2 Rukun Puasa dan 9 Hal Penyebab Batalnya Puasa

2 Rukun Puasa dan 9 Hal Penyebab Batalnya Puasa

Jangan lupa!!! Ketika ingin berpuasa ingat rukun puasa dan jangan sampai puasa kita batal karena beberapa hal ya…… 

Dalam syariat-syariat Islam seperti sholat, haji, puasa dan lain sebagainya, tentunya tidak asing lagi dengan yang namanya rukun.

Karena rukun merupakan sesuatu yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu pekerjaan, jadi untuk mengetahui puasanya sah atau tidak sah, maka salah satunya harus memperhatikan rukunnya terlebih dahulu

Adapun rukun puasa Ramadhan antara lain:

  1. Niat

Niat puasa Ramadhan merupakan pekerjaan ibadah yang diucapkan dalam hati dengan persyaratan dilakukan pada malam hari dan wajib menjelaskan kefarduannya didalam niat tersebut, contoh: saya berniat untuk melakukan puasa fardhu bulan Ramadhan.

Dalil yang menjelaskan niat puasa Ramadhan dilakukakn pada malam hari, nabi saw bersabda sebagai berikut:

Siapa yang tidak membulatkan niat mengerjakan puasa sebelum waktu hajar, maka ia tidak berpuasa”. (Hadits Shahih riwayat Abu Daud: 2098, al-Tirmidz: 662, dan al-Nasa’i: 2293).

  1. Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa ketika masih dalam keadaan ingat, biasa memilih (tidak ada paksaan) dan tidak bodoh yang ma’zur (dimaafkan).

Meninggalkan sesuatu yang bisa membatalkan puasa seperti makan dan minum atau bersetubuh dengan istri (di siang hari).

Membahas rukun puasa yang kedua tentunya secara tidak langsung berkaitan dengan penyebab  batalnya puasa.

Sebagian manusia terkadang lupa dengan kegiatan-kegiatan atau apapun yang dilakukan ternyata penyebabab puasa menjadi batal. Untuk lebih jelasnya simak penjelasan berikut.

Penyebab batalnya puasa antara lain:

  1. Memasukkan suatu benda dengan sengaja ke dalam lubang

Sesuatu yang membatalkan puasa adalah makan, minum dan segala sesuatu yang masuk melalui lubang pada anggota tubuh yang berhubungan (muttasil), seperti lubang mulut yang berhubungan dengan tenggorokan, usus, dan sampai ke lambung.

Cara memasukkan kedalam lubang  tersebut dengan unsur sengaja, jadi apabila perbuatan tersebut dilakukan tidak dengan sengaja maka tidak membatalkan puasa.

  1. Melakukan hubungan seksual dengan sengaja.

Hubungan seksual baik dilakukan dengan pasangan suami isteri atau bukan. Ketentuan melakukan hubungan dalam keadaan sadar dan sengaja.

  1. Mengobati kemaluan dan dhubur

Pengobatan yang dilakukan melalui dua jalan yaitu kemaluan dan dhubur atau kedua-duanya.

  1. Muntah disengaja

Muntah disengaja misalnya memasukkan jari kedalam rongga mulut sampai muntah-muntah, hal tersebut dapat membatalkan puasa.

Berbeda dengan muntah karena sakit, hal tersebut tidak membatalkan puasa karena muntahnya tidak disengaja.

  1. Keluar air mani sebab bersentuhan

Keluarnya mani karena bersentuhan (tanpa hubungan seksual) maka menyebabkan batalnya puasa, baik keluar dengan usaha tangan sendiri (mastur basi) atau menggunakan tangan seorang isteri yang halal.

Dengan kata lain, apabila keluar air mani tanpa bersentuhan semisal bermimpi basah maka puasanya tidak batal.

  1. Haid

Haid adalah darah yang keluar dari farjinya seorang perempuan yang berumur minimal 9 tahu, keluar darah tidak disebabkan luka atau hal apapun.

Akan tetapi sebagian orang terkadang menganggap bahwa darah yang keluar dari farji perempuan disebut darah haid tanpa mengetahui penyebab darah tersebut keluar.

Dengan hal tersebut kami membuat artikel khusus yang membahas darah haid

  1. Nifas

Nifas merupakan darah yang keluar dari kemaluan perempuan setelah proses melahirkan dengan rentang waktu sampai dua bulan.

Untuk lebih jelasnya bisa baca artikel tentang nifas.

  1. Gila

Gila juga salah satu penyebab batalnya puasa karena pada dasarnya gila merupakan penyakit yang berhubungan dengan saraf, yang membuat seseorang tidak sadarkan diri atau tidak normal

  1. Murtad

Merupakan seseuatu yang menyebabakan seseorang keluar dari keyakinananya, seperti tidak percaya adanya allah swt, tidak percaya bahwa nabi Muhammad saw utusan allah swt dan lain sebagainya. (novia_khil/kuliahislam)

 

SUMBER:

Amar, Imron Abu. 1984. Fathul Qorib Al-Mujiib (Terjemah). Kudus: Menara Kudus.

Sholih, Hasan. 2007. Risalatu Haidh. Jepara: Ponpes Al Ishlah Al Ishom

Nuonline.

masjidmpd (image)