5 Wajib Haji

5 Wajib Haji

Perkataan “wajib” dan “rukun” biasanya berarti sama, akan tetapi dalam urusan haji ada perbedaan sebagai berikut:

Rukun merupakan sesuatu yang tidak sah haji melainkan dengan melakukannya, dan ia tidak boleh diganti dengan “dam” atau denda (menyembelih binatang).

Baca Juga:

Wajib merupakan sesuatu yang perlu dikerjakan, tetapi sahnya haji tidak bergantung padanya, dan boleh diganti dengan menyembelih binatang.

Jadi dari pengertian diatas dapat kita ketahui bahwa wajib yang dimaksudkan disini adalah suatu perbuatan yang bila tertinggal, maka wajib membayar fidyah dan mendapat dosa apabila tanpa udzur ketika meninggalkannya (I’anah dalam Thalibin Juz 2 Hal. 341 Darul Fikr) dalam Fathul Mu’in.

Adapun kewajiban haji antara lain:

  1. Ihram dari miqat (batas tempat mulai ihram).

Ketentuan masa (miqat zamani) ialah dari awal bulan syawal sampai terbit fajar hari Raya Haji atau Idul Adha (tanggal 10 bulan haji). Jadi ihram haji waji dilakukan dalam masa dua bulan 9 ½ hari.

Baca Juga:

Firman Allah Swt:

al baqoroh 197

 

 

 

 

Artinya: Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barang siapa mengerjakan ibadah haji dalam bulan-bulan itu, maka janganlah rafats, berbuat maksiat, dan bertengkar dalam melakukan ibadah haji. segala yang baik yang kamu kerjakan allah swt mengetahuinya. bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa. dan bertaqwalah kepadaku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat”. (Al-Baqarah:197).

Sedangkan ketentuan tempat (miqat makani) antara lain:

  • Makkah

Bagi penduduk Makkah, miqat hajinya dari tempatnya sendiri. Berarti orang yang tinggal di Makkah hendaklah ihram dari rumahnya masing-masing.

  • Zul-Hulaifah

Miqat haji dan umrah bagi pendatang dari Madinah dan negeri-negeri yang sejajar dengan Madinah.

  • Juhfah

Miqat haji (tempat mulai ihram) orang yang dating dari arah Syam, Mesir, Magribi, dan negeri-negeri yang sejajar dengan negeri-negeri tersebut. Juhfah adalah nama suatu kampong di antara Makkah dan Madinah.

Kampung tersebut sejarang telah rusak atau roboh, kampung yang dekat padanya ialah Rabig. Orang-orang yang datang dari negeri-negeri tersebut sekarang mulai ihram apabila mereka telah melalui atau sejajar dengan Rabig.

  • Yalmlam

Yalamlam adalah nama suatu bukit dari beberapa bukit Tuhamah. Bukit ini adalah miqat orang yang datang dari arah Yaman, India, Indonesia, dan negeri-negeri yang sejajar dengan negeri-negeri tersebut.

Orang-orang yang datang dari Indonesia dan India, apabila kapal mereka telah setentang dengan bukit Yalamlam, mereka telah wajib ihram.

  • Qarnul Manaazil

Qarnul manaazil adalah nama sebuah bukit, jauhnya kira-kira 80,640 km dari Makkah. Bukit ini merupakan miqat orang yang datang dari arah Najdil-Yaman dan Najdil-Hijaz serta orang-orang yang datang dari negeri-negeri yang sejajar dengan itu.

  • Zatu ‘irqin

Zatu ‘irqin adalah nama kampong yang jauhnya kira-kira 80,640 km dari mekah. Kampung ini merupakan miqat (tempat ihram) orang yang datang dari Irak dan negeri-negeri yang sejajar dengan itu.

  • Bagi penduduk negeri-negeri yang ada di antara Makkah dan miqat-miqat tersebut, miqat mereka ialah negeri masingmasing.

Miqat untuk para pendatang yang tidak melewati miqat-miqat tersebut bila terdapat persejajarannya di darat maupun di laut. Kalua tidak terdapat, maka dari arah Yaman, miqatnya dari Syi’bil Muharram yang bersejajaran dengan Yalamlam.

Ia tidak boleh menunda ihram hingga masuk Jeddah. Lain halnya menurut fatwa guru kita yang memperbolehkan penundaan tersebut, dengan alasan bahwa jarak Jeddah ke Makkah sama dengan Yalamlam sampai Makkah.

Apabila baru mulai ihram setelah lewat miqatnya sekalipun karena lupa atau tidak mengetahui, maka wajib membayar dam selama tidak mengulanginya kembali dari miqat yang bersangkutan sebelum tersela-selai dengan nusuk sekalipun berupa thawaf qudum. Dan berdosa bila hal tersebut dilakukan oleh selain orang lupa atau tidak mengetahui.

  1. Bermalam hari di Muzdalifah

Bermalam di muzdalifah sekalipun hanya sejenak, waktunya dimulai setelah tengah malam setelah tanggal 10 Dzulhijjah.

  1. Bermalah hari di Mina

Memang, jika setelah berangkat (ke Makkah) sebelum tenggelam matahari tanggal 12 Dzulhijjah, maka telah cukup dan gugurlah kewajiban bermalam hari di Mina tanggal 13 nya serta melontar jumrah di siang harinya.

Sesungguhnya bermalam di Mina tersebut adalah bagi selain para penggembala dan para petugas air minum.

  1. Thawaf wada’

Thawaf wada’ merupakan thawaf perpisahan atau thawaf yang di lakukan sewaktu akan meninggalkan Makkah.

Thawaf ini dilakukan oleh semua jama’ah haji kecuali orang yang haidl dan orang Makkah yang tidak akan ke luar Makkah seusai hajinya.

  1. Melontar Jumrah

Melontar Jumrah Aqobah 7 kali setelah habis tengah malam tanggal 10 Dzulhijjah dan juga melontar 3 jumrah masing-masing 7 kali setelah zawal disetiap hari Tasyriq dengan tertib.

Adapun 3 jumrah tersebut yaitu Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah.

Pelontaran tersebut dilakukan memakai apa saja yang disebut batu, sekalipun batu akik atau permata balur.

Apabila pada suatu hari tidak melakukan pelontaran jumrah (sedangkan belum berangkat ke makkah), maka wajib menambalnya pada hari-hari Tasyriq berikutnya.

Kalua tidak, maka wajib membayar dam atau denda sebab telah meninggalkan melontar 3 jumrah atau bahkan lebih.

Kewajiban-kewajiban haji bisa di tambal dengan dam. Kewajiban ini disebut juga dengan Ab’adl. (novia_khil/kuliahislam).

SUMBER:

Rasjid, Sulaiman. 2018. Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari. Fathul Mu’in. diterjemahkan oleh Hakim, Fikril & Abu Sholahuddin. 2014. Jawa Timur: Lirboyo Press.

tafsiralquran