Asal Mula Wajibnya Puasa Ramadhan

Asal Mula Wajibnya Puasa Ramadhan

Apa iya zaman dahulu  puasa Ramadhan hukumnya tidak wajib???

penasaraaaan….? Baca yuk artikelnya 🙂 

Puasa dalam Bahasa Arab disebut dengan Ash Shiyam atau Ash Shaum. Secara Bahasa Ash Shiyam artinya al imsaak yaitu menahan diri (Fiqih Puasa).

Sedangkan secara istilah ash shiyaam artinya beribadah kepada allah swt dengan menahan makan dan minum dan hal-hal yang membuat batalnya puasa, yang dimulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahri (Fiqih Puasa).

Pada zaman Rasulullah Saw dan para sahabatnya sudah berpuasa sebelum turunnya ayat al-Qur’an sebagai penegas wajibnya puasa Ramadhan. Puasa yang dijalankan rosulullah saw dan para sahabatnya yaitu puasa asyura’ dan puasa 3 hari setiap bulannya (Arake, 2014).

Adanya perintah untuk melakukan puasa didasarkan pada Alquran, Hadist, dan kesepakatan ulama (Ulfah, 2016). Dalil yang menyatakan kewajiban berpuasa disebut dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 183. Allah Swt. berfirman:

quran surat al baqoroh ayat 183

 

 

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (Q.S. Al Baqoroh: 183)

Adapun Hadist yang menerangkan kewajiban berpuasa salah satunya Hadist yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar yang menerangkan rukun Islam dan Hadist Qudsi (Ulfah, 2016).

hadis puasa 1

 

 

 

Artinya : “Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah Saw. bersabda: “Islam dibangun diatas lima (landasan); persaksian tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadan” (HR. Bukhari).

Berdasarkan dalil di atas ulama sepakat bahwa puasa Ramadhan itu wajib dilaksanakan setiap muslim. Kewajiban berpuasa bagi umat Islam ditetapkan dan diterapkan pada periode Madinah, sebagaimana umumnya ibadah lainnya.

Puasa ditetapkan Nabi Muhammad Saw sebagai ibadah wajib pada tahun ke 2 Hijriyah setelah arah kiblat diubah dari Masjidil Aqsha di Yerusalem ke Ka’bah, Baitullah, Mekkah.

Puasa Ramadan wajib dimulai ketika melihat atau menyaksikan bulan pada awal bulan Ramadan. Adapun dalam Hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dikatakan:

 

 

Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a Nabi Saw. bersabda: “Berpuasalah kalian dengan melihatnya (hilal) dan berbukalah dengan melihatnya pula. Apabila kalian terhalang oleh awan maka sempurnakanlah jumlah bilangan hari bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.”(HR. Bukhari).

Berdasarkan Hadis tersebut, maka ada beberapa ketentuan yang bisa dilakukan untuk menentukan awal Ramadan (kitab Safinatun Najah), antara lain:

1. Dengan mencukupkan bulan sya’ban 30 hari

Sempurnanya bulan sya’ban, yaitu tiga puluh hari

2. Dengan melihat bulan, bagi yang melihatnya sendiri.

Melihat tanggal (hilal) bagi seorang yang benar-benar melihatnya, meski ia orang fasik

3.Dengan melihat hilal yang disaksikan oleh seorang yang adil di muka hakim

Melihat hilal dapat ditetapkan bagi orang yang tidak melihat hilal dengan sebab adanya persaksian orang yang adil dan dapat dipercaya bahwa ia telah melihat hilal.

4. Dengan kabar dari seorang yang adil riwayatnya juga dipercaya kebenarannya, baik yang mendengar kabar tersebut membenarkan atau tidak, atau tidak dipercaya akan tetapi orang yang mendengar membenarkannya.

5. Dengan berijtihad masuknya bulan Ramadhan bagi orang yang meragukan dengan hal tersebut.

Menyangka masuknya Ramadhan dengan ijtihadnya sendiri bagi seorang yang remang-remang atau tidak dapat mengakses informasi dengan jelas.

Seperti seorang yang ada di dalam buih atau penjara, yang tidak tahu masuknya bulan Ramadhan.

Kemudian setelah mengetahui ketentuan-ketentuan untuk menentukan awal Ramadhan, dan sudah diketahui masuk bulan Ramadhan, maka umat muslim wajib melaksanakan puasa Ramadhan dengan mengetahui beberapa hal, yaitu:

(novia_khil/kuliahislam)

SUMBER:

Arake, Lukman. 2014. Sejaran Puasa (Dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW). Makassar: Pustaka Literasi.

Ulfah, Zakiah. 2016. Manfaat Puasa dalam Perspektif Sunnah dan Kesehatan (Skripsi). Medan: UIN Sumatra Utara.

Kitab Safinatun Najah oleh Syekh Salim bin Abdullah bin Saad bin Sumair Al hadhrami.

Fiqih Puasa.