7 Sikap Kedurhakaan Istri Dalam Hal Perbuatan (4)

7 Sikap Kedurhakaan Istri Dalam Hal Perbuatan (4)

Yang Wajib Diketahui Oleh Seorang Istri

Lanjutan Sebelumnya ;

  1. Meninggalkan Rumah Suami Tanpa Seizinnya

Pernahkah kalian (wanita) terjebak pada kondisi hati merasa tidak nyaman disebabkan persoalan dengan rumah tangga yang tak kunjung selesai? Suami kurang perhatian, suasana rumah yang tidak menyenangkan, penghasilan yang kurang, rutinitas harian yang bikin jenuh, perlakuan kasar suami, dan masih banyak lagi lainnya.

Dalih-dalih tersebut tidak jarang kita gunakan untuk mengambil jalan pintas, yaitu kabur dari rumah suami alias minggat atau meninggalkan rumah suami tanpa seijinnya. Jalan keliru ini dianggap solusi jitu yang digemari sebagian kaum wanita. Begitu pintarnya setan menggoda, sehingga kitapun sering kali tidak sadar meski telah masuk jebakannya.

Sehingga kita legalkan tindakan buruk ini dengan alasan klise, merasa terdzalimi. Padahal sejatinya justru seorang istrilah yang mendzalimi suami. Andaikan suami benar-benar berbuat dzalim sekalipun, tidak dibenarkan bagi seorang istri untuk melakukan tindakan tersebut, apalagi hanya sekedar untuk memuaskan diri atau untuk memberinya pelajaran. Bagaimanapun juga antara hak suami terpenting yang harus ditunaikan oleh istrinya adalah tidak meninggalkan rumahnya tanpa seizinnya.

Baca Juga :

Mari kita simak riwayat dari Ibnu Umar ra berikut: Telah datang seorang wanita kepada Rasulullah Saw, diapun bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah hak seorang suami atas istrinya?”

Beliau bersabda, “Hak suami atas istrinya adalah tidak menolaknya saat suami menghendaki dirinya, meskipun dia sedang berada di atas onta”.

Wanita tersebut bertanya lagi, “Lalu apalagi hak suami atas istrinya?”

Beliau bersabda, “Hendaklah seorang istri tidak berpuasa tanpa seizin suaminya, kecuali puasa yang wajib. Jika dia mengerjakannya, maka dia berdosa dan tidak akan diterima darinya puasanya”.

Wanita tersebut bertanya lagi, “Lalu apalagi hak suami atas istrinya?”

Beliau menjawab, “Hendaklah seorang istri tidak mensedekahkan harta dari rumah suaminya, tanpa seizinnya. Jika dia melakukannya maka pahala bagi suaminya dan dosa baginya”.

Wanita tersebut bertanya lagi, “Lalu apalagi hak suami atas istrinya?”

Beliau menjawab, “Hendaklah seorang istri tidak meninggalkan rumah tanpa seizin suaminya. Jika dia melakukannya, maka para malaikat Allah, malaikat Rahmat dan malaikat Ghadhab akan melaknatnya hingga dia bertaubat dan kembali”. (HR. Abu Dawud)

Persoalan berikutnya adalah, jika seorang istri meminta izin pada suami hendak keluar rumah tetapi suami tidak mengijinkannya, apakah dibenarkan dia tetap pergi meninggalkan rumah?

Tentu saja tidak benar. Seandainya suami tidak mengizinkan, maka istri wajib menaati suaminya.

Dikisahkan, ada seorang sahabiyah ditinggal bepergian oleh suaminya. Sebelum pergi sang suami berpesan, “Janganlah sekali-kali meninggalkan rumah sampai aku kembali”. Ternyata selama kepergian suaminya wanita ini menerima kabar bahwa ibunya sakit keras. Dia kebingungan tentang apa yang harus dikerjakan; menengok ibunya yang otomatis melanggar pesan suami atau sebaliknya tetap menaati suami tidak meninggalkan rumah tetapi tidak mengetahui keadaan ibunya.

Baca Juga :

Diapun menghadap Rasulullah Saw untuk mencari pemecahan persoalan yang tengah dihadapinya. Maka Rasulullah menasihati, “Kembalilah kerumah suamimu dan taatilah dia!” Sang istri inipun menaati saran Nabi Saw.

Selang beberapa waktu, datang berita bahwa ibunya meninggal dunia. Wanita itupun semakin kebingungan dan kembali mengadukan masalahnya kepada Rasulullah Saw. Nabi Saw menasihatinya sebagaimana yang pertama kali. Wanita itu menuruti saran Beliau meski dirinya sangat sedih tidak dapat bertemu dengan ibu untuk terakhir kali.

Iman telah menuntun dirinya meraih keselamatan dan surga-Nya. Maka Rasulullah Saw memujinya dan memberinya kabar gembira dengan surga.

Meski kasus diatas sangat jarang terjadi dan setiap kaum wanita berharap mudah-mudahan tidak mengalaminya, untuk kasus yang lebih ringan bisa saja menimpa kita dan solusinya mungkin saja agak mirip. Tapi apa iya harus seperti itu? Apa tidak ada cara lain?

Jawaban dari persoalan ini mestinya adalah komunikasi.

Ya, semacam seni dan kemampuan membangun komunikasi terbuka dan realtime bagi pasangan suami istri. Bukankah itu manjadi syarat hubungan keduanya semakin harmonis?

Di era globalisasi ini apa yang tidak dapat dikomunikasikan? Berbagai kemudahan mengelilingi kita dan dapat kita peroleh dengan biaya yang tidak mahal. Hubungan yang harmonis mengantarkan kita pada sikap saling mengerti.

Baca Juga :

Sikap inilah yang dapat mendudukkan masalah pada posisi yang semestinya. Tidak ada yang merasa yang mendominasi atau didominasi. Yang ada hanya perasaan saling membutuhkan, saling mengisi, saling memberi dan saling menyayangi.

Kesanggupan membangun komunikasi sudah tentu mewajibkan masing-masing mampu menekan egoisme. Karena faktor inilah penghambat yang dominan. Hasilnya pun tidak akan sia-sia. Kebahagiaan berumah tangga dapat kita raih, anak-anak bangga punya orang tua macam kita, dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat pun insya Allah dapat terjamin. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Dosa-Dosa Yang Digemari Wanita Indonesia, Siswati Ummu Ahmad, 2014