4 Agama yang Mempunyai Syariat Puasa

4 Agama yang Mempunyai Syariat Puasa

Apakah benar selain agama islam, juga ada agama lain yang juga berpuasa????

Agar lebih jelas baca yuk artikelnya….

Sebagian orang apabila ditanya tentang agama maka jawabannya adalah pegangan hidup yang dianutnya yang memberikan kedamaian (Baharuddin, 2013: 73).

Sebagian negara yang ada didunia pasti mempunyai agama yang beraneka ragam seperti agama islam, nasrani, yahudi, dan buddha.

Agama-agama tersebut tentunya mempunyai syariat yang sudah ditentukan, dan tidak menutup kemungkinan apabila syariat atau ajaran mereka sama dengan agama satu dengan agama lain, salah satu syariat yang sama dalam beberapa agama adalah puasa.

Adapun agama yang mempunyai syariat untuk berpuasa antara lain:

1. Agama Buddha

Agama tersebut berasal dari anak benua India yang mempunyai beragam tradisi, kepercayaan, dan praktik spiritual yang sebagian besar berdasarkan pada ajaran yang dikaitkan dengan Siddartha Gautama (Wikipedia, 2018).

Agama Buddha biasanya dikenal dengan sebutan Buddha Dhamma. Seluruh ajaran sang Buddha merupakan ajaran yang membahas tentang hukum kebenaran mutlak (artikelbuddhist, 2011).

Budha mempunyai beberapa kelompok diantaranya kelompok Buddhisme merupakan kelompok yang mewajibkan pengikutnya untuk puasa terus menerus, mereka hanya makan sekali di waktu pagi (duha). Puasa tersebut berlangsung sepanjang hayatnya.

Selanjuutnya kelompok Buddha Yosato mereka mewajibkan kebiksuan atas pengikutnya, selain diwajibkan menjauhi wanita.

Para biksu Buddhisme telah menggariskan puasa 4 kali setiap bulan kamariah. Hari pertama, hari ke 9, hari 15, hari ke 22 yang kemudian ditambah lagi dengan hari penutup musim hujan (Arake, 2014: 73-74).

2. Agama Yahudi

Agama Yahudi (yudaisme) adalah kepercayaan untuk bangsa Yahudi (penduduk negara Israel maupun orang Yahudi yang bermukim diluar negeri).

Mereka percaya bahwa wujudnya Tuhan Yang Maha Esa, pencipta dunia yang menyelamatkan bangsa Israel dari penindasan-penindasan sebelumnya (Wikipedia, 2018).

Adapun kaum bani Israil. Mereka hanya berpuasa (wajib) sehari saja dalam setahun yakni pada hari “al-Gufran atau pengampunan” karena mereka menganggap bahwa itulah satu-satunya puasa yang diwajibkan Allah Swt untuk mereka.

Selain dari bentuk puasa yang mereka lakukan, hukumnya sunnah.

Mereka melakukan puasa sebelum terbenamnya hari kesembilan dari awal tahun Ibrani yang dikenal dengan term (tisyriy) sekitar seperempat jam sampai setelah terbenamnya hari kesepuluh sekitar seperempat jam yang pada dasarnya tidak lebih dari 25 jam berturut-turut.

Mereka menyebutnya hari (al-Kabur) yakni hari Asyura’ orang-orang Yahudi, hal tersebut masih dilaksanakan sampai sekarang (Arake, 2014: 119).

3. Agama Nasrani

Salah satu syariat Katolik adalah “puasa dan pencegahan diri dari makanan daging dan produksi hewan“. Adapun Teksnya adalah “Kerjakanlah puasa besar dan seluruh puasa-puasa lainnya yang diwajibkan“.

Puasa tersebut dalam Katolik dimulai dari pertengahan malam sampai pertengahan siang. Selama waktu itu berlangsung tidak diperbolehkan makan dan minum.

Orang-orang Katolik tidak pasti melakukan puasa hari sabtu dan hari ahad serta hari-hari raya yang datang pada saat hari-hari puasa, karena orang-orang Katolik menjadikan puasa hari sabtu sebagai ibadah yang diangkat untuk Maryam (Arake, 2014: 155).

  • Protestan

Protestan memandang bahwa puasanya Almasih yang 40 tersebut merupakan khusus baginya.

Akan tetapi, mereka tetap mengatakan bahwa puasa tersebut adalah hal yang dianjurkan (mahbub) dan merupakan ritual yang sangat tinggi.

Prinsip inilah yang dijadikan pegangan oleh mereka, lalu membatalkannya sebagai hal yang “wajib“ serta menyatakan bahwa puasa tersebut adalah “keinginan semata“,

kemudian diyakini oleh semua Protestan, baik yang ada di timur maupun yang ada di barat (Arake, 2014: 167-168).

4. Agama Islam

Rasulullah Muhammad Saw dan para sahabatnya berpuasa sebelum turunnya ayat al-Qur’an sebagai penegas wajibnya puasa Ramadhan. Para ulama fikih dan tafsir sepakat tentang adanya puasa tersebut.

Hanya saja mereka berbeda pendapat tentang hukum puasa itu sendiri apakah wajib atau sunnah. Selain itu puasa tersebut tidak ada perbedaan seperti hukum puasa Asyura’ dan puasa 3 hari setiap bulannya.

Kemudian setelah itu dipertegas lagi dengan penegasan adanya seruan secara umum dari Rasulullah Saw. Selain itu, juga dipertegas dengan adanya perintah bagi yang telah makan agar senantiasa menahannya atau berpuasa.

Dengan adanya perintah terhadap para ibu untuk tidak menyusukan anaknya pada waktu itu. Ibnu Mas’ud ra. mengatakan bahwa Allah swt telah mewajibkan Puasa Ramadhan (Arake, 2014: 188, 190).

Sebelum pelaksanaan puasa Ramadhan tentunya harus memperhatikan beberapa hal antara lain:

setelah memenuhi hal-hal diatas, diharapkan puasa yang dijalankan sah, mendapatkan pahala berlipat ganda dan juga diridhoi oleh Allah swt. (novia_khil/kuliahislam)

 

SUMBER:

Amar, Imron Abu. 1984. Fathul Qorib Al-Mujiib (Terjemah). Kudus: Menara Kudus.

Arake, Lukman. 2014. Sejaran Puasa (Dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW). Makassar: Pustaka Literasi.

Baharuddin. 2013. Relasi antara Science dengan Agama. Seminar Nasional.

Artikelbuddhist.

Wikipediaagamayahudi.

wikipediaagamabuddha.

alif (image)