7 Sikap Kedurhakaan Istri Dalam Hal Perbuatan (2)

7 Sikap Kedurhakaan Istri Dalam Hal Perbuatan (2)

Yang Wajib Diketahui Oleh Seorang Istri

Lanjutan Sebelumnya ;

  1. Membiarkan Suami Menyetubuhi Duburnya

Di antara dosa wanita yang sering diabaikan adalah membiarkan suami menyetubuhi duburnya. Padahal ini termasuk perbuatan dosa yang terlarang dan haram hukumnya. Rasulullah Saw bersabda:

اتيان النساء فى ادبارهن حرام

Mendatangi istri di duburnya adalah haram hukumnya”. (HR. An-Nasai)

استحيوا من الله حق الحياء لا تأتوا النساء فى ادبارهن

Hendaklah kalian malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu, sesungguhnya Allah tidak malu dari kebaikan. Janganlah kalian mendatangi istri-istri kalian di dubur mereka”. (HR. An-Nasai dan Al-Bazzar)

Masih banyak hadis-hadis lain yang menunjukkan makna serupa. Istri memang ladang bagi suami yang harus siap ditanami kapanpun suami menghendaki. Tetapi harus diperhatikan bahwa mendatangi atau mencampuri istri wajib di tempat yang semestinya, karena Allah memang telah memerintahkan demikian.

Baca Juga :

Allah Swt berfirman:

وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡمَحِيضِۖ قُلۡ هُوَ أَذٗى فَٱعۡتَزِلُواْ ٱلنِّسَآءَ فِي ٱلۡمَحِيضِ وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطۡهُرۡنَۖ فَإِذَا تَطَهَّرۡنَ فَأۡتُوهُنَّ مِنۡ حَيۡثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ ٢٢٢

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”. (QS. Al-Baqarah: 222)

Mendatangi istri dari arah manapun yang disukai oleh suami bukan berarti membolehkannya memasukkan penis ke dubur istrinya. Maksud yang sesungguhnya adalah suami punya kebebasan untuk menggauli istrinya dengan teknik apapun yang disukainya, tetapi saat menanam benih harus di tempat yang tepat.

Apabila sang suami memaksa melakukannya, maka suami telah bermaksiat kepada Allah dan tidak ada kewajiban bagi istri menaatinya. Sebab tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam melakukan kemaksiatan kepada Allah Swt.

  1. Membiarkan Suami Menyetubuhinya Pada Saat Haid

Seorang istri dianggap telah berdosa jika membiarkan suami menyetubuhi dirinya saat dia sedang haid. Allah Swt sangat tegas melarang perbuatan tersebut melalui firmannya:

وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡمَحِيضِۖ قُلۡ هُوَ أَذٗى فَٱعۡتَزِلُواْ ٱلنِّسَآءَ فِي ٱلۡمَحِيضِ وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطۡهُرۡنَۖ فَإِذَا تَطَهَّرۡنَ فَأۡتُوهُنَّ مِنۡ حَيۡثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ ٢٢٢

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”. (QS. Al-Baqarah: 222)

Baca Juga :

Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa mendatangi dukun dan membenarkan apa yang dikatakannya, atau mendatangi (menyetubuhi) istri yang sedang haid, atau mendatangi istri di duburnya, maka dia telah terlepas dari apa yang telah diturunkan Allah kepada Muhammad”. (HR. Abu Dawud)

Imam Ghazali dalam Ihya’nya mengatakan, “Janganlah suami menyetubuhi istri yang sedang haid dan juga jangan sesudah haid sebelum si istri menyempurnakan mandi wajib terlebih dahulu, karena yang demikian itu diharamkan dengan dalil Al-Qur’an”.

Imam Nawawi mengatakan, “Ulama Syafi’iyah berpendapat apabila perempuan yang haid itu sudah kering darahnya sedangkan dia belum mandi janabah, maka terangkatlah beberapa perkara yang diharamkan baginya seperti puasa, talak dan dhihar. Adapun shalat, thawaf, sujud tilawah dan sujud syukur, i’tikaf, memegang dan membaca al-Qur’an tetap dilarang hingga dia mandi janabah. Begitu juga dengan bersetubuh dan mubasyarah (menyentuh) kawasan antara pusat dan lutut”.

Syaikh Zakaria al-Anshari mengatakan, “Sebagaimana di haramkan bersetubuh pada akhir waktu haid, diharamkan juga bersetubuh setelah darah haid berhenti atau kering sebelum mandi janabah”.

Ulama Jumhur mengatakan, “Bersetubuh dengan perempuan yang haid sekalipun darahnya sudah berhenti adalah haram sehingga dia mandi janabah ataupun bertayammum jika ada halangan. Begitu juga dengan mubasyarah (menyentuh kawasan antara pusar dan lutut”. (ir/kuliahislam)

Baca Selanjutnya Ke Bagian 3 –> –> –>

Sumber : Dosa-Dosa Yang Digemari Wanita Indonesia, Siswati Ummu Ahmad, 2014