2 Syarat Menunaikan Zakat

2 Syarat Menunaikan Zakat

Zakat merupakan termasuk rukun islam yang ketiga, dengan hal tersebut secara tidak langsung zakat sesuatu kegiatan yang harus dilaksanakan tiap-tiap orang muslim Karena daripada itu zakat hukumnya fardhu ‘ain atas tiap-tiap orang yang cukup syarat-syaratnya.

Syarat menunaikan zakat ada dua, Antara lain:

  1. Niat

Niat didalam hati, bukan niat dengan ucapan, misalnya “inilah zakat hartaku” sekalipun tidak menyebut sebagai fardhu, sebab zakat sudah berarti fardhu, atau “inilah sedekah fardhu” atau “inilah fardhu hartaku”, karena kefardhuan harta itu bisa berupa kaffarah atau bisa juga nadzar.

Dalam berniat tidak wajib menentukan harta yang dikeluarkan zakatnya, kalau pun menentukannya, maka zakat yang dikeluarkan tidak bisa melimpah untuk yang lain sekali pun yang ditentukan itu ternyata rusak, karena tidak diniatkan zakat itu untuk harta yang lain tersebut.

Dari sini bisa diketahui, kalua ia berniat “bila harta tersebut rusak, maka untuk zakat yang lainnya” dan ternyata rusak, maka zakat bisa melimpah untuk selainnya.

Lain halnya jika ia berkata “inilah zakat hartaku yang tidak ada di tempat jika masih ada dan jika telah rusak maka ini sedekah”, dan ternyata hartanya telah rusak, maka menjadi sedekah atau ternyata masih ada, maka menjadi sebagai zakatnya.

Apabila sesorang yakin terkena kewajiban zakat, tapi ragu apakah sudah membayarkannya, lalu ia mengeluarkan harta dan berniat “jika saya masih terkena kewajiban zakat, maka inilah zakat itu, dan jika tidak, maka ini sebagai sedekah sunnah”,

Jika ternyata masih berkewajiban zakat cukuplah harta itu, kalau tidak, maka menjadi sedekah sunnah.

Tidaklah cukup sebagai zakat secara pasti, bila orang memberikan harta kepada mustahiqiin dengan tanpa niat zakat.

Tidaklah disyaratkan membarengkan niat dengan penyerahan harta bahkan telah cukup bila sudah berniat sebelum menyerahkan zakat, yaitu dikala memisahkan harta zakat dari yang dikeluarkan zakatnya, atau dilakukan dikala menyerahkan kepada wakil atau imam.

Yang lebih utama bagi wakil atau imam, hendaknya berniat lagi sewaktu membagi-bagikan zakat yang ia terima itu. Atau (telah cukup) juga bila niat telah dilakukan setelah memisahkan harta zakat dari yang dizakati atau setelah menyerahkannya kepada wakil.

Tapi sebelum dibagi-bagikan, karena sulitnya membarengkan niat dengan penyerahan zakat kepada yang berhak menerimannya.

Baca Juga:

Bila seseorang berkata kepada temannya “sedekahkanla harta ini” kemudian berniat zakat sebelum harta tersebut dibagi-bagikan, maka cukuplah sebagai zakatnya.

Bila berkata kepada orang lain “ambillah piutangku dari si Fulan dan itu sebagai zakatku kamu miliki”, maka belum cukup, kecuali kalua sampai pada tangannya dan ia niatkan sebagai zakat, lalu mempersilahkan orang yang diperintah tadi untuk mengambilnya.

Sebagian ulama’ mengeluarkan fatwa: “sesungguhnya mewakilkan untuk mengeluarkan zakat secara mutlak adalah berarti mewakilkan pula dalam niat penzakatannya”. Dalam hal tersebut “di sini perlu diteliti, bahkan yang beralasan adalah bahwa pemilik zakat wajib berniat atau menyerahkan perniatannya pada wakil”.

Al Mutawakkil dan lainnya berkata: wakil wajib berniat bila kefardhuan zakat muwakkil justru menggunakan harta wakil, misalnya mukkli berkata kepada wakil “tunaikanlah zakatku dengan mengambil hartamu”, agar memperuntukkan perbuatannya itu untuk muwakkil.

Baca Juga:

Ucapan muwakkil seperti tersebut, mengandung arti mengizinkan peniatan zakat kepada wakil. Al qaffal berkata: “bila sesorang berkata kepada temannya “hutangilah saya lima dan saya bayarkan sebagai zakatku” ”, lalu temannya pun menuruti, maka sahlah zakatnya.

Wajib bagi wali meniatkan zakat harta anak kecil atau orang gila. Bila sang wali itu telah mentasarufkan zakatnya tanpa meniatkannya, maka wajiblah menanggung gantinnya lantaran kecerobohannya.

Bila pezakat menyerahkan zakatnya kepada Imam dengan tanpa niat dan ia juga tidak mengizinkan Imam untuk meniatinya, maka tidak mencukupi niatnya imam dari orang yang berzakat tersebut.

Akan tetapi telah cukup niatnya imam sebagai zakat yang mengambil zakat secara paksa dari orang yang enggan membayarkannya, sekalipun pemilik harta sendiri tidak berniat zakat.

  1. Zakat diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimannya (mustahiqqin) yaitu mereka yang termasuk di dalam 8 golongan manusia seperti yang disebutkan dalam ayat 60 surat At Taubah:

attaubah ayat 60

Artinya: ”sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang faqir, miskin, para amil zakat, para muallaf, budak, orang-orang yang berhutang, sabilillah dan ibnu sabil, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha mengetahui, Maha Bijaksana” (Q.S. At Taubah: 60). (novia_khil/kuliahislam).

Baca Juga:

SUMBER:

Rasjid, Sulaiman. 2018. Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari. Fathul Mu’in. diterjemahkan oleh Hakim, Fikril & Abu Sholahuddin. 2014. Jawa Timur: Lirboyo Pres.

theonlyquran.

jambitribunnews(image).