Adab Seorang Atasan Dan Bawahan Menurut Agama

Adab Seorang Atasan Dan Bawahan Menurut Agama

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Pentingnya Adab Seorang Atasan Dan Bawahan Menurut Al Qur’an Dan Hadits

Seorang pimpinan hendaknya memberikan kemudahan untuk para karyawan atau (anak buah) dalam mengerjakan kewajiban mereka kepada Allah SWT seperti sholat dan puasa. Selain itu, janganlah membuat peraturan perusahaan yang bertentangan dengan hukum Allah SWT seperti, melarang memakai jilbab dan sebagainya, atau membuat aturan yang memudahkan terjadinya perbuatan maksiat dan dosa seperti ikhtilat yang diharamkan antara laki-laki dan perempuan.

Seorang pimpinan hendaknya mengetahui bahwa seorang karyawan yang beragama lebih dekat kepada kebaikan. Sebab, dia bekerja atas dasar keikhlasan, selalu merasa diawasi oleh Allah SWT, dan lebih amanah dalam menjalankan peraturan. Orang yang paling bisa dipercaya adalah mereka yang suka melakukan sholat.

Umar bin Khatab ra. berkata kepada para Walinya, “Ingatlah bahwa perkara yang paling penting bagiku adalah sholat. Ingatlah bahwa tidak ada yang paling berharga dan tidak ada keberuntungan dalam Islam bagi orang yang tidak sholat.” Ia menambahkan, “Siapa yang kehilangan sholatnya, maka rusak pula perbuatan yang lainnya.”

Setiap pimpinan perusahaan hendaklah memilih karyawan dengan sebaik-baiknya.

إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

“Karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (al-Qashash:26).

Seorang pemimpin dibebani amanah dan tanggung jawab yang harus ia laksanakan untuk mencapai tujuan dari apa yang ia pimpin. Dalam islam setiap manusia yang terlahir di muka Bumi ini yakni seorang pemimpin yang memimpin umat ini kepada Allah SWT. Semakin banyak orang yang dipimpinnya semakin berat pula beban yang dipikulnya.

Kepemimpinan tidak boleh diberikan kepada orang yang memintanya terlebih dengan ambisius untuk mendapatkannya. Kenapa? Karena dikhawatirk dia tidak mampu mengemban amanah tersebut kemudian mungkin mempunyai niat lain atau ingin mengambil keuntungan yang banyak ketika ia telah mempunyai kekuasaan.

Dalam hal ini, Abu Dzar RA berkata, ”Aku bertanya,” Wahai Rasulullah SAW, maukah engkau mengangkatku memegang satu jabatan?” kemudian Rasulullah saw menepuk bahuku dengan tangannya sambil bersabda:

”Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau ini lemah dan sesungguhnya itu (jabatan) adalah amanah. Dan, sesungguhnya ia pada hari kiamat menjadi kesengsaraan dan penyesalan, kecuali yang mengambilnya dengan haqnya dan menyempurnakan apa yang menjadi wajib keatasnya dan di atas jabatan itu.”

Seorang pemimpin juga harus memberikan pemahaman kepada anggotanya bahwa amanah yang dipikul ini akan dipertanggungjawabkan diakhirat kelak. Apakah ketika mengemban amanah pernah mendzolimi orang atau tidak. Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda:

”Apabila seorang hamba (manusia) yang diberikan kekuasaan rakyat mati, sedangkan di hari matinya ia telah mengkhianati rakyatnya, maka Allah swt mengharamkan surga kepadanya.” (muttafaqun ’laih)

Tidak hanya seorang pemimpin, sebagai bahawan pun mempunyai adab dan kewajiban yang harus dilakukan kepada pemimpin yang memimpinnya.dimana bawahan harus taat pada pemimpin yang Islami: Nabi SAW bersabda,  “Barang siapa yang taat kepadaku maka ia telah taat kepada Allah SWT, dan barang siapa yang tidak taat kepadaku maka berarti tidak taat kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada pimpinan (yang sunnah) maka berarti ia telah taat kepadaku, dan barangsiapa yang tidak taat kepada pimpinan (yang sunnah) maka berarti ia telah tidak taat kepadaku.”

Allah SWT berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا ٥٩

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Menjaga amanat dan berlaku adil sangatlah penting Allah memerintahkan untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya , sebagaimana dalam riwayat Imam Ahmad . Dari sahabat Samuroh ra. Rosulullah SAW  bersabda, “ Tunaikanlah amanat kepada orang yang memberikan amanat padamu dan janganlah berkhianat terhadap orang yang mengkhianatimu”.

Perintah ini menyangkut seluruh amanat yang wajib dilaksanakan manusia berupa hak-hak Allah Swt. seperti sholat, zakat, puasa, kifarat (penebusan dosa), nadlar, dan lain-lain, yang merupakan amanatnya dan tidak diketahui hamba yang lain.

Amanat itu juga menyangkut hak sesama manusia , seperti titipan-titipan dan sebagainya, yang merupakan amanat sesama mereka tanpa ada bukti yang bisa ditunjukkan. (kuliah islam)