

Ditengah-tengah memberikan mauidzah, seorang hadirin berdiri dan memohon agar mauidzah segera dihentikan. “Wahai Abu Ubaidah (julukan Imam Abdul Wahid). Cukup! Ucapanmu benar-benar telah membuka pintu hatiku”, teriaknya.

Imam Abdul Wahid tidak berkenan. Beliau tetap meneruskan mauidzahnya. Akhirnya, orang itu jatuh pingsan, dan tak lama kemudian ia mengehmbuskan nafas terakhirnya.

Peristiwa yang hampir sama pernah juga terjadi di majelis taklim Imam asy-Syibli, pemuka sufi Abad Keempat Hijriah.

Dahsyatnya nasehat para sufi tersebut, tentu saja bukan karena mereka menggunakan teknik orasi yang memukau, melainkan karena kuatnya sentuhan batin yang mengalir deras dari jiwa mereka, memenuhi ruang jiwa dari para obyek dakwahnya.

Berawal dari hal itu, ada konsep sufi yang meletakkan taghyirul-munkar bil-qalbi (mencegah kemungkaran melalui hati) sebagai cara istimewa yang dipakai secara khusus oleh kalangan mereka sendiri.

Syekh Abdul Qadir al-Jilani menyatakan, “Janganlah engkau menolak kemungkaran dengan nafsumu, tapi ingkarilah dengan imanmu. Imanlah yang mengingkari, lalu keyakinan yang membuat kemungkaran itu hilang atau pergi”.

Baca Juga:

Tentu saja, penerapan nahi mungkar dengan model ini bukanlah untuk konsumsi umum. Sebab, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang khusus dalam kondisi tertentu. Maka, meskipun model ini benar-benar ada dan nyata, namun tetap tidak bisa dijadikan sebagai strategi nahi mungkar dalam bentuk yang reguler. Keistimewaan semacam ini sangatlah abstrak, tidak bisa dicapai melalui proses yang terukur; tidak dalam sehari, tidak dalam sebulan, tidak dalam setahun, atau bahkan tidak bisa dicapai sepanjang hidup seseorang.

Oleh karenanya, untuk kita yang awam, nahi mungkar bil-qalb ala sufi ini seharusnya menjadi inspirasi untuk menghidupkan kekuatan hati, bukan malah menjadi alasan untuk berdiam diri saat melihat kemungkaran, sambil menunggu hatinya yang mati. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Menjadi Sufi Berduit, Pon-Pes Sidogiri Jawa Timur